asy-syahid-hasan-al-bannaOleh: Rizal Pasyaalamsyah

Boleh jadi kekaguman kepada partai yang dibentuk oleh Gerakan Tarbiyah ini tak lagi seperti dahulu. Sistem tarbiyah yang diharapkan melahirkan politisi yang menjunjung tinggi moralitas politik serta aktifis dakwah yang santun dan Islami, sepertinya menuai kegagalan, pragmatisme telah melahirkan para aktifis yang hampir mendekati prilaku kaum Nawashib.

Sebagian ulama berpendapat Nashibi diartikan sebagai para pembenci Ahlul Bait, sementara itu Imam Ja’far Ash Shadiq menjelaskan, “Nashibi bukanlah orang yang menentang kami Ahlul Bait, karena Anda tidak akan mendapati seorang yang berkata: “Aku membenci Muhammad dan Keluarga Muahmmad”, tetapi Nashibi adalah orang yang menentang kalian karena kalian berwilayah kepada kami (tatawalluna) dan sesungguhnya kalian adalah Syiah (pengikut )kami. Kemudian Imam Ja’far berkata lagi: Barangsiapa yang menentang menghina dan mencaci kalian (karena kesyiahan kalian), sekalipun ia ahli ibadah, maka dia tidak dapat terlepas daripada ayat “Muka-muka pada hari itu tunduk dan terhina, bekerja keras kepada kepayahan (‘aamilatun nasibah), memasuki api neraka yang amat panas (QS 88 : 2-4).” (Bihar al anwar Juz VIII hal 356).

Berbeda dengan sikap dengan Tarbiyah PKS, Imam Hasan Al Bana – pendiri Ikhwanul Muslimin – justru diketahui sebagai tokoh Islam kontemporer yang menghidupkan ide pendekatan Sunni-Syiah. Al Ustadz Salim Al Bahnsawi berkata dalam buku “Al sunnah Al Muftara ‘Alaiha, “Sejak terbentuk kelompok-kelompok pendekatan antara mahdzab-mahdzab Islam yang di koordinir oleh Hasan al Banna dan Imam Al Qummi serta anggota solidaritas (Islam), maka berdampinganlah antara Ikhwanul Muslimin dengan Syiah, yang kemudian dilanjutkan dengan kunjungan Imam Nawab Shafawi ke Kairo pada tahun 1954”

Jauh sebelumnya, Hasan al Banna pernah bertemu dengan Ayatullah Al Kasani pada musim haji tahun 1948, dalam pertemuan itu terjalin kesepakatan mengenai program pendekatan antar mahdzab. Al Ustadz Abdul Muta’al Al Jabri – aktifis Ikhwanul Muslimin dan murid Hasan al Banna – menuliskan dalam bukunya, Limadza Uqhtuyila Hasan al Banna, “Seandainya Hasan al Banna berumur panjang niscaya akan mampu merealisasikan beberapa hal aktual di negeri ini, terutama setelah adanya konsensus antara Hasan al Banna dan Ayatullah Al Kasani tentang pendekatan mahdzab Sunni dan Syiah.”

Apakah Tarbiyah/PKS tengah tergerus idialitasnya, sehingga lebih memilih jalan yang bertentangan dengan jalan persatuan yang diusung oleh Hasan al Banna? Apakah pula ongkos politik yang terlalu mahal sehingga pragmatisme politik lebih menggoda daripada idealismenya sehingga Gerakan Tarbiyah mesti merapat ke kubu kelompok penyokong gerakan takfiri radikal? Adakah Tarbiyah lebih memilih jalan takfiri Nashibi ketimbang jalan Hasan al Banna? (LiputanIslam.com)

—-

Refrensi :

Al Sunnah wa al syi’ah Dojjah Mufta’ala, Karya Dr Izzudin Ibrahim. (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ” Polemik Sunnah syiah Sebuah Rekayasa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL