berasOleh: Idrus Hasan Alatas

Topik kedaulatan pangan kembali ramai dibicarakan, seiring dengan pernyataan Capres Terpilih, Jokowi, bahwa kinerja kabinetnya akan berfokus pada 3 bidang : kedaulatan pangan, maritim, dan kependudukan.

Kedaulatan pangan bukanlah masalah yang sederhana, dan sangat terkait dengan kapitalis global. Sejak Revolusi Hijau, ada kolusi antara World Bank/IMF dengan negara untuk memaksa petani (via pemerintahan setempat) untuk menjalankan program mereka, sistem tanam monokultur dengan menggunakan pupuk kimia, pestisida dan menggunakan bibit hasil rekayasa genetik (Genetically Modified). Petani dipaksa berhutang untuk membeli pupuk, pestisida, dan bibit yang ujung-ujungnya makin menyengsarakan petani.

Menurut DR Vandana Shiva jawaban atas masalah ini adalah kembali pada teknologi pertanian alami termasuk dengan menggunakan benih alami. Ini adalah jalan untuk menuju kemakmuran dan kestabilan ekonomi. Dan pada akhirnya, jalan menciptakan perdamaian di muka bumi.

Namun, masalahnya tidak sesederhana itu. Ketika kita bertekad untuk kembali pada tehnologi pertanian alami, para kapitalis akan bekerja keras menghadangnya. Lembaga Dunia macam World Bank dan IMF akan selalu berperan, bekerja sama dan sejalan dengan korporasi-korporasi raksasa. WB dan IMF memberikan hutang, dan hutang itu digunakan untuk memuluskan bisnis korporasi transnasional yang berkolusi dengan politisi dan pelaku bisnis lokal.

Bahkan, kalau perlu, mereka merekayasa penggulingan rezim, bila rezim itu menghadang jalan mereka. Contoh kasus nyata dari masalah ini adalah konflik Ukraina. Joyce Nelson dalam artikelnya berjudul On Behalf of Monsanto: GMO Food Crops for Ukraine’s Bread Basket menulis sebagai berikut.

Sudah diketahui sejak lama peran AS melobi seluruh dunia untuk perusahaan perusahaan yang dimiliki oleh konglomerasi besar AS, raksasa raksasa seperti DuPont, Syngenta dan Monsanto yang tidak mengenal tapal batas wilayah suatu negara namun dikendalikan dan dioperasikan bukan hanya untuk urusan neraca rugi/laba saja, tapi juga ada kepentingan politik, penguasaan sumber daya alam, atau, pemaksaan penggunaan bioteknologi pertanian.

Laporan yang dirilis WikiLeaks menyebutkan bagaimana Kemlu AS selama 2005-2009 telah melobi pemerintahan di seluruh dunia untuk mengadopsi kebijakan pro bioteknologi pertanian dan perangkat hukumnya (UU), melakukan kampanye untuk meningkatkan citra bioteknologi dan menentang aturan pengamanan bioteknologi, seperti aturan aturan hukum tentang pelabelan pada makanan hasil rekayasa genetik .

Eropa Timur, khususnya Ukraina terkenal dengan kesuburan tanahnya dikenal sebagai ‘Keranjang Roti Eropa’. Tanah Ukraina sangat ideal untuk tanaman biji-bijian. Pada tahun 2012 saja Ukraina memanen 20 juta ton Jagung. Ukraina juga adalah salah satu dari sepuluh daerah yang paling menarik pembebasan lahan pertanian, sehingga Michael Cox, direktur riset di bank investasi Piper Jaffray, menyebutkan bahwa Ukraina dan Eropa Timur, adalah salah satu pasar pertumbuhan yang paling menjanjikan untuk raksasa peralatan pertanian Deere, serta produsen benih Monsanto dan DuPont’ . [1]

Dalam kondisi ini wajar saja jika Ukraina, dan juga Rusia, menolak tanaman hasil rekayasa genetik. Ini terlihat dari pernyataan Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, “Kami tidak memiliki tujuan pengembangan produk GM di sini atau mengimpornya. Kami bisa memberi makan diri kami dengan normal, umum, dengan produk yang tidak dimodifikasi secara genetik. Jika Amerika ingin makan produk tersebut, biarkan mereka makan. Kami tidak perlu melakukan itu; kami memiliki cukup ruang dan kesempatan untuk menghasilkan makanan organik. “[2] Hukum Ukraina juga melarang petani menanam tanaman hasil Rekayasa Genetik/GM dan juga tidak memungkinkan penggunaan hasil rekayasa genetika organisme/GMO di bidang pertanian.

Tangan Kotor Monsanto
Keadaan ini membuat Monsanto (Perusahaan Multinasioanal Biotechnology Agrochemical dan Agricultural Amerika) mengambil jalan berputar untuk merealisasikan rencananya. Pada Mei 2013 Monsanto mengumumkan rencananya untuk menginvestasikan $140juta untuk pabrik benih jagung non-transgenik, sebuah langkah awal untuk masuk dan berproduksi di Ukraina.

Sementara itu pada November 2013 enam asosiasi besar pertanian Ukraina sudah menyiapkan rancangan amandemen untuk disahkan menjadi hukum, yang isinya mendorong untuk “menciptakan, pengujian, pengangkutan dan penggunaan GMO mengenai legalisasi benih GM.” [3]

Presiden Ukrainian Grain Association, Volodymyr Klymenko, dalam konferensi pers 5 November di Kiev mengatakan bahwa “Kita bisa merenungkan masalah ini untuk waktu yang lama, tapi kami, bersama-sama dengan asosiasi [pertanian], telah menanda tangani dua surat untuk mengubah undang-undang tentang biosekuriti, di mana kami mengusulkan legalisasi penggunaan benih GM, yang telah diuji di Amerika Serikat untuk waktu yang lama, bagi produsen kami. “(Sebenarnya, benih GM dan GMO tidak pernah mengalami pengujian jangka panjang dan independen di AS).

Sebuah situs sustainablepulse.com – yang melacak berita GMO di seluruh dunia – di pimpin oleh Henry Rowlands segera mereaksi usulan asosiasi pertanian dengan menyatakan: ” Pertanian Ukraina akan rusak parah, jika pemerintah Ukraina secara hukum mengizinkan benih GM di negara tersebut.”

Pada saat yang sama sebuah laporan dari Oakland Institute mengungkapkan bahwa Bank Dunia (WB) dan dana Moneter International (IMF), menyiapkan $ 17milyar pinjaman bersyarat ke Ukraina. Syaratnya adalah: negara itu membuka diri pada rekayasa genetik (GM) tanaman dan rekayasa genetik organisme (GMO) di bidang pertanian. Persyaratan pinjaman Bank Dunia / IMF ke Ukraina telah menyebabkan “peningkatan investasi asing, yang kemungkinan akan menghasilkan ekspansi akuisisi besar-besaran lahan pertanian oleh perusahaan asing dan korporatisasi lanjut pertanian di negara ini.“[4]

Pada awal Desember 2013, Monsanto Ukraina telah meluncurkan Program “pembangunan sosial” [5] dengan memberikan bantuan kepada masyarakat pedesaan sehingga mereka (dalam kata-kata Monsanto) merasa, bahwa “mereka dapat meningkatkan situasi mereka sendiri dan bukan bergantung pada bantuan pihak lain.”

Sebenarnya raksasa agribisnis AS inilah yang bergantung kepada Bank Dunia/IMF agar Ukraina terbuka untuk tanaman rekayasa genetik dan agar mencabut larangan atas penjualan lahan pertanian Ukraina yang subur kepada sektor swasta melalui persyaratan pinjaman lunaknya.[6]

Morgan Williams, presiden dan CEO dari Dewan Bisnis AS-Ukraina, kepada International Business Times pada bulan Maret, mengatakan “Pertanian Ukraina bisa menjadi tambang emas yang nyata.” [7] Namun dia menambahkan bahwa “Ada banyak aspek dari iklim usaha [Ukraina] yang perlu diubah. Hal utama akan berpusat pada bagaimana agar pemerintah tidak terlibat dalam urusan bisnis … ”

Morgan Williams sendiri adalah jembatan antara Aliansi Perusahaan Besar Agribisnis dengan kebijakan luar negeri AS. “[8] Selain menjadi presiden dan CEO dari Dewan Bisnis AS-Ukraina, Williams adalah Direktur Urusan Pemerintahan di perusahaan ekuitas swasta SigmaBleyzer, Williams juga bekerja sebagai ‘calo’/penghubung dengan berbagai instansi pemerintah AS, anggota Kongres, komite kongres, Kedutaan Besar Ukraina untuk Amerika Serikat, lembaga keuangan internasional, think tank dan organisasi lain pada bisnis AS- Ukraina, perdagangan, untuk issue investasi dan pembangunan ekonomi.

Komite Eksekutif 16-anggota Dewan Bisnis AS-Ukraina dipaket dengan perusahaan- perusahaan agribisnis AS, termasuk perwakilan dari Monsanto, John Deere, DuPont Pioneer, Eli Lilly, dan Cargill. [9] Banyak tokoh dan mantan pejabat AS terlibat dalam masalah Ukraina ini, seperti Dewan 20 “Penasehat Senior”, termasuk termasuk James Greene (Mantan Kepala NATO Liason Office Ukraina); Ariel Cohen (Senior Research Fellow untuk The Heritage Foundation); Leonid Kozachenko (Presiden Konfederasi AgrariaUkraina); enam mantan Duta AS untuk Ukraina, dan mantan duta besar Ukraina ke Amerika Serikat, Oleh Shamshur.

Shamshur sekarang menjadi penasehat senior PBN Hill + Knowlton Strategi, yaitu perusahaan Public Relations besar, yang merupakan anak perusahaan dari raksasa yang berbasis di London WPP Group, yang memiliki beberapa perusahaan Public Relation besar, termasuk Burson- Marsteller (penasihat lama Monsanto).

Hill + Knowlton Strategi bertanggung jawab untuk menyebarkan citra buruk tentang Rusia dan Putin. Perusahaan ini pula yang dulu membuat kebohongan “kekejaman bayi inkubator” Kuwait. Saat itu, seorang yang mengaku perawat bernama Nayirah bersaksi palsu, bahwa ia telah menyaksikan tentara Irak membunuh ratusan bayi prematur di rumah sakit al-Addan di Kuwait City. Kesaksiannya itu ‘diolah’ oleh mesin-mesin propaganda dan publik AS pun ‘merestui’ serangan AS di Perang Teluk I tahun 1990-an. Akhirnya terbukti bahwa Nayirah adalah putri dari duta besar Kuwait di Amerika Serikat.

Perang Dingin jilid 2 tengah di ambang pintu. Dan perlu diingat juga bahwa pada akhir 2013, (mantan) presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, menolak perjanjian asosiasi Uni Eropa terkait dengan $ 17milyar pinjaman IMF. Sebaliknya, Yanukovych memilih paket bantuan Rusia bernilai $ 15 miliar ditambah diskon pada gas alam Rusia. Keputusannya merupakan faktor utama dalam protes mematikan berikutnya yang menyebabkan kejatuhannya dari kantor kepresidenan pada bulan Februari 2014 saat krisis berlangsung. Dan pemain utama dalam kisruh ini ternyata Monsanto dan kaki-tangannya.

Bagaimana dengan Indonesia? Yang jelas, Monsanto telah bergerak di Indonesia sejak lama. Dengan melobi pejabat-pejabat terkait, Monsanto membuat produknya (benih, pestisida) dipakai luas para petani di Indonesia yang umumnya mendapat paket kredit (benih dan obat-obatan) dari pemerintah. Monsanto pun terlibat dalam penyusunan perundang-undangan yang akan menguntungkan bisnisnya. Greenpeace,misalnya, menuduh Monsanto telah membiayai penyuksesan undang-undang privatisasi air, rekayasa genetik, dan hormon-hormon pertumbuhan. [10]
Catatan kaki:
[1] http://www.oaklandinstitute.org/press-release-world-bank-and-imf-open-ukraine– western-…
[2] http://rt.com/news/154032-russia-gmo-food-ban/
[3] http://en.interfac.com.ua/news/press-conference/173536.html
[4] http://www.oaklandinstitute.org/press-release-world-bank-and-imf-open-ukraine– western…
[5] http://monsantoblog.com/2013/12/13/monsanto-ukraine-launching-social– development-pr…
[6] http://www.globalresearch.ca/ukraine-secretive-neo-nazi-military-organization– involved-i…
[7] http://ibtimes.com/westerners-know-very-little-about-ukraine-qa-us-ukraine– business-co…
[8] http://www.printfriendly.com/print/new?url-http%3A%2F %2Fconsortiumnews.com%F…
[9] http://www.usubc.org/site/u-s-ukraine-business-council-usubc-executive– committee
[10]https://www.facebook.com/notes/science-of-universe/monsanto-korupsi-dan-tragedi-lingkungan/397131735149?comment_id=9957725&offset=0&total_comments=10

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan dikirim ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL