kaulinan-budakolimpiade-olah-raga-tradisional-padjadjaran-03

Permainan tradisional Jawa Barat

Oleh: Ali Ahmadi

Mingkar mingkuring angkara

Akarana karenaning mardi siwi

Sinawung rasmining kidung

Sinuba sinukarta

Mrih katarta pakartining ngelmu luhung

Tumrap wong ing tanah Jawi

Agama ageming aji

 (Serat Wedhatama, KGPAA Mangkunegara IV)

Sekian ribu tahun yang lalu, Bapak Filosof Yunani, Socrates yang mulia, mengidamkan sebuah negara yang dipimpin oleh seorang Raja (yang) filosof. Kurang dari dua ratus tahun yang lalu, di Tanah Jawa telah hadir seorang raja (yang) filosof.

Kidung Pangkur di atas adalah sebuah di antara puluhan kidung Macapat yang ditulis Mangkunegara IV. Latar belakang penulisan Serat Wedhatama, tertuang secara jelas dalam baris pertama kidung di atas:

Mingkar mingkuring angkara (merajalelanya angkara). Tujuannya jelas, yaitu supaya agama menjadi “ageman” dan “aji” orang-orang di Tanah Jawi. Langkahnya juga dijelaskan, yaitu mardi siwi (mendidik anak, generasi muda). Cara mendidik , dengan sinawung rasmining kidung, sinuba sinukarta  (menggunakan bentuk kidung atau nyanyian, dengan cara yang indah dan menyenangkan).

Praktis seluruh tujuan, sasaran, dan metode pendidikan (agama, budi pekerti) sudah tergambarkan dalam satu kidung di atas. Lalu apa anehnya?

Selama beberapa waktu terakhir, istri saya sangat prihatin dengan pengalaman anak saya. Masuk kelas 1 SD, dijejali berbagai muatan pelajaran yang sebenarnya berdasar kacamata psikologi pendidikan belum waktunya untuk diajarkan pada anak-anak seusianya.

Berhitung sampai orde ratusan, lalu pengurangan tekor (pengurang lebih besar dari terkurang), hingga membaca kata-kata berimbuhan kompleks. Siswa juga disuguhi dengan sajian teks dengan kalimat-kalimat panjang. Disuruh membuat puisi belasan baris. Menulis berlembar-lembar setiap hari. PR menumpuk setiap malam.

Betapa melelahkan menjadi anak sekolah. Barangkali inilah hasil dari filosofi, “lebih baik seribu anak stress daripada sejuta anak bodoh”. Mudah-mudahan anak-cucu pencetus filosofi ini dijauhkan dari karma akibat kegegabahan yang menghasilkan anak-anak stress ini.

Betapa anehnya bahwa kita bisa tercerabut dari akar pendidikan anak yang diwariskan leluhur kita. Yang sekarang justru banyak diserap dan diimplementasikan oleh bangsa-bangsa lain. Pendidikan anak yang indah dan menyenangkan.

Pendidikan yang ada membuat anak-anak stress, mereka tidak lagi menangkap intisari dari pelajaran yang mereka peroleh. Mau bicara sains-natural ketinggalan, mau bicara sastra tidak berdaya, mau bicara sains-sosial tersengal-sengal, mau bicara moral pun jatuhnya abal-abal, dan bicara agama pun cuma sebatas dogma.

Maka tidak aneh kalau kemudian banyak anak didik kita menjadi anak-anak yang terbodoh sedunia. Tak perlu merasa ganjil pula kalau anak-anak kita lebih suka menyerobot antrean, mem-bully teman, tidak kenal sopan santun, bahkan sampai kekerasan seksual pun dilakukan anak-anak dibawah umur.

Tidak ada jalan lain. Kita harus mengembalikan anak-anak pada dunianya. Dunia bergerak, bermain, bergembira, bernyanyi, berkarya seni. Sinawung rasmining kidung. Sinuba sinukarta.

 

————————————–
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL