Oleh: Ellen Febry*

Sepertinya tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2016, terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia sendiri kesehatan jiwa termasuk masalah yang mendesak.

Adalah Dwi Hartanto, seorang mahasiswa S3 di Belanda yang tengah menjadi perbincangan hangat lantaran kebohongan yang dia buat tentang berbagai prestasi akademiknya di bidang aerospace. Bahkan dia diklaim sebagai “the next Habibie”. Sayangnya mimpi indah Dwi sebagai ilmuwan antariksa harus kandas karena ulahnya sendiri.

Kasus semacam Dwi tidak hanya sekali-dua terjadi di Indonesia, meski pada ranah yang berbeda. Beberapa waktu yang lalu heboh pemberitaan tentang Afi Nihaya Faradisa yang melakukan klaim atas tulisan yang bukan karyanya. Publik sempat berdecak kagum karena kemampuan menganalisis dan menulisnya, padahal dia masih usia ABG. Namun, kemudian terkuak bahwa ternyata tulisannya adalah plagiat karya orang lain. Berkaca pada kasus Dwi dan Afi, generasi muda kita sebenarnya haus akan pengakuan dan prestasi. Maka berbagai cara ditempuh untuk mendapat pengakuan publik, meski harus berbohong. Hal ini erat kaitannya dengan gaya hidup era milenial yang sangat dipengaruhi oleh media sosial. Kebiasaan orang zaman sekarang, apa-apa maunya di-upload di medsos. Mau makan bukannya berdoa malah sibuk jeprat-jepret dan bikin caption.

Kecenderungan untuk selalu pamer dan eksis di media sosial ini berdampak buruk pada kesehatan jiwa. Ada keinginan untuk selalu tampil sempurna dan lebih baik daripada yang lain. Media sosial, disadari atau tidak, telah membuat hidup seseorang menjadi kompetitif. Sebagai orangtua dari anak-anak yang tumbuh di era internet, saya cukup khawatir melihat fenomena ini.

Internet khususnya media sosial seperti pisau bermata dua. Di satu sisi media sosial memang bermanfaat sebagai tempat bersosial baru menggantikan warung kopi, gerobak tukang sayur dan arisan ibu-ibu. Namun, di sisi lain media sosial juga kerap dijadikan ajang pencitraan dan kompetisi secara tidak langsung. Hidup kita yang tadinya adem ayem bisa berubah jadi galau tingkat dewa tatkala melihat postingan seorang teman seangkatan yang kini telah menyelesaikan studi S3, sementara kita masih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus balita.

Atau, hubungan dengan pasangan yang awalnya harmonis tiba-tiba berubah jadi sinis hanya gara-gara sensitif membaca postingan seorang ustad yang tampak bahagia dengan ketiga istrinya. Media sosial telah memaksa kita untuk tahu segala hal yang sebenarnya tidak penting untuk kita. Kalau kita tidak tahu pun sebenarnya tidak ada masalah, tidak sampai mengancam nyawa kita. Dan, kita telanjur menikmati berbagai suguhan di media sosial tanpa kita tahu mana yang bergizi dan mana yang membuat alergi.

 

Mendorong Mental Jujur

Dwi dan Afi adalah potret generasi muda kita yang haus pengakuan dan prestasi. Tak perlulah kita mencap mereka berlebihan. Justru yang seharusnya dilakukan adalah mendorong generasi muda bangsa ini untuk bermental jujur. Hal ini perlu ditanamkan sejak dini dan dimulai dari lingkup masyarakat paling kecil yaitu keluarga. Sebagai orangtua kita harus menekankan pentingnya kejujuran pada anak-anak sebagai prinsip hidup.

Kejujuran harus menjadi pilar keluarga. Anak yang jujur lahir dari orangtua yang jujur. Kebiasaan orangtua berbohong untuk mengalihkan perhatian anak harus dihilangkan. Pun kebiasaan menakut-nakuti anak dengan ancaman juga harus dihilangkan. Berbohong dan mengancam dalam proses pendidikan keluarga hanya akan menjadi bumerang bagi orangtua.

Afi dan Dwi mungkin pernah mengalami pengalaman psikologis yang kurang mengenakkan, entah dari keluarga atau teman-temannya. Budaya labelling yang masih kental dalam proses pendidikan baik di lingkup keluarga maupun sekolah turut memberi andil dalam kasus kebohongan yang mereka lakukan. Terlalu sering dicap bodoh, kuper, pendek, gendut dan selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain yang dianggap lebih baik, bisa menimbulkan trauma psikologi bagi anak dan remaja.

Mereka yang sudah kadung dicap buruk bisa jadi akan melakukan dua hal: benar-benar menjadi buruk karena menurut mereka percuma saja melakukan kebaikan karena sudah dicap jelek; atau, berusaha mati-matian menampilkan citra diri sebagai yang terbaik dan sempurna meski harus berbohong.

Oleh karena itu sudah saatnya kita sebagai orangtua membentengi anak-anak dari pengaruh negatif media sosial demi kesehatan jiwa generasi muda bangsa. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menanamkan kejujuran dalam diri anak. Tekankan pada mereka bahwa kita menyayangi mereka bagaimanapun kondisinya.

Diperlukan kebesaran hati setiap orangtua untuk menerima keunikan dari setiap anak. Masing-masing anak memiliki keistimewaan sendiri dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Jangan pernah menuntut anak untuk berprestasi di satu bidang sementara dia tidak berminat pada bidang itu. Biarkan anak tumbuh dengan keunikannya. Tugas orangtua hanya membimbing dan mengarahkan jika dirasa pilihannya akan merugikan dirinya sendiri.

Kedua, setop melabeli anak dengan label negatif. Kata-kata orangtua, khususnya ibu adalah doa yang paling mustajab. Daripada mencap mereka dengan sifat buruk, lebih baik mendoakan mereka menjadi orang baik, sukses dunia akhirat.

Terakhir, mari peluk anak-anak kita, buat mereka nyaman dengan keberadaan kita, sehingga mereka bisa lebih terbuka menceritakan perasaannya. Pelukan hangat orangtua adalah obat paling manjur bagi kesehatan jiwa anak. Tak peduli mereka masih kecil atau bahkan sudah berumah tangga, pelukan hangat orangtua akan selalu mereka rindukan. Mari kita bangun iklim positif dimulai dari keluarga, demi menciptakan bangsa Indonesia yang sehat jiwa dan raga. Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia! (LiputanIslam.com)

*ibu rumah tangga, pernah menimba ilmu di International Islamic Call College Libya, disalin dari Detik, 10 Oktober 2017.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL