kondom bekas fakeOleh: Putu Heri

Pertemuan Prabowo dan Jokowi dalam keakraban dan penuh canda, akhirnya melegakan banyak pihak.  Apalagi, dengan berbesar hati, Prabowo pun menghadiri pelantikan Jokowi, yang disambut dengan standing aplaus dari para undangan yang hadir. Ternyata, kekacauan dan ketegangan politik yang diprediksi banyak pihak, tidak terjadi. Ternyata, isu penjegalan atas pelantikan Jokowi, tidak terjadi. Dan pernyataan penuh dendam Hashim, adik Prabowo di Wall Street Journal, juga terkikis manakala dua tokoh yang menjadi rival saat pilpres lalu tersebut berangkulan.

Ditengah kegembiraan, dan kelegaan masyarakat atas mencairnya kondisi politik di Indonesia, ternyata tidak demikian halnya dengan media Piyungan Online. Tiga hari lalu, media milik Partai Keadilan Sejahtera tersebut mempublikasi artikel, yang menyatakan bahwa si penulis tidak ridho dengan sikap Prabowo – yang akhirnya legowo dan meminta pendukungnya untuk mendukung pemerintahan Jokowi.

Saya tidak memahami pola pikir mereka. Padahal dalam sebuah tatanan kehidupan, masyarakat mengharapkan negara dapat menegakkan nilai-nilai dasar, seperti keamanan, ketertiban, kebebasan, keadilan dan kesejahteraan (Jackson & Sorensen: 1998). Juli lalu, ketika Prabowo Subianto menarik diri dari pilpres yang dinilainya penuh kecurangan, setengah jam kemudian IHSG ambruk hingga 2 persen, rupiah melemah, jalanan di Jakarta yang biasanya macet, mendadak sepi. Aparat keamanan berjaga-jaga dan menetapkan status siaga satu. Masyarakat khawatir,  dan memilih untuk berada di dalam rumah serta menghindari aktivitas di ruang publik.

Pertanyaan saya, mungkinkah kita bisa membangun negara —  dan mungkinkah pemerintah bisa menggerakkan roda pemerintahan dengan normal jika rakyatnya dihantui rasa was-was?

Berbeda dengan pertemuan bersejarah Prabowo dan Jokowi lalu. Usai pertemuan mereka, IHSG ditutup positif dan rupiah menguat. Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono berpendapat bahwa hal ini merupakan akibat dari respons positif pasar terhadap kondisi Indonesia.

“Penguatan Rupiah itu cerminan pasar, ini terutama karena faktor eksternalnya ada sambutan positif terhadap perkembangan di Indonesia,” ungkapnya di Grand Hyatt, Jumat (17/10/2014).

Kondisi politik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepercayaan para pelaku pasar, ketika politik stabil, kita – selaku rakyat pun bisa bekerja dan beraktivitas dengan nyaman. Apa dampak positif dengan permusuhan Prabowo dan Jokowi, bagi kita rakyat Indonesia? Biarlah Piyungan Online yang menjawab.

Foto Palsu Lagi

Foto-foto palsu yang saya temukan begitu masif beredar dalam konflik Suriah, kembali saya temukan di Indonesia saat kampanye pilpres. Berbagai foto dengan informasi menyesatkan, diproduksi dan disebarkan oleh para militan sosial media. Dan hari ini, saya melihat Pandji Pragiwaksono, seorang publik figur yang sering wari wiri di layar kaca, menegur akun @ZackyMadridista atas foto palsu yang ia unggah.

“@ZackyMadridista Astaghfirullah Zack. Itu foto kondom dari pantai Kenjeran Jawa Timur. Bukan Monas. Ralat lah,” tulis Pandji, melalui akun Twitternya-nya @pandji.

Bahkan setelah pilpres usai, masih ada pihak-pihak yang istiqomah membohongi publik. Seperti diketahui, foto yang diunggah oleh @ZackyMadridista, adalah foto kondom bekas di Pantai Kanjeran Jawa Timur. Namun oleh dia, foto itu diklaim sebagai kondom di Monas saat Konser Salam 3 Jari dalam pesta syukuran rakyat kemarin. Dengan menggunakan sedikit logika saja, mungkinkah ada orang waras yang berbuat asusila di tengah lautan manusia, lalu membuang kondom sembarangan, di sebuah lapangan yang dipadati 150.000 orang, yang diliput media dan disiarkan langsung di beberapa televisi?

Jadi, apa tujuannya menyebarkan foto palsu lagi? Dan apa sebenarnya mau kalian?

Pandji berkata, ia sesungguhnya telah lelah menghadapi oknum-oknum penyebar fitnah. “Ini fitnahnya benar-benar keterlaluan, hati dan akalnya tertutup benci, agamapun tak akan merestui. Kadang lelah menghadapi orang-orang ini, tetapi kalau gue berhenti, korbannya anak-anak nanti. Jadi gue berdiri lagi, pasang kuda-kuda kembali,” tulisnya.

Saya tidak tahu apa mau kalian yang gemar mengadu domba dan memprovokasi, tapi saksikanlah, banyak Pandji-Pandji lainnya di Indonesia, yang karena kecintaannya terhadap tanah air, persaudaraan dan kemanusiaan, akan membuatnya tetap berdiri di depan dalam menghadapi tipudaya kalian. (LiputanIslam.com)

——–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL