Oleh : Candiki Repantu

Pluralisme agama, di negeri ini, merupakan realitas empirik yang tak bisa dipungkiri. Pluralisme, karena itu, sejak dulu dikenal sebagai potensi berbangsa dan bernegara, sehingga founding fathers menetapkan negara ini bukan menjadi negara agama atau juga negara sekuler. Pilihannya berada tepat di tengah-tengah antara keduanya. Pilihan untuk menjadi negara non-agama waktu itu memang memberikan dasar-dasar yang kuat bagi bangsa ini untuk bersikap toleran, menghargai kepelbagaian dan menjunjung tinggi perbedaan itu. Sedangkan pilihan untuk tidak menjadi negara sekuler, jelas membuktikan bahwa negeri ini rakyatnya bisa dibilang religious society, masyarakat yang ber-Tuhan, bukan anti Tuhan. 

pluralisme

Lima Visi Pluralisme Agama 

Pluralisme benar-benar telah menjadi ajang yang melahirkan tanggapan beragam. Ada yang dengan setia membelanya, ada pula yang senantiasa taat mencari kesalahannya. Bagi kelompok pembela, berbuatlah dengan arif dengan mencermati segala kecamannya, sedangkan bagi tim pencari kesalahan, bersikaplah arif dalam mempelajari bukti-buktinya. Inilah kearifan global yang didambakan. Karenanya, upaya menjadikan pluralisme agama sebagai kearifan global, meniscayakan kita untuk mengenal asas-asas penting yang dijadikan landasan bernalar, bersikap, dan bertindak, yang penulis sebut dengan visi pluralisme agama. Dengan segala keterbatasan dan ketergesa-gesaan penulis merumuskan lima visi pluralisme agama, yaitu :

  1. Visi kebutuhan beragama
  2. Visi kebebasan beragama
  3. Visi kesatuan agama
  4. Visi dialog antar agama
  5. Visi kerjasama antar agama

Kelima visi di atas di dasarkan pada tiga asumsi keberagamaan manusia. Pertama, agama sebagai keyakinan personal, ketika agama sebagai tuntutan pribadi demi memperoleh keyakinan dan akidah yang benar sebagai hamba Tuhan. Kedua, agama sebagai aktivitas intelektual, ketika agama dipandang sebagai paradigma dan studi ilmiah dalam memandang kehidupan. Ketiga, agama sebagai aktivitas sosial, ketika agama dijajakan di pasar publik. Berikut lima visi pluralisme agama untuk Indonesia damai :

  1. Visi Kebutuhan Beragama. Agama merupakan kebutuhan dasar manusia yang secara instinktif dan intrinsik tetanam dalam diri manusia. Melalui fitrahnya manusia merindukan Tuhan, dan melalui akal manusia mencari-Nya melalui bimbingan serta latihan sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya. Hal ini dinyatakan secara naqliyah (lihat Q.S. al-Rum: 30; al-A’raf: 172) dan diakui secara ilmiah melalui berbagai penelitan psikologi dan sosiologi. Para ilmuan mengakui, kesadaran beragama sudah mendapat format khusus dalam sisi intrinsik dan individu dan bersifat universal yang semua manusia membutuhkannya (Eric Fromm, Psychoanalysis, 1976: 25). Will Durant dengan tegas menyatakan agama merupakan hal yang natural dan instinktif, (Religion is a natural matter, born directly of our instinctive needs and feelings). Sedangkan Alexis Carrel menganggapnya sebagai kebutuhan dasar manusia, “The mistic sense is the stirring deep within us of a basic instinct. Man, just as he needs water, solikewise needs God,” (Lihat Musawi Lari, Knowing God, hal. 21). Bahkan bagi Abraham Maslow, pengalaman keagamaan merupakan pengalaman puncak (peak experience), kedamaian dan kebahagiaan yang berlangsung terus menerus (plateau), dan sisi terdalam dari tabiat manusia (farthest reaches of human nature), (Danah Zohar, 2000: xxvi) dan menariknya, kata Maslow, pengalaman puncak dalam keagamaan (disebut juga pengalaman mistik) dilukiskan dengan kata-kata yang nyaris sama oleh setiap penganut agama, disetiap zaman dan di setiap peradaban (Goble, Mazhab Ketiga,hlm. 101). Dengan demikian, fitrah mengenal Tuhan telah terdapat dalam diri manusia secara langsung yang menjadi model sekaligus modal khusus bagi dirinya. Terdapat ruang di dalam hati manusia untuk mengenal Tuhan secara sadar dan mempunyai potensi untuk dikembangkan dengan menggunakan dalil-dalil akal yang argumentatif. Intinya, keberagamaan adalah cetak biru yang telah tertanam kuat pada diri manusia, bukan hasil rekayasa budaya dan ilmu.
  2. Visi Kebebasan Beragama. Visi kebebasan beragama merupakan hal yang sangat jelas dalam ajaran Islam (Q.S. al-Baqarah: 256, al-Maidah: 48). Manusia bebas untuk memiliki keyakinan apapun yang dipilihnya. Tidak seorangpun berhak untuk menghina keyakinan orang lain, atau mengutuk, menuntut, dan menghukumnya. Firman Tuhan, “Tiada paksaan dalam beragama” (Q.S. al-Baqarah: 256), menunjukkan bahwa agama sangat berhubungan dengan akal dan hati. Ini berarti keyakinan dikonstruksi di atas dasar argumentasi akal dan penerimaan hati. Akal dan hati, keduanya hanya bisa ditundukkan dengan argumentasi dan sentuhan kasih, bukan tekanan yang dipaksakan. Begitu pula, selama berkaitan dengan akal dan hati, keyakinan tidak dikategorikan sebagai masalah hukum, sehingga kita tidak dapat mengatakannya sebagai legal atau ilegal. Keyakinan harus berpijak pada dalil. Sepanjang terdapat dalil yang mendukungnya, keyakinan akan tetap eksis. Jika dalil yang mendukungnya berubah, maka keyakinan juga akan menghilang. Jika dalil terbukti keliru, keyakinan juga akan mati. Jadi selama keberagamaan masih berhubungan dengan keyakinan hati dan jiwa, maka tidak ada hukum positif yang dapat menghakiminya. Namun, bila diekspresikan dalam tindakan sosial maka hukum legal dapat diterapkan. Visi kebebasan beragama, memberikan tempat yang terbuka bagi setiap orang untuk mengemukakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran tanpa manipulasi atau tekanan situasi. Hal ini diperoleh dengan kebebasan teologis dan kekondusifan sosiologis. Visi kebebasan beragama ini selaras dengan prinsip penting lainnya seperti kebebasan manusia (ikhtiari), prinsip tanggung jawab (taklif), prinsip keadilan (al-adl), dan prinsip kebijaksanaan (al-hikmah). Dengan semua prinsip ini, manusia mendapatkan keluasan dan keleluasaan untuk mengkaji, meneliti, dan memahami, hingga akhirnya menentukan pilihan yang sesuai dengan akal dan hati nuraninya.
  3. Visi Kesatuan Agama. Banyak ayat al-Quran yang mengindikasikan bahwa agama sebenarnya satu (Q.S al-Baqarah: 111-112, 136; ali Imran: 64; An-Nisa: 150, 163; al-Syura: 13; Saba: 28; al-Anbiya: 25). Ini berarti semua agama memiliki ‘nasab samawi’ yang bersumber dari wahyu ilahi. Namun, implementasinya dalam setiap zaman mengambil format khusus yang berkesesuaian dengan kondisi dan situasi zaman ditambah dengan dialektikanya dalam kehidupan dan nalar manusia yang menghasilkan hermeneutika panjang dalam proses penduniawian hal-hal yang samawi sekaligus pensamawian hal-hal yang duniawi. Hubungan timbal balik ini menghasilkan polarisasi agama yang awalnya satu menjadi beragam dalam tampilannya. Dengan demikian agama berevolusi menuju kesempurnaannya yang termanifestasi dalam kebertingkatan yang satu sekaligus banyak. Jadi, kesatuan nasab agama-agama, secara esensial merupakan pancaran cahaya ketuhanan saat mengenalkan diri-Nya pada wilayah yang abstrak dan konkrit. Manusia sebagai makhluk beragama dengan berbekal potensinya akan menangkap pancaran cahaya tersebut sesuai kapasitas dan kesiapannya masing-masing. Semua menangkap cahaya ketuhanan, hanya saja dalam tingkat intensitas yang beragam, berbeda dan bertingkat. Hal itu disebabkan karena keterbatasan pemahaman, keterbatasan bahasa pengungkapan, kebutuhan zaman, dan pelembagaan dalam komunitas bersama. Ini berarti realitas (al-haq) sebagai kenyataan yang satu, direspon dalam ragam ungkapan yang diyatakan. Dengan memahami hal di atas, maka keragaman bukanlah hal yang esensial, melainkan kesatuan itulah yang sebenarnya menjadi pusat perhatian kita. Karena itu orientasi kita adalah untuk mendudukkan aneka agama dalam realitas kesatuan yang didambakan…(bersambung)  (cr/liputanislam.com)
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL