Oleh : Candiki Repantu

Pluralisme agama, di negeri ini, merupakan realitas empirik yang tak bisa dipungkiri. Pluralisme, karena itu, sejak dulu dikenal sebagai potensi berbangsa dan bernegara, sehingga founding fathers menetapkan negara ini bukan menjadi negara agama atau juga negara sekuler. Pilihannya berada tepat di tengah-tengah antara keduanya. Pilihan untuk menjadi negara non-agama waktu itu memang memberikan dasar-dasar yang kuat bagi bangsa ini untuk bersikap toleran, menghargai kepelbagaian dan menjunjung tinggi perbedaan itu. Sedangkan pilihan untuk tidak menjadi negara sekuler, jelas membuktikan bahwa negeri ini rakyatnya bisa dibilang religious society, masyarakat yang ber-Tuhan, bukan anti Tuhan.     

pluralisme

Banyak kerusuhan terjadi di muka bumi, tak terhitung kerugian harta, entah berapa terbunuhnya jiwa. Motifnya bisa kekuasaan, hinaan, atau juga kelaparan. Namun yang lebih semarak kerusuhan karena motif keagamaan. Mengapa? Karena agama dianggap sebagian orang bagai pisau bermata ganda. Ia menjanjikan kedamaian, keselamatan, dan kasih sayang, ternyata dipenuhi dengan peperangan, penderitaan, dan kebencian.

Agama yang berisi sekumpulan ajaran merefleksikan penalaran, perasaan, dan juga tindakan. Sebagai penalaran, agama berujud pada argumentasi yang meyakinkan atau juga membingungkan. Dalam perasaan, agama tampil penuh emosi dan kerinduan pada Tuhan. Sedangkan melalui tindakan, agama menjadi sarana pembangunan sekaligus bisa berujung pada penghancuran. Anehnya, persoalan ini tidak saja dirasakan oleh sekelompok orang atau wilayah tertentu, melainkan nyaris disikapi oleh semua manusia kapanpun dan dimanapun. Ini disebabkan globalisasi sudah tidak terpisahkan dari kehidupan insan.

Imbas globalisasi, menjadikan hijab-hijab geografis duniawi menjadi terlintasi yang bukan saja pada dimensi politik dan ekonomi, namun juga merambah pada wilayah ilmu dan teknologi, budaya dan juga agama. Bagi segelintir orang globalisasi mestilah ditolak, karena hanya membawa kemudharatan, namun bagi segelintir lainnya mestilah diterima karena merupakan tuntutan zaman. Berdiri diantara keduanya kalangan optimisme yang melihat globalisasi sebagai ‘rahim’ yang mengandung kelebihan dan kekurangan, positif dan juga negatif. Dalam bidang agama, globalisasi secara negatif akan menghasilkan benturan antar agama, sedangkan secara positif memberikan wawasan, pengalaman, dan berbagi kerjasama dalam membangun peradaban bersama. Karenanya, enyahkan yang negatif, gunakan yang positif. Caranya, mestilah dicarikan suatu prinsip yang arif dalam menyikapinya. Salah satu kearifan global yang ditawarkan adalah “pluralisme agama”.

Dalam menampilkan pembahasan pluralisme agama, setidaknya ada lima corak pandangan yaitu:

  1. Pluralisme agama-normatif (normative religious pluralism)  yang menekankan pada moralitas untuk saling menghargai dan toleransi antar penganut agama.
  2. Pluralisme agama-soteriologis (soteriological religious pluralism) yaitu pluralisme yang menekankan pengakuan adanya saham keselamatan (salvation claim) semua paham/agama.
  3. Pluralisme agama-epistemologis (epistemological religious pluralism) yaitu pluralisme yang mengakui bahwa semua pengikut agama besar berkedudukan sama dalam konteks justifikasi keyakinan religius
  4. Pluralisme agama-aletis (alethic religious pluralism) yaitu pluralisme yang menekankan bahwa semua agama memiliki status yang sama dalam menemukan kebenaran (truth claim)
  5. Pluralisme agama-deontis (deontic religious pluralism) yaitu pluralisme yang mengajarkan bahwa agama dalam historisnya mengambil bentuk lahiriah tertentu, yang terus menyempurna sehingga lahirlah keragaman, sehingga pada titik kulminasinya (berakhirnya kenabian) maka mata rantai penyempurnaan berakhir dalam kesatuan. (Legenhausen, 1999)

Tanpa ingin masuk pada perdebatan pengikut dan pemberontak setianya, bagi penulis, pluralisme agama, sebagai kearifan global dapat dikaitkan dengan kesatuan atau upaya mencari zona singgung dari adanya aneka jalur agama. Pluralisme ini dapat diwujudkan, ketika masing-masing penganut agama yang beraneka ragam memprivatkan perbedaan-perbedaan dan mempublikkan garis kesamaan yang ditemukan dalam semua jantung agama dengan mengarahkan pandangan pada kesatuan universal-transmetafisik agama-agama.

kebebasan 3Indonesia, tanah subur untuk tumbuhnya aneka keyakinan beragama, mestilah menjaga irama sensitivitas religius dengan kendali kearifan nalar untuk dapat berkomunikasi secara harmonis dan bersikap pluralis agar tercipta tindakan yang moralis. Dengan itu semua, akan tercipta suatu toleransi kemanusiaan yang inovatif bukan monopoli, yang kreatif bukan reaktif, yang dinamis bukan statis, dan yang penuh keramahan bukan kemarahan. Hasilnya akan terwujud kerjasama sejati dalam usaha membangun peradaban sejagat demi kesejahteraan dan tujuan hidup bersama sesuai orientasi semua agama.

Namun, tugas ini tidak gampang. Tak jarang, keinginan hidup bersama di atas altar perbedaan agama yang digaungkan kaum pluralis mendapatkan tantangan sinis. Atas nama agama, para “tentara tuhan”—meminjam ungkapan Abu el-Fadhl—melakukan  amar ma’ruf nahi munkar yang menghasilkan benturan internal dan eksternal agama. Hal itu terjadi, karena niat suci terkadang berkolaborasi dengan arogansi dan antipati sehingga menimbulkan konflik dan tindakan anarkis, yang berakhir pada usaha memberangus kelompok tertentu. Ini merupakan sebuah bentuk tirani agama yang menutup mata terhadap realitas kemajemukan yang dipersembahkan Tuhan, Alquran menyatakan “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuat engkau tidak berlaku adil”.

Akan tetapi, kalangan pluralis tidak layak pula menutup mata atas seluruh aktivitas yang dilakukannya. Karena dimungkinkan bahwa tindakan antipati sekelompok orang ini terjadi dikarenakan strategi implementasi pluralisme mengundang bibit-bibit permusuhan.

Pluralisme agama dianggap oleh para penentangnya akan mendekonstruksi (meminjam istilah Derrida) semua bangunan keyakinan yang telah terbentuk dan bersemayam kuat dalam setiap benak umat beragama. Atau pluralisme agama, meminjam ungkapan William Alston, hanyalah justifikasi prima facie, menampilkan kesan awal yang baik dibalik selubungnya yang berbahaya. Sebab, dalam sisi ekstrimisnya, pluralisme agama akan mengarahkan pada relativisme bahkan ateisme, suatu sisi yang berlawanan dengan agama itu sendiri. John Hick, misalnya berpandangan, jika kita mengarahkan perhatian pada Realitas Tertinggi (Tuhan), maka kita akan menemukan rumusan yang beragam dari perspektif individual. Apakah aneka rumusan tersebut semuanya benar? Atau semuanya salah? Atau salah satunya saja yang benar? Bagi Hick, membenarkan semuanya adalah tindakan yang bijak. Inilah yang ditakutkan sebagian kalangan pemblokir pengaruh pluralisme, karena itu berarti nilai kesakralan agama menjadi nihil.

Akan tetapi, anggapan ini tidak akurat. Agama (khususnya Islam) bukanlah mengajarkan kepengecutan, melainkan mengajarkan keberanian untuk mengungkapkan keyakinan ditengah badai keyakinan lainnya. Jika memang bangunan keyakinan kita kukuh dan utuh, maka model dekonstruksi apapun akan kehilangan daya ledaknya. Bahkan boleh jadi keyakinan kita yang kukuh itu, akan memberikan serangan balik yang dapat mendekonstruksi strategi dekonstruksi itu sendiri. Namun, jika kepengecutan yang meliputi bangunan keyakinan kita, maka kita tak lain hanya menjadi pecundang dengan menjadikan agama sekedar alat yang dikeramatkan.

Senyatanya, pluralisme meniscayakan kearifan beragama, karena menerima dan membenarkan usaha mencari titik singgung dan kebenaran universal absolut  yang ada pada semua agama, juga sekaligus mengakui hal-hal yang relatif dan parsial dalam bingkai agama masing-masing. Dalam studi komparatif dan dialogis secara ilmiah, agama diletakkan sebagai objek pembahasan dengan manifestasi olah pikir dan pengalaman beragama para penganutnya, sebab mempelajari dan memahami agama orang lain setidaknya akan memberikan manusia wawasan dan ilmu pengetahuan di samping akan mendukung kearifan beragama. Jadi, kebenaran, keyakinan, dan kesadaran beragama didasarkan pada kekuatan argumentasi, bukan kekuatan suara, kekuatan massa atau kekuatan senjata. Sederhananya, pluralisme, bukanlah meleburkan semua agama (keyakinan) menjadi satu dan seragam, sebab hanya akan menghasilkan campur aduk yang dipaksakan, dan itu jelas berlawanan secara nyata dengan visi pluralisme itu sendiri.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL