Oleh: Ayudia az-Zazhra, Blogger

Setelfoto israel vs suriahah lima kali diserang Israel pada tahun 2013, tak lantas menjadikan Presiden Suriah Bashar al-Assad memerintahkan tentaranya untuk membalas. Saat itu, seorang pendukung pemberontak di Suriah bertanya kepada saya, “Kenapa Assad diam saja melihat markas militernya, pusat penelitiannya dan tentaranya dihancurkan seperti itu tanpa ada perlawanan? Apakah Assad takut kepada Israel? Atau jangan-jangan, Assad sebenarnya adalah sekutu Israel?”

Dalam sebuah peperangan, salah satu penentu kemenangan adalah strategi. Lihatlah bagaimana strategi Sultan Muhammad Al-Fatih mengangkut  kapal-kapalnya melintasi gunung hanya dalam satu malam dalam penaklukan Konstantinopel.  Demikian pula halnya dengan Iran. Skandal Iran Contra yang  sering dijadikan “amunisi” Takfiri untuk pembenaran teori Amerika bersahabat dengan Iran —  sesungguhnya merupakan kemenangan strategi perang Iran. Dengan lihai Iran mempecundangi Amerika Serikat, dan menggunakan senjata AS untuk melawan Irak.

Sebagai negara yang sedang dilanda konflik—Suriah harus berhitung cermat jika ingin balas menyerang Israel. Suriah hari ini, berbeda dengan Suriah yang dulu. Dulu, meski diembargo karena tidak mau berdamai dengan Israel, semua bisa diatasi karena Suriah adalah negara yang mandiri. Hampir semua kebutuhan pokok dapat dipenuhi sendiri mulai dari gandum, sayur sayuran, buah buahan, daging, semua produk susu, minyak zaitun dll. Bahkan dieskpor ke negara negara tetangga seperti Yordania, Lebanon, dan negara negara Teluk. Dan untuk persenjataan, Suriah bekerja sama dengan Rusia. Yang sangat mengherankan, di tengah embargo seperti itu, hutang Suriah adalah nol. Itulah sebabnya Suriah tidak bisa ditekan oleh siapapun. Suriah juga melarang adanya import barang-barang yang bisa diproduksi di dalam negeri. (LiputanIslam, 17 Februari 2014)

Namun saat ini kondisi rakyat Suriah sangat mengenaskan. Menurut laporan yang bertajuk “Manusia Tersia-siakan” dari Pusat Penelitian Kebijakan Suriah yang bermarkas di Damaskus, bekerja sama dengan badan PBB untuk pembangunan (UNDP) dan badan PBB untuk pengungsi Palestina, mengungkapkan bahwa tigaperempat penduduk Suriah hidup dalam kemiskinan, 54,3 persen dalam kemiskinan akut.

Lebih lanjut ditegaskan, sekitar 20 persen rakyat hidup dalam “kemiskinan terburuk”, yaitu mereka yang berada di kawasan konflik, terkepung, dan dihadapkan pada masalah kelaparan serta kekurangan gizi. Jumlah pengangguran melonjak dari 10,3 persen pada 2011 menjadi 54,3 persen pada akhir 2013. Dan sebanyak 2,7 juta orang kehilangan pekerjaan. (AntaraNews, 31 Mei 2014)

Dalam keadaan “sakit” seperti ini, apakah masuk akal jika Suriah menyerang negara lain? Suriah tidak langsung membalas serangan udara Israel karena serangan balasan kepada Israel akan menyulut pecahnya perang yang lebih besar. Dipastikan, Amerika Serikat dan NATO akan benar-benar melakukan intervensi militer secara langsung terhadap Suriah untuk membela Israel. Lalu, sekutu Suriah yaitu Iran dan Rusia tidak akan tinggal diam dan balas menyerang.

Iran berkali-kali mengancam akan menyerang Israel jika Amerika Serikat berani menyerang Suriah. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi menekankan bahwa serangan militer terhadap Suriah oleh AS dan sekutunya akan berdampak kehancuran untuk rezim Israel. Iran memastikan, bahwa jika Suriah “dibakar”, maka Israel juga akan hangus. (Press TV, 29 Agustus 2013)

Selain itu, operasi militer yang saat ini sedang dimasifkan oleh pemerintah Suriah adalah membasmi kelompok teroris. Jika konsentrasi mereka dipecah (sebagian pasukan bertempur melawan Israel, dan sebagian lagi melawan teroris), maka pertahanan Suriah akan melemah dan semakin mudah dihancurkan. Kemenangan akan sangat sulit didapat jika pasukan berpencar-pencar. Yang kita lihat hari ini justru sebaliknya, pasukan SAA (Syrian Arab Army), Tentara Perlawanan Hizbullah, NDF (National Defence Force) justru bahu-membahu melawan pemberontak.

Membalas Israel adalah keputusan membabi buta, tidak rasional dan akan sangat sulit untuk dilakukan, dan lebih mirip bunuh diri. Dan tindakan seperti ini tidak akan diambil oleh “Singa” Suriah Bashar al-Assad, sosok yang tenang dan penuh pertimbangan.

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL