jilbabOleh: Nurul Huda Haem

Sang Nabi diundang ke perhelatan makan di suatu kampung yang terbiasa mengkonsumsi daging babi. Beliau datang dan ikut makan tanpa banyak tanya. (I’anah ath-thâlibîn syarh Fath al-Mu’în I/105).

Lalu sekelompok oknum di LPPOM MUI saat ini banyak menakut-nakuti umat dengan label awas tidak halal, alih-alih menyelamatkan umat dari mengkonsumsi makanan haram maka dibuatlan lembaga yang mensertifikasi kehalalan suatu produk; sekarang bahkan bukan hanya makanan tapi jilbab yang dikenakan.

Kehalalan Jilbab tentu saja tidak serta merta mengharamkan keberadaan Jilbab lain selain yang disertifikasi. Kalau sampai MUI menyatakan demikian, saya rasa pasukan emak-emak dari ribuan Majelis Taklim bakalan merangsek mendemo Majelis ini. Tapi apa lacur, sertifikat halal sudah dikeluarkan. Zoya, sebagai label lokal di bawah naungan PT. Shafco saat ini sedang bersorak gembira; tiket syurga lewat pintu jilbab halal sudah mereka pegang, kini tinggal bikin tagline dan jargon marketing yang makjleb, soal kompetitor merasa nyesek dan sakit hati soal lain; ini jelas strategi samudera merah (red ocean strategy).

Maka, jualan-pun dimulai!

Tidak seperti Nike yang mengusung motivasi, “Just do it!” Atau GE lewat tagline “We Bring Good Things to Light.” Zoya, berbekal sertifikat halal dari MUI, tak takut menyentuh ranah paling sensitif lewat slogan, “Yakin, HIJAB yang kita gunakan HALAL?” Tak puas dengan iklan ini, Zoya segera memproklamirkan diri sebagai produk jilbab pertama yang bersertifikasi halal, “Kerudung Bersertifikat Halal Pertama di Indonesia.” Sontak, para pembaca iklan ini bereaksi, ada perasaan dituding langsung, jutaan pengguna Hijab mulai berfikir jangan-jangan Hijab mereka terkategori HARAM.

Netizen marah, di timeline saya banyak berseliweran postingan bernada protes baik kepada Zoya yang jumawa maupun MUI yang lebay memasuki ranah pensertifikatan yang ngawur. Zoya tentu saja senang, produknya menjadi bubbling, dibincang orang sejagat, bahkan saya saja terpancing ikut menyuarakan dan entah sudah berapa puluh kali menuliskan kata ini; Zoya! (sejujurnya saya lebih senang menulis Zola, legendaris Chelsea yang bertubuh gempal tapi piawai menggocek bola).

Salah seorang netizen yang marah, Kalis Mardiasih, sampai menuliskan artikel satire di website Mojok, “Saat membaca iklan tersebut, saya yang sedang menggunakan jilbab kain paris sepuluh ribuan–yang setia berdiri di atas semua umat dan untuk semua golongan itu–rasanya ingin melepas jilbab saat itu juga sambil menangis meraung-raung. Sia-sia sudah kebanggaan saya berjilbab syar’i berbelas tahun yang telah saya curhatkan dengan fenomenal itu.”

MUI dan Sang Nabi

MUI tentu saja bukan Sang Nabi, meskipun secara personal ulama disebut pewaris para Nabi, tapi tentu tidak berlaku untuk keseluruhan ulama, ada banyak kualifikasi untuk sampai pada predikat pewaris nabi. Sang Nabi, maksud saya Rasulullah SAW, adalah pemegang otoritas tunggal atas wahyu Tuhan. Setelah beliau wafat, tidak ada satupun yang menggantikannya, sekelas sahabat sekalipun tidak otoritatif dalam “menerjemahkan” maksud Syâri’ (pembuat syari’at). Tetapi Sang Nabi memberi signal setuju atas ruang penafsiran lewat pintu ijtihad, ini-pun dengan syarat yang amat ketat. Karenanya, prosesi ijtihad sampai saat ini tidak satu suara, para ulama sangat berhati-hati dalam menentukan proses istinbâth al-ahkâm. Setelah al-Quran dan Hadits, para ulama masih berbeda pendapat mana yang dijadikan sumber hukum; Ijma’ (konsensus), Qiyas (analogi), ‘Urf (tradisi), aqwâl ash-shahâbah (pendapat sahabat), istihsan, syad adz-dzarî’ah dan lain-lain.

Para sahabat dan para ‘Ulama tempo dulu sangat berhati-hati dalam menetapkan status hukum, mereka belajar langsung dari pembawa risalah ini. Sang Nabi, sebagaimana saya tuliskan di pembukaan tulisan ini, sedemikian lentur dalam menghargai tawaran makan dari sebuah kaum yang meskipun sudah masyhur (terkenal) mengkonsumsi daging babi. Ini sejalan dengan kaedah ushul fiqh:

الْإِيْثَارُبِالْقُرْبِ مَكْرُوْهٌ وَهُوَ فِى غَيْرِهَامَحْبُوْبٌ

“Mengutamakan orang lain dalam urusan ibadah adalah makruh, dan dalam urusan selain ibadah adalah disenangi.”

Tentu saja Sang Nabi memiliki pengetahuan lintas batas, beliau pasti tau, yang disuguhkan bukan daging babi, tapi, diamnya beliau dan tanpa banyak tanya, merupakan isyarat syari’at bahwa agama tidak mempersulitmu untuk mengetahui hal-hal yang detail apalagi soal makanan. Kecuali tentu saja sudah terang benderang keharamannya.

Nah, kembali pada kasus sertifikasi halal, semestinya memang, MUI tidak bermain pada ranah ini, apalagi wilayah ini rentan dan bisa menggerus kemuliaan sikap ulama (‘iffah); antara menyelamatkan umat dan meraup untung lewat komersialisasi sertifikat. Wal’iyaudzu billâh, saya sama sekali tidak berburuk sangka, tapi lebih baik bermain bola di tengah lapangan ketimbang di tepi jurang, bukankah isyarat ini sering disampaikan saat menjelaskan syad adz-dzari’ah wahai Pengurus Majelis yang terhormat?

Ihwal penetapan Halal Haram

Apakah MUI berwenang menetapkan suatu produk itu halal? Rasanya kita sama mengerti kaedah ushul fiqh yang satu ini:

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

“Hukum asal dari sesuatu (muamalah/keduniaan) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya.”

Hukum asal sesuatu itu (dalam hal mu’amalah) adalah mubah sampai ada dalil yang melarang. Jelas sekali, kaedah ini membuat garis yang clear, terang benderang dan tak perlu penjelasan rinci. Kalaupun kita atau produsen mau bertanya hukum, misalnya soal Vaksin, maka setelah kita sampaikan proses pembuatannya, pertanyaannya adalah, “Apakah vaksin ini diharamkan?” Bukan mengajukan pertanyaan atau permintaan, “Mana dalil-nya kalau vaksin jenis ini halal?.”

Kalaupun MUI mau membuat pernyataan, nyatakanlah keharaman suatu produk, bukan kehalalannya yang teramat terang dijelaskan kaedah di atas. Dengan menyatakan keharaman, maka MUI sekedar mengafirmasi saja apa yang memang diharamkan oleh syari’at. Misalnya makanan ini mengandung unsur Babi, atau jenis minuman ini mengandung Khamr, atau transaksi trading jenis ini gharar (menipu); maka buat saja baliho yang ukurannya boleh melebihi model sertifikat yang dibuat selama ini dengan label; HARAM!

لاَ تُشْرَعُ عِبَا دَةٌ إِلاَّ بِشَرْعِ اللهِ , وَلاَ تُحَرَّمُ عاَ دَةٌ إِلاَّ بِتَحْرِيْمِ اللهِ

“Tidak boleh dilakukan suatu ibadah kecuali yang disyari’atkan oleh Allah, dan tidak dilarang suatu adat (muamalah) kecuali yang diharamkan oleh Allah“.

Demikian, saya menuliskan ini dengan gemetar, karena kopi solong yang saya teguk ini, baru saya tau belum tersertifikasi halal oleh MUI, saya hanya yakin, sahabat saya yang rutin mengirimnya setiap bulan dari Aceh, mendapatkannya langsung dari petani kopi; tapi apa mungkin kopi lezat ini tercampuri daun ganja yang terkenal itu. Soalnya rasanya itu bikin nagih. Eh. (liputanislam.com)

disalin dari blog Kyai Enha, enhamotivator.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL