sunni-shiaOleh: Putu Heri

Pertentangan dalam tubuh organisasi Islam di Indonesia cenderung diabaikan oleh media massa, tidak seperti pertentangan yang terjadi di dalam Partai Golkar, PPP, ataupun di Parlemen. Sekilas, topik ini memang tidak menarik, dan selain itu, ormas-ormas ini juga tidak berposisi sebagai lembaga eksekutif, legislatif ataupun yudikatif, kendati kader-kader mereka banyak yang terlibat di dalam struktur pemerintahan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai salah satu referensi bagi ummat Muslim di Indonesia, memiliki peranan yang cukup besar dalam memberi warna terhadap perkembangan hal-hal yang terkait dengan isu keagaamaan. Apalagi sebagai lembaga yang dijadikan rujukan dalam menentukan halal-haram sebuah produk, maka, setiap pernyataan yang keluar dari tokoh MUI kerap digunakan sebagai legitimasi untuk membenarkan atau menjustifikasi sesuatu perkara. Hanya saja, jika dalam tubuh MUI sendiri terdapat perbedaan sikap dalam membandang suatu isu, siapa yang kemudian layak untuk diikuti?

Sejak konflik Suriah meletus, dan imbasnya sampai ke Indonesia, sejak itu pula gerakan anti-Syiah gencar dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Berbagai kelompok anti Syiah, menggunakan segala cara untuk mendeskreditkan Syiah. Termasuk, dengan menerbitkan buku merah MUI, yang ditulis oleh beberapa tokoh MUI seperti DR. (HC) KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat), Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Wakil Ketua MUI Pusat), Drs. H. Ichwan Sam (Sekjend MUI Pusat) dan Dr. Amirsyah (Wakil Sekjend MUI Pusat).

Berbagai seminar, deklarasi, maupun tabligh akbar anti-Syiah pun dilakukan, dan nyaris selalu mengimbau hal yang sama, yaitu ajakan untuk membenci, memberangus, dan membasmi Syiah hingga ke akar-akarnya.

Namun di lain sisi, MUI juga masih memiliki tokoh-tokoh yang pro-ukhuwah. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Ketua Umum MUI Din Syamsuddin, dan Ketua Bidang Ukhuwah MUI DR. Umar Shahab. Dalam berbagai kesempatan, misalnya pada saat diselenggarakan Muktamar Ahlul Bait Indonesia, keduanya menyampaikan pesan ukhuwah dan perdamaian. Bahwa, betapa pentingnya perjuangan melawan pemecah belah ummat yang mengobarkan berbagai macam isu.

“MUI tampil ke depan untuk menyatukan ormas-ormas dan kekuatan Islam … dengan kembali menyadari bahwa semua yang mengucapkan ‘laa ilaha illa allah’ adalah Muslim,”ucap Umar Shihab.

“Saya pribadi menyampaikan tahniah atas penyelenggaraan Muktamar kedua Ahlulbait Indonesia (ABI). Saya berharap ABI dapat mengkonsolidasikan diri untuk ikut bersama ormas-ormas Islam lain berjuang di bawah panji syahadatain demi Izzul Islam wal Muslimin di Indonesia. Saatnya umat Islam Indonesia menghindari perselisihan, permusuhan dan perpecahan yang hanya akan membawa kemunduran dan kekalahan umat Islam,” pesan Din Syamsuddin.

Dan, sekuat upaya untuk menjalin ukhuwah antar ummat Islam, sebesar itu pula upaya untuk menanamkan kebencian dan anti-ukhuwah terhadap Syiah. Dualisme MUI ini merupakan sebuah polemik tersendiri. Sekali lagi saya tegaskan, di dalam internal MUI pun masih tidak bersepakat dalam menyikapi sebuah fenomena. Sungguh, ini adalah hal yang sangat disayangkan, untuk sebuah lembaga sebesar MUI.

Menariknya lagi, pro-kontra terhadap wacana ukhuwah terhadap Syiah tidak hanya terjadi di tubuh MUI. Di dalam dua ormas Islam yang moderat di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah, juga terjadi hal serupa.

Ketua Umum PBNU, dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa Syiah bukanlah paham sesat, Syiah adalah bagian dari Islam, dan karenanya, ia menyerukan ukhuwah terhadap Syiah. Namun di lain sisi, di dalam tubuh NU sendiri, ada tokoh yang secara konsisten menyebarkan kebencian terhadap Syiah, misalnya, Habib Zein Al- Kaff, pemuka NU dari Jawa Timur.

Begitu pula halnya dengan Muhammadiyah. Kendati Ketua Umum Muhammadiyah yang sekaligus Ketua Umum MUI Din Syamsuddin selalu menyerukan ukhuwah terhadap Syiah, tidak demikian halnya dengan Prof. Dr. Yunahar Ilyas. Ia turut menebarkan kebencian dan anti ukhuwah terhadap Syiah, salah satunya, dengan turut menulis buku merah MUI sebagaimana disebutkan di atas.

Jadi, ketika saya amati kasus per kasus, maka saya menemukan pola yang sama. Bahwa di dalam tubuh ormas-ormas Islam besar di Indonesia, dalam menyikapi Syiah selalu ada pro-dan kontra. Dan dalam pro-kontra yang begitu tajam tersebut, tidak pernah terdengar ada teguran, atau pernyataan sikap yang jelas. Masing-masing pihak baik yang pro maupun kontra, konsisten bergerak dengan sikapnya sendiri-sendiri. Saya menduga, hal ini adalah wujud demokrasi dan kebebasan dalam berorganisasi.

Saya pribadi, tidak dalam posisi membela siapapun, namun sebagai rakyat Indonesia, saya rasa—saya berhak untuk merasa keberatan jika kebencian-demi kebencian ini dipelihara, dipupuk, lalu membesar. Peristiwa berdarah di berbagai negara Timur Tengah sudah cukup untuk menjadi pelajaran, bahwa konflik sekterian hanya berbuah kehancuran. Pun jika kita mau belajar dari kejadian-kejadian di dalam negeri yang dipicu oleh hate speech, sepertinya, hal seperti ini sungguh tidak elok untuk diteruskan.

Dalam kasus ini, penting bagi saya untuk kembali mengutip petuah dari Habib Ali al Jufri. Beberapa waktu yang lalu beliau menyatakan bahwa, musuh Sunni-Syiah adalah pihak-pihak yang sengaja membuat keduanya bermusuhan.

Mengapa kebencian kepada Syiah begitu penting untuk dipelihara?

Jika ditelusuri lebih mendalam, maka kebencian kepada mazhab ini akan berujung pada Iran. Negerinya Salman Al-Farisi, yang pernah disebutkan dalam hadits yang indah;

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah yang berkata, “Kami sedang duduk bersama para sahabat Rasulullah Saw ketika Surah Jumuah turun kepada baginda lalu baginda membacakan ayat ” … Dan juga (telah mengutuskan Nabi Muhammad kepada) orang-orang yang lain dari mereka, yang masih belum datang …” Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw sebanyak dua atau tiga kali tetapi baginda tidak menjawab. Bersama kami adalah Salman al-Farisi. Rasulullah Saw berpaling kepadanya dan meletakkan tangan baginda ke atas paha Salman seraya bersabda, “Sekiranya iman berada di bintang Tsuraya sekalipun, nescaya lelaki dari bangsa ini yang akan mencapainya.” (Sahih Muslim, Kitab al-Fada’il as-Sahabah hadis 6178 dan Sahih Bukhari, Kitab Tafsir, Jilid 5, halaman 108).

Mengapa yang dibenci harus Iran, negeri yang konsisten dalam menentang Zionisme Internasional? Negeri yang konsisten mendukung muqawwama Palestina dan Lebanon? Negeri yang setelah diembargo oleh Barat, namun tetap bertahan dan justru bertambah maju?

Ada sebuah kasus. Iran dan Rusia telah menandatangani kontrak untuk pembelian senjata S-300, salah satu jenis rudal dengan kekuatan yang dahsyat. Namun akibat tekanan dari PBB, transaksi tersebut tidak berhasil dilaksanakan. Rusia tidak diperkenankan menjual S-300 kepada Iran.

Dan siapa sangka, jika larangan tersebut malah membuat Iran berhasil menciptakan sendiri rudal Bavar 373, yang diklaim, sistem rudal baru ini lebih baik dari S-300. Mampu melacak hingga 100 target seperti halnya sistem rudal Rusia, namun dengan akurasi yang lebih tinggi. Tentu saja keberhasilan ini hanyalah contoh kecil, jika dibandingkan dengan pencapaian demi pencapaian Iran dalam mengembangkan alutistanya.

Dan Iran, dalam berbagai kesempatan selalu menyatakan kesiapannya untuk bekerjasama dengan Indonesia, di segala bidang. Mulai dari bidang energi, infrastruktur, budaya, ataupun keagamaan. Namun pemerintah kita masih ragu-ragu– entah karena besarnya tekanan dari luar– atau hal lain, namun yang pasti hingga hari ini tidak pernah ada realisasi atas kesepakatan demi kesepakatan yang sudah ditandatangani.

Di lain sisi, Iranphobia juga dipupuk subur melalui mimbar-mimbar dengan menggunakan sentimen mazhab, yang berujung pada kebencian mendalam kepada Syiah, dan Iran. Berbagai teori konspirasi pun bermunculan, seperti; Syiah akan menguasai Indonesia, atau Ahlussunah akan dibantai Syiah, dll. Pertanyaan saya, apa hasil yang sudah didapatkan Indonesia dari penyebaran kebencian tersebut? Selain teraniayanya warga Syiah Sampang yang hingga kini luntang lantung di pengungsian, tidak terdengar adanya sumbangsih apapun yang dihasilkan dari gerakan anti-Syiah ini kepada ibu pertiwi.

Mari kita berandai-andai sejenak. Andaikan segenap tenaga dan daya upaya yang dimiliki, digunakan untuk mempelajari teknologi yang telah berhasil dikembangkan di Iran, lalu diterapkan di Indonesia. Andaikan, generasi muda kita dikirim ke Iran untuk belajar membuat rudal, drone, roket, dan sejenisnya, lalu dikembangkan di negeri sendiri. Mungkin, kita akan menjadi negeri yang berswasembada di segala bidang, dan tidak tergantung lagi dengan negeri manapun. Sayangnya, alih-alih memperkaya diri dengan ilmu, kita masih saja berkutat dan mencari cara untuk menebarkan kebencian.

Hal ini membuat saya semakin meyakini kebenaran nasehat Habib Ali. Bahwa, musuh sesungguhnya adalah pihak-pihak yang menghendaki Sunni-Syiah selalu bermusuhan. Mereka, tidak menghendaki adanya kebaikan dan kebesaran Islam, ataupun kejayaan Indonesia. Mereka, bukan hanya musuh umat Islam, namun sekaligus, musuh Indonesia. Semoga saja, kita bukan bagian dari mereka. Aamiin. (LiputanIslam.com)

Redaksi menerima sumbangan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL