no isis 4Indonesia menerima banyak berkat, namun juga kutukan laten dalam perjalanannya sebagai sebuah bangsa. Limpahan sumber daya beserta keragaman orangnya menjadi simalakama. Bisa menjadi kutukan manakala mis-managemen, menjadi berkah saat potensinya bisa dioptimalkan.

Keragaman berarti banyak variasi. Variasi adat istiadat, variasi beragama, samoai variasi cara berpikir. Orang yang satu kitab pun bisa menghasilkan outcome yang berbeda apabila diracik dengan alur logika yang berbeda. Di nusantara, variasi cara berpikir membentang dari yang paling liberal sampai paling radikal sekali pun. Dari yang bercita cita melegalkan ganja, perkawinan sejenis, hingga mereka yang tak segan membunuh saudara satu kitabnya yang dianggap tidak sepaham. Kita punya “keragaman” itu, walau tidak banyak.

Namun, ibarat infeksi flu, sebaran virus kini sudah menjelajah masuk ke negeri ini. Benih pola- pola pikir berbahaya sudah merasuk ke dalam pembuluh darah di dalam ibu pertiwi. Di tengah tidak efektifnya “antibodi”, virus jahat itu ibarat bom waktu yang siap meledak sewaktu waktu.

Adalah organisasi barbar ISIS (Islamic State Iraq and Sham) yang menjadi personifikasi dari virus tersebut. Sebuah organisasi yang menghendaki kekuasaan dicapai dengan cara yang luar biasa jahat. Banyak referensi sudah menyebutkan ISIS bahkan sudah pada level yang jauh lebih buruk dibanding Al-Qaeda sekali pun.

Perjuangan ISIS berbeda dari Hamas di Palestina. Apa yang dilakukan Hamas, terlepas dari efektif tidaknya, merupakan perlawanan melawan pendudukan Israel. Tapi ISIS? Yang dibantai justru saudara sendiri, kawan sendiri, Irak dan Suriah sendiri, semata mata demi nafsu segelintir orang yang haus darah dan kekuasaan.

Indonesia, baik bangsa maupun negara, tidak berbuat banyak. Melihat negeri yang melempem ini, kelompok Islam garis keras di Indonesia mulai secara terbuka memberikan dukungan terhadap Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS yang mendeklarasikan kekhalifahan Islam. Mereka tidak lagi malu memamerkan dukungan di rimbunnya hutan belantara, kini mereka memamerkan bendera ISIS di sudut-sudut kota besar, bahkan di jantung ibukota. Bahkan, kemarin ada video di youtube yang memanggil para simpatisan ISIS di Indonesia untuk ikut berjuang.

Sementara apa yang kita buat? Diam saja? Dahulu pelaku-pelaku pembangkang Pancasila bisa dituntut, kini? Mengapakah kita begitu takut pada momok komunis yang sudah lama mati tapi diam menuruti orang —  yang di negeri asalnya  tega menggantung kepala saudaranya sendiri? Menembak perempuannya? Menyeret anak-anak kecil? Bahkan komunis dan fasis sekali pun berpikir 1000x melakukan itu pada saudara setanah airnya sendiri.

Indonesia harus siaga ISIS seperti siaga pada gerilya komunis, Indonesia harus menganggap ISIS jauh lebih berbahaya dari candu dan sabu sekali pun. Kematian Indonesia makin dekat, jauh sebelum benar-benar menjadi raya.

Jika penguasa, ulama, dan rakyat toleran terhadap gerakan ini, habislah kita. Nama Indonesia akan musnah terganti oleh tanah baru, tanah baru Indonistan. Sebuah negeri kering kedamaian yang penguasanya memonopoli kebenaran, di mana kebengisan menjadi solusi atas segala masalah. Anak-anak kecil di dalamnya terpaksa belajar menjadi tameng hidup yang memegang senjata bukannya balon. Perempuan-perempuannya akan menjadi sebuah missing link, elemen yang hilang karena hidup tanpa pendidikan, tanpa hak seperti mereka di Afganistan. Semua yang berbeda akan digilas habis tanpa sisa. Dunia Kristen di Eropa dahulu sempat seperti keledai jatuh di lubang abad kegelapan dahulu, hidup nista penuh kebencian dan kucuran darah. Saat di mana pendeta berkuasa bagai Tuhan namun lalim. Harga yang harus dibayar adalah puluhan generasi sia-sia tanpa kemajuan, berabad yang hilang tanpa kejayaan.

Haruskah kita melaluinya juga? Tidak bisakah kita belajar dari sejarah? Tak mampukah Muslim Indonesia men-skip bagian abad kegelapan dan langsung loncat saja ke chapter renaissance demi kegemilangan tanah kita ini? Anda yang menentukan.

Disalin dari Nasionalis.me

____________
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL