Oleh : Candiki Repantu

Pluralisme agama, di negeri ini, merupakan realitas empirik yang tak bisa dipungkiri. Pluralisme, karena itu, sejak dulu dikenal sebagai potensi berbangsa dan bernegara, sehingga founding fathers menetapkan negara ini bukan menjadi negara agama atau juga negara sekuler. Pilihannya berada tepat di tengah-tengah antara keduanya. Pilihan untuk menjadi negara non-agama waktu itu memang memberikan dasar-dasar yang kuat bagi bangsa ini untuk bersikap toleran, menghargai kepelbagaian dan menjunjung tinggi perbedaan itu. Sedangkan pilihan untuk tidak menjadi negara sekuler, jelas membuktikan bahwa negeri ini rakyatnya bisa dibilang religious society, masyarakat yang ber-Tuhan, bukan anti Tuhan. 

pluralisme

4.    Visi Dialog Antar Agama. “Dan sesungguhnya kami atau kalian (orang-orang musyrik) pasti berada dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa yang kami lakukan, dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukan.” (Q.S. Saba: 24). Ayat ini, berisikan beberapa poin penting. Pertama, menanamkan dialog yang fair yaitu “mengakui bahwa dalam dialog dimungkinkan kita yang salah (atau benar) dan boleh jadi lawan kita yang salah (atau benar).” Kedua, menanamkan kearifan dengan tidak menyerang pribadi lawan, melainkan fokus pada argumentasi. Ketiga, menanamkan husnuz zhan terhadap lawan bicara dengan mengakui amal-amalnya. Keempat, menanamkan pertanggungjawaban individual dan sosial. Dalam melakukan studi perbandingan, secara umum orang dapat melakukan dengan tiga pendekatan. Pertama, pendekatan Apologetis, yang membicarakan berbagai keyakinan (agama) untuk menegaskan dan membela keunggulan agamanya. Untuk itu, dikumpulkanlah perbedaan-perbedaan agama dan berusaha menunjukkan kelemahan agama orang lain.  Di sini, seseorang mengkonstruksi agama orang lain melalui perspektifnya. Kedua, Pendekatan Fenomenologis, yaitu berusaha memahami setiap agama dari kerangka agama itu sendiri. Dengan pendekatan ini, seseorang melihat berbagai agama sebagai perspektif-perspektif yang beragam dalam memahami Tuhan. Ketiga, Pendekatan Ukhuwah, yang melihat berbagai agama dengan upaya memahami agama-agama itu dengan tidak mempersoalkan perbedaannya, tetapi lebih mengutamakan titik-titik persamaan yang ada. (Jalaluddin Rakhmat: 1998). Pendekatatan pertama, memiliki kecenderungan monolog, sedangkan kedua dan ketiga memberikan ruang dialog, sekaligus upaya pencari kebenaran. Dalam dialog antar agama, setiap agama mesti dipandang sebagai sarana yang sakral dan suci, sehinga tidak selayaknya dikotori dengan sikap-sikap emosional, pemaksaan, pragmatis, dan arogansi yang menekankan segi egoisme dan egotisme yang ingin menjadikan agama sebagai keinginan dan miliknya sendiri, yang kemudian dieksploitasi untuk memenuhi segala tuntutan dan kepentingan hasrat-hasrat tiranisnya.

5.    Visi Kerjasama Antar Agama. Visi ini mengindikasikan pada wilayah Implementasi yang lebih konkrit dan praktis. Hal ini juga didasari asumsi bahwa manusia secara esensial merupakan makhluk bermasyarakat, sehingga kerukunan umat beragama akan tercipta secara natural jika dibangun di atas fondasi yang konkrit dan empirik, yakni beranjak dari realitas sosial-budaya dan ekonomi yang tumbuh berkembang ditengah-tengah masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan pembinaan secara intensif terhadap pranata-pranata sosial yang telah tumbuh di masyarakat yang menjadi ikon pembauran antar etnis, antar komunitas dan antar agama. Dari realitas ini, kemudian dirumuskan suatu pola kerjasama dalam ruang-ruang kepentingan umum seperti lembaga sosial antar umat beragama yang mengelola bidang pendidikan, penanggulangan bencana, penjagaan keamanan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui kerjasama tersebut, semua potensi yang dimiliki masing-masing agama dapat diaktualisasikan secara maksimal demi membangun masyarakat yang lebih maju.

Dengan memperhatikan visi-visi di atas, maka pluralisme agama mestilah dipandang sebagai suatu perspektif yang memahami dan menerima keragaman agama serta menghargai keragaman agama itu  dengan penuh kesadaran sehingga tidak ada saling curiga apalagi saling serang. Dengan demikian, pluraslime agama adalah antitesa dari ekskulsifisme agama, yang berkeinginan menyeragamkan atau menyamakan semua agama-agama. Namun, agar tidak terjadi kekaburan makna, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan :

  1. Memahami dan menerima keragaman agama, bukan berarti menerima keyakinan agama lain yang berbeda. Artinya, menerima keragaman berarti kesediaan kita untuk menyatakan bahwa keyakinan engkau berbeda dengan keyakinanku, karenanya berbuatlah seperti keyakinan agamamu dan aku akan berbuat seperti keyakinan agamaku, atau dalam bahasa al-Quran “Bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku” (Q.S. al-Kafirun: 5)
  2. Menghargai keragaman agama bukan berarti membenarkan keyakinan agama yang bertentangan dengan agama yang dianut. Disini harus dipisahkan antara kebenaran dan kesalahan serta pemaksaan dan penghinaan. Artinya, meyakini kebenaran agama kita dan menyalahkan pandangan agama lain tidak dapat dikategorikan sebagai tidak menghormati agama orang lain. Karena, persoalan benar dan salah adalah persoalan ilmiah dan merupakan sifat daripada ilmu. Adapun, tidak menghargai lebih cenderung pada penghinaan dan pemaksaan agama, bukan kepada penyalahan keyakinan agama. al-Quran menyebutkan: “Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. (Q.S. al-Baqarah: 256).
  3. Tidak adanya kecurigaan dan tidak saling serang antar agama bukan berarti menghilangkan nilai-nilai ilmiah dan akademis yang berpijak pada analisa rasional yang mengungkap kebenaran dan kesalahan pemikiran keagamaan yang berbeda dengan kita. Tuhan berfirman, “Apabila datang kepadamu orang yang fasik membawa berita, maka cek dan riceklah, agar kamu tidak menimpakan bencana kepada orang yang tidak berhak menerimanya.” (al-quran)

Dengan rambu-rambu di atas, penulis ingin mengemukakan bahwa multikulturalisme selayaknya beroperasi hanya sebagai pemandu dalam menghadapi keragaman. Yaitu, cara atau model bersikap jika berhadapan dengan realitas nyata akan adanya kemajemukan kultural di masyarakat, baik kemjemukan berpikir, bertindak, hingga sistem keyakinan dan keagamaan. Sebab jika kita menggunakan simbolis agama tertentu sebagai panduan,  akan lebih menghadapi kesulitan dalam pelaksanaanya. Karena menggunakan simbol agama tertentu akan mendatangkan sensitifitas tersendiri. Ini berarti juga, pluralisme, jangan memasuki ranah epistemologi (truth claim) yang menentukan benar-salahnya suatu sistem agama dan jangan pula masuk dalam ranah sateriologis yang mengumandangkan keselamatan (salvation claim) dalam konteks eskatologis (hari akhirat). Artinya, kita harus menyadari bahwa, setiap sistem keagamaan pasti memiliki klaim kebenaran dan klaim keselamatan, karenanya, pluralisme agama tidaklah wajar jika mempersoalkan kalim-klaim tersebut. Akan tetapi, keharusan pluralisme agama adalah mengajarkan setiap penganut sistem keagamaan, untuk mengembangkan kearifan agamanya sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku secara universal, sehingga kayakinan seseorang akan kebenaran dan keselamatan agamanya tidak menjadikan orang tersebut melakukan tindakan di luar batas-batas kemanusiaan. (selesai)

*Sumber : Tulisan ini pernah dimuat di dalam Buletin Kebebasan, No.4/V/2007, LSAF, Jakarta. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*