erdogan visit sy aliOleh: Ayudia, Blogger

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat dihebohkan dengan foto  “tak biasa” dari seorang Anis Matta. Presiden Partai Keadilan Sejahtera tersebut kedapatan berziarah ke makam mantan Presiden Soeharto dan Ibu Tien di kompleks pemakaman Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah, beberapa waktu sebelum dilangsungkannya Pileg pada tanggal 9 April 2014.

Dengan mengenakan kemeja batik ungu muda, berpeci hitam dan senyum sumringah, Anis berkata kepada wartawan yang menyertainya, “Bagaimanapun kita berhutang budi pada beliau (Soeharto) yang berhasil membangun persatuan di tengah kekacauan yang luar biasa,” seperti dilansir Republika Online, (5/4).

Kunjungannya tersebut menuai kontroversi, dan tentunya lebih banyak yang mencemooh lantaran selama ini PKS yang dikenal berpaham Wahabi yang anti ziarah kubur. Voa Islam misalnya, tak segan segan mengkritik tindakan Anis yang dianggap telah merubah PKS yang pada awalnya adalah Partai Dakwah, berubah menjadi Partai Syirik.

Menurut Voa Islam (7/4), PKS dahulunya adalah partai dakwah, karena dilahirkan oleh para aktivis dakwah, dan bercita-cita ingin menegakkan Islam melalui dakwah, kini menjadi partai terbuka, dan secara eksplisit menolak penegakkan Syariah Islam. Masa depan Islam tidak dapat dibangun dengan cara meminta ‘restu’ orang yang sudah mati, atau dengan cara menampakkan sosok PKS sebagai bagian dari masa lalu Bung Karno atau Soeharto, betapapun mereka dianggap berjasa. Apalagi, kalau selama berkuasa mereka membuat carut-marut kehidupan bangsa. Semua tidak ada gunanya bagi PKS atau bangsa.

Sedangkan Islam Times menanggapi berbeda. Menurutnya, Anis Matta yang juga pengagum berat gembong teroris Osama ben Laden ini rela melakukan perbuatan yang dianggap bid’ah oleh Wahabi dengan melakukan ziarah ke makam tidak lebih dari sekedar tebar pesona untuk  memikat hati kaum muslimin, yang dengan itu seolah-olah partai PKS pendukung toleransi. Selama ini, PKS dikenal sebagai partai rasis intoleran.

Jika di Indonesia ada PKS, di Turki ada AKP atau Adalet ve Kalkınma Partisi(Partai Keadilan Pembangunan) yang keduanya berideologi Ikhwanul Muslimin, dan AKP dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan.

Tiga tahun silam, Erdogan juga melakukan hal serupa sebagaimana yang dilakukan oleh Anis Matta. Ke makam Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang terletak di Najaf, Erdogan bertandang. Menurut World Buletin (29/3/2011), Erdogan berdo’a sebagaimana lazimnya para peziarah dan setelahnya, ia mengunjungi ulama Syiah Irak Ayatullah Ali Sistani. Tentu saja, kunjungan Erdogan yang merupakan pemimpin dari muslim Sunni kepada ulama Syiah diharapkan mampu membawa angin segar atas konflik yang terjadi di Irak, maupun Bahrain yang berbau sekterian.

Sang Perdana Menteri Turki terlihat mengulurkan tangannya untuk memulai persahabatan dan mengikis jurang perbedaan Sunni Syiah, sampai sampai rela melakukan ziarah kubur, yang pastinya juga dianggap bid’ah atau syirik dalam pandangan Wahabi, dan yang mencengangkan, Erdogan berziarah ke makam Sayyidina Ali yang selama ini dikenal sangat diagungkan dan dicintai melebihi para Khalifah/ sahabat Nabi Saw yang lain oleh pemeluk mazhab Syiah. Mungkin, supaya terlihat toleran?

Namun sayangnya, Maret 2011 adalah awal mula dari konflik berdarah Suriah. Dan faktanya, Erdogan sangat terlibat atas hancurnya negara Suriah, atas jatuhnya lebih dari 140.000 korban jiwa, atas syahidnya ulama dan para santri Suriah, juga terlibat aksi terorisme di Suriah.

Di Suriah, Erdogan memberlakukan kebijakan luar negeri yang sangat membahayakan dengan membiarkan negaranya menjadi markas para teroris yang bertempur di Suriah. Erdogan juga membiarkan perbatasannya menjadi tempat keluar masuk pagi para jihadis, memberi mereka pasokan senjata, menyediakan pangkalan militernya untuk digunakan Israel memborbadir Suriah, dan terakhir, Erdogan melakukan operasi bendera palsu atas Suriah.

Namun yang paling paradoks dari itu semua adalah, konflik Suriah diwarnai dengan isu Sunni  Syiah yang disebarluaskan secara keji ole media mainstream. Kalau saja Erdogan memang toleran dan tulus hati mempersatukan kaum muslimin dengan segenap perbedaannya, pastinya dia akan bersuara lantang untuk menolak isu Sunni Syiah di Suriah hasil propaganda media Zionis. Sayang sungguh sayang, sampai hari ini hal itu belum terjadi, dan mungkin hanya akan terjadi hingga kita temukan seekor sapi bersayap yang terbang tinggi di angkasa.

 

——–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 
 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL