Oleh: Radikalisme-agamaM Zaid Wahyudi

Simpatisan dan pendukung gerakan radikal banyak muncul dari kalangan anak-anak muda yang memiliki nilai akademik sangat bagus. Mereka juga umumnya belajar di sekolah atau perguruan tinggi favorit yang menjadi gudangnya anak-anak cerdas. Mengapa lebih banyak anak muda dan pintar yang terjebak radikalisme?

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Secara alami, kognisi atau proses mengolah pengetahuan pada mereka sangat terbuka. Tanpa diprovokasi atau dipaksa pun, pikiran mereka mudah diisi dengan apa pun, termasuk paham atau pemikiran radikal dari mana pun sumbernya, baik internet, kawan, mentor, maupun guru.

Menurut psikolog sosial yang banyak meneliti persoalan terorisme dan internet dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Mirra Noor Milla, kondisi itu sering kali dimanfaatkan oleh penjaja ideologi, termasuk ideologi radikal. Mereka mencuci otak anak muda.

“Dengan berbagai upaya, penjaja ideologi itu membuka kognisi remaja hingga membuat mereka merasa tidak berharga. Setelah kondisi itu tercapai, ideologi radikal bisa dengan mudah dimasukkan,” katanya.

Namun, tidak semua anak muda yang terpapar informasi radikalisme akan berlaku radikal. Terbuka atau tidaknya kognisi seseorang sangat tergantung dari pemaknaan remaja atas diri mereka.

“Remaja yang kehilangan pemaknaan diri, baik akibat merasa disia-siakan, tidak dipahami orangtua atau yang lebih dewasa, diabaikan lingkungannya, maupun ingin menjadi orang yang lebih bermakna, mudah menerima paham-paham radikal,” katanya.

Selain pemaknaan diri, mereka yang lebih mudah terkena paham radikal adalah remaja yang tidak terbiasa berpikir kritis atau berpikir rasional komprehensif. Kemampuan dan kebiasaan berpikir kritis itu sangat ditentukan pola asuh keluarga, pendidikan di sekolah, hingga pengalaman hidup.

Pola pendidikan yang lebih banyak menghafal daripada menganalisis, menyamaratakan perlakuan terhadap semua siswa, dan ketidaksiapan guru untuk mendapat jawaban berbeda dari murid justru mematikan daya pikir anak. Pola asuh dalam keluarga yang menuntut kepatuhan buta anak, mengabaikan, dan meremehkan pendapat anak juga menumpulkan nalar mereka.

Remaja yang rentan dengan ideologi radikal umumnya memiliki pengalaman hidup terbatas, relasi sangat sedikit, pengalaman ketidakadilan, pengalaman tidak dimanusiakan, kegagalan hidup, atau tinggal dalam lingkungan yang homogen. Keterbatasan itu membuat mereka cenderung berpikiran tertutup sehingga sulit berpikir kritis.

Pintar, tetapi kaku

Mereka yang terjebak dalam radikalisme umumnya juga anak-anak pintar dari sekolah atau perguruan tinggi favorit dan dari program eksakta. Penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama, Kementerian Agama, bersama Asosiasi Dosen Agama di 13 perguruan tinggi di Indonesia pada 2010 menunjukkan hal itu.

Pemikiran keagamaan eksklusif dan ekstrem lebih banyak dialami oleh mahasiswa kelompok ilmu eksakta dibandingkan dengan mahasiswa noneksakta. Diduga, pola pemikiran keagamaan mereka yang cenderung kaku dan merasa paling benar dibentuk dan dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap hukum alam yang bersifat pasti.

Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado Taufiq Pasiak mengatakan, interaksi mahasiswa eksakta yang sering berhubungan dengan benda statis membuat mereka kurang bisa berinteraksi dengan segala sesuatu yang dinamis. Padahal, manusia bersifat dinamis. Akibatnya, ketika mereka berhadapan dengan paham keagamaan tertentu, mereka sulit membuat pandangan alternatif.

“Itulah bahayanya jika pendidikan tidak mengajarkan ilmu tentang manusia,” katanya. Karena itu, ilmu filsafat penting diajarkan di perguruan tinggi untuk seluruh mahasiswa. Ilmu filsafat memperdalam pemikiran manusia.

Pandangan kaku terhadap sains tidak terlepas dari kekeliruan siswa dalam memahami sains. Kekeliruan itu muncul akibat pengajaran sains yang keliru, sains diajarkan bukan dengan penalaran, tetapi sebagai hafalan.

Dosen Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung yang mengampanyekan budaya dan pola pikir bernalar, Premana W Premadi, beberapa waktu lalu mengingatkan, di balik sifat sains yang pasti, sains juga mengandung ketidakpastian. Teori tentang suatu hal bisa saja berubah jika ditemukan teori baru yang didukung data dan bukti yang lebih sesuai.

Sebagai contoh, teori Dentuman Besar (Big Bang) adalah teori tentang pembentukan dan evolusi alam semesta yang paling banyak dianut sekarang. Hal itu karena teori Dentuman Besar didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang valid dan mampu menjelaskan perkembangan alam semesta yang saat ini terjadi. Jika suatu saat ditemukan teori baru yang lebih sesuai, bisa saja teori Dentuman Besar berganti.

Taufiq yang merupakan pendiri Center for Neuroscience Health and Spirituality Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menambahkan, pola pendidikan agama di Indonesia juga berpengaruh. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, pendidikan agama di sekolah lebih banyak menekankan pada persoalan hukum syariat yang bersifat hitam-putih. “Sebaliknya, materi tentang moral, akhlak, atau budi pekerti sangat kurang,” katanya.

Model pendidikan seperti itu membuat cara pandang anak Indonesia dalam memandang segala sesuatu dengan nilai tunggal, hitam atau putih. Akibatnya, mereka tidak memiliki pandangan terbuka berdasarkan akhlak.

Untuk mengatasi hal itu, pendidikan seni dan materi tentang imajinasi juga penting diajarkan di sekolah. Selama ini, seni dianggap sebagai pelajaran pinggiran. Sementara imajinasi tidak pernah diajarkan secara formal di sekolah. Padahal, seni mampu menumbuhkan imajinasi. Seni memperhalus perilaku dan imajinasi memperkaya jiwa. (LiputanIslam.com)

Tulisan ini disalin dari Kompas.com, redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL