Oleh: Doni Febriando, Mahasiswa Universitas Gajah Mada

foto:viva.co.id

foto:viva.co.id

Modern berbeda dengan “tidak berbudaya”. Justru pondasi kemodernan kita akan sangat kuat, kalau kita paham budaya. Dengan berbudaya, kita bisa siap menghadapi era globalisasi. Tidak ada pohon yang kokoh dengan akar yang rapuh. Tidak mungkin pohon beringin bisa hidup, kalau akarnya diganti akar pohon apel.

Negara Indonesia tertinggal jauh dengan negara Malaysia dan Singapura, apalagi dengan Jepang.  Salah satu penyebabnya adalah karena bangsa kita tidak tahu siapa jati dirinya. Banyak orang yang mengklaim dirinya “muslim modern” lantas tidak mau mempelajari ilmu-ilmu tua dari peradaban nusantara.

Kalau Anda ditakdirkan menjadi kambing, Anda sebaiknya mengembik atau berkokok? Kalau Anda ditakdirkan menjadi burung garuda, Anda sebaiknya terbang tinggi atau menceburkan diri ke danau? Kalau Anda adalah orang Indonesia yang beragama Islam, Anda sebaiknya jadi orang Arab Saudi atau orang Amerika Serikat?

Bangsa kita menjadi bangsa inferior adalah karena bangsa kita tidak sadar akan jati dirinya sendiri. Bangsa Indonesia sesungguhnya adalah bangsa pemenang, superior, dan memiliki peradaban tinggi.

Sebelum membahas, saya ingin menekankan satu hal penting. Tidak ada itu namanya “Indonesia” yang berdiri sendiri. Fakta yang ada adalah Indonesia-Jawa, Indonesia-Sunda, Indonesia-Minang, Indonesia-Bugis, Indonesia-Banjar, dan sebagainya. Indonesia hanyalah kesepakatan nama “paguyuban” semua elemen bangsa nusantara.

Bisa kita lihat (misalnya) Indonesia-Sunda. Ciri-ciri tingginya peradaban suatu entitas masyarakat adalah melalui pengamatan tata bahasanya. Suku Sunda adalah suku yang memiliki peradaban yang tinggi. Orang Sunda sangat sistematis dan cermat membahasakan suatu fenomena.

Kalau peristiwa jatuh ke belakang, orang Sunda menamainya ngajengkang. Kalau peristiwa jatuhnya dari atas, orang Sunda menamainya murag. Kalau jatuhnya ke arah depan, dinamai tikusruk. Kalau jatuhnya terjungkal, dinamai ngajungkel. Kalau jatuhnya tersandung, dinamai tikosewad. Kalau sehabis jatuh lalu seperti meluncur, dinamai ngagolosor. Kalau jatuh ke dalam sebuah lubang, dinamai tigebrus. Kalau jatuhnya terpeleset, orang Sunda menamainya tisoledat.

Agar lebih mudah memahami maksud saya, bayangkan saja kalkulator. Kalau ada sebuah kalkulator punya tombol rumusan perintahnya sedikit, itu kalkulator unggulan atau tidak? Kalau ada sebuah kalkulator punya tombol rumusan perintahnya sangat banyak, itu kalkulator unggulan atau tidak? Kita bisa menilai kalkulator yang juga bisa menghitung rumusan sin, cos, tan, dan sebagainya, pasti lebih mahal daripada kalkulator yang hanya bisa menghitung rumus pengurangan, penjumlahan, perkalian dan pembagian saja. 

Kalau Anda adalah orang Sunda, Anda jangan ingin kebarat-baratan, karena orang Amerika Serikat hanya mengenal kosakata fall. Mau Anda kepleset, Anda terjungkal, atau Anda jatuhnya ke arah belakang, Anda disebut orang Amerika Serikat sedang fall. Peradaban Nusantara-Sunda lebih unggul.

Lagipula, kalau Anda ingin menjadi manusia modern lantas kebarat-baratan, atau Anda ingin menjadi manusia agamis lantas kearab-araban, berarti Anda sedang ingin menentang takdir Allah. Menghormati budaya sama artinya dengan kita menghormati Allah.

Urip iku mung mampir ngombe

Karena saya asli orang Indonesia-Jawa, saya bisanya cuma menerangkan kebudayaan Jawa. Dalam perbendaharaan ilmu-ilmu tua di dalam Peradaban Nusantara-Jawa, ada sebuah ilmu kebijaksanaan yang berbunyi; urip iku mung mampir ngombe (hidup itu seperti cuma mampir minum saja).

Bagi manusia nusantara yang non-Jawa, biasanya kalimat tersebut hanya ditafsirkan “hidup ini hanya sebentar, maka hiduplah sederhana.” Tidak salah, tapi kurang lengkap. Sebagai orang Jawa asli, saya akan coba terangkan versi yang lebih lengkapnya.

Namanya ilmu tua, kita harus membaca teks tersebut berdasarkan konteks zaman dahulu. Tidak mungkin para leluhur saya membuat perumpamaan (misalnya) urip iku mung kaya numpak pesawat rute Jakarta-Surabaya (hidup itu seperti naik pesawat rute Jakarta-Surabaya). Jadi, Anda jangan suka menafsirkan suatu bacaan hanya berdasarkan aspek tekstualnya saja, tapi dilihat pula konteks zaman bacaan tersebut dibuat.

Maksud perumpamaan mung mampir ngombe (cuma mampir minum) di kalimat bijak itu apa? Bisa kita pahami, kalau kita paham konteks zaman para leluhur suku Jawa. Sebenarnya konteks minum air di dalam kalimat tersebut bukan minum pakai gelas di atas meja makan seperti zaman sekarang.

Zaman dulu, setiap rumah penduduk suku Jawa, di pekarangannya ada semacam kendi kecil (tempat air minum). Berisi air putih yang bersih dan matang. Karena zaman dulu tidak ada motor, dan tidak semua orang punya kuda, maka “alat transportasi” orang Jawa adalah kedua kakinya sendiri. Kebanyakan mereka adalah pejalan kaki. Lazimnya, mereka nenek moyang dulu adalah sosok yang ikhlas dan tidak pamrih. Setiap pejalan kaki yang kelelahan dalam perjalanan boleh mampir berteduh di bawah pohon pekarangan dan sudah disediakan kendi air. Siapapun yang melewati rumah tersbut, boleh meminum air secara gratis. Agar tidak merepotkan si pemilik rumah dan si pejalan kaki itu sendiri, kendi air itu diletakkan di pekarangan rumah bagian depan yang menjorok ke jalan. Jadi, si pejalan kali tidak perlu repot basa-basi pada tuan rumah, dan boleh langsung minum.

Namanya juga mampir, maka tidak akan lama. Itulah filosofi pertama dari kalimat urip iku mung mampir ngombe, yaitu hidup itu hanya sementara, makanya hiduplah secara sederhana saja. Kalau Anda seorang pejabat atau pengusaha, punya mobil satu-dua saja. Insya Allah tetap bahagia. Tapi, kalau Anda mentang-mentang seorang pejabat atau pengusaha, ingin “pengukuhan status” dengan punya belasan mobil, pasti kualitas hidup Anda rusak parah. Para leluhur suku Jawa sudah memperhitungkan dengan cermat, kalau sikap suka berlebih-lebihan bisa mengakibatkan bencana sosial.

Filosofi  yang lain — dari perlambang alat untuk ngombe (minum) tersebut- – kendi itu terbuat dari tanah liat dan isi kendi adalah air putih. Kalau digabungkan, hendaknya setiap manusia mencintai tanah airnya. Dalam mencintai pun sebaiknya secara sederhana. Segala yang berlebihan itu merusak, sekalipun adalah cinta.(LiputanIslam.com)

———–

Redaktur menerima sumbangan tulisan untuk rubrik opini. Kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL