TalentOleh: Dedy Dahlan*

Ada bakat, ada minat.

Banyak orang yang bilang bahwa kalau sampai minat dan bakat Anda bisa pas ada di bidang yang sama, berarti Anda termasuk orang- orang dalam kategori hoki. Mungkin sama hokinya dengan orang yang …

Lalu bagaimana kalau ternyata bakat dan minat Anda berbeda? Atau malah lebih parah lagi, bakat dan minat Anda ujung- ujungan, misalnya bakatnya memecahkan masalah, eeeh taunya minatnya cari masalah. Apalagi kalau tampang Anda adalah masalahnya. Wah bisa berabe itu.

Nah, tetapi seriusnya nih, perbedaan antara bakat dan minat seringkali memang bisa bikin kita bingung dan jadi sulit menentukan pilihan. Dan seringkali, pilihan yang harus kita ambil adalah pilihan penting seperti jurusan kuliah, atau pilihan jangka panjang seperti pilihan karir dan profesi.

Saat inilah kita harus lebih serius memikirkan pilihan kita. Mana pilihan terbaik? Mana pilihan yang akan membawa Anda ke masa depan lebih baik? Mana yang bakal Anda pilih? Semua ada di tangan Anda!

Menurut saya, saat bakat dan minat kita berbeda, pilihlah MINAT. Minat Anda lebih punya potensi melejitkan keberhasilan Anda dalam jangka panjangnya!

Kenapa? Sebenarnya alasannya lebih sederhana dari yang Anda sangka.

Alasan pertama, bakat tanpa minat tidak memberikan motivasi pribadi

Bakat seringkali sinonim dengan skill dan keahlian. Atau mungkin tepatnya disebut keahlian ‘titik start’ atau faktor ‘kuadrat’ dari skill Anda di bidang tersebut. Masalahnya, walaupun punya bakat, tapi kalau tidak diiringi oleh keinginan untuk mengembangkannya, maka bakat tersebut sia- sia saja.

Akhirnya, orang- orang ‘berbakat’ seperti inilah yang sering Anda jumpai memiliki ketergantungan pada motivator atau dorongan teman- temannya untuk terus ngembangin bakatnya.

Alasan kedua, ‘bakat’ (alias skill) bisa dilatih, melatih minat jauh lebih sulit

Apa sih yang suka kita bilang sebagai ‘bakat’? Dan kapan kita bilangnya? Biasanya, kita mengatakan hal ini setelah terbukti kita bisa melakukannya. Gigih berlatih juga bisa memberi hal yang sama!

Di artikel saya “Bagaimana menjadi Jenius dalam hal apapun”, saya sudah membahas kunci untuk menjadi orang ‘berbakat’. Apa kuncinya? Terus maju, terus mencoba, dan terus mengembangkan diri sampai orang- orang di sekitar Anda mengatakan, “Gilaaa, bakat lu mah”, walaupun pada awalnya sebenarnya Anda tidak bisa apa- apa.

Minat menumbuhkan rasa penasaran, dan membuat kita mencoba untuk terus mempelajari hal baru dan terus berlatih. Pada akhirnya, ini akan membuat kita jadi semakin jago dan semakin ahli. Atau bahasa masyarakat sih, “berbakat banget sih luh”. Anda jawab saja, “Ah, cuma pake minat kok”.

True story, saya dulu tidak pernah ‘berbakat’ jadi public speaker atau penulis. Tapi setelah berhasil jadi penulis best seller, mendadak semua orang bilang kalau saya “berbakat”. Enak saja! Latihannya susah dan lama, tahu!

Alasan ketiga, minat membuat daya tahan Anda lebih kuat.

Dalam perjalanan Anda menuju sukses, selalu ada halangan dan hambatan. Apalagi saat Anda mencoba mengembangkan profesi dan bisnis pilihan Anda. Ribuan orang berbakat berhenti berusaha karena nggak kuat menghadapi tantangannya.

Saya merasakan sendiri dalam perjalanan saya membangun bisnis- bisnis saya. Tanpa minat, saya yakin saya sudah menyerah. Tanpa enjoy, saya yakin saya udah jatuh dan tidak mau bangun lagi.

Pada saat Anda jatuh, bukan bakatlah yang menggerakkan kaki Anda untuk kembali berdiri, tapi minat, hati, dan tanggung jawab.

Nah, Anda mungkin sekarang bertanya- tanya, lalu bagaimana cara memilih minat, saat bakat Anda masih sangat dibutuhkan untuk mengisi perut Anda hari ini? Apalagi saat skill Anda dalam bidang minat Anda masih butuh waktu untuk dilatih?

Well, Anda selalu bisa melakukan hal- hal ini.

  1. Gabungkan bakat dan minat dalam bidang usaha yang sama

Cobalah gabungkan bakat dan minat Anda dalam bidang yang sama. Walau nampaknya berbeda jauh, selalu ada cara untuk membuat keduanya saling mendukung satu sama lain. Misalnya, bakat marketing dengan minat menulis? Tulislah buku tentang marketing, atau pakai bakat Anda dalam berjualan untuk menjual blog Anda.

  1. Cari benang merah yang menghubungkan keduanya

Kadang-kadang, walau terasa berbeda, ternyata masih ada benang merah yang menyatukan bakat dan minat Anda. Misal, bakat Anda ternyata adalah public speaking, padahal minat Anda adalah musik. Benang merahnya? Keduanya berhubungan dengan dunia performance panggung!

  1. Jalankan dengan kedua kaki

Saat ternyata kedua bidang bakat dan minat ternyata tidak ada hubungan sama sekali, maka jalankan dulu dengan ‘kedua kaki’. Artinya, Anda tidak perlu langsung ‘fokus’ hanya pada satu hal semata di detik ini juga. Hidup itu dinamis. Besok enggak ada yang tahu.

Daripada mengambil risiko terlalu besar untuk langsung beralih ke bidang minat, ataupun langsung memutuskan fokus sampai akhir hayat di pekerjaan sekarang demi perut, belajar bagi waktu untuk melakukan keduanya.

Jalankan profesi sesuai bakat Anda untuk makan hari ini, tapi gunakan waktu sisa dan pendapatan dari profesi ini untuk membangun profesi sesuai minat untuk jangka panjang!

Saatnya akan tiba untuk beralih pindah dan fokus pada bidang minat Anda nantinya. Dan saat hari itu tiba, Anda bisa merasakannya!

Jadi, saat bakat dan minat Anda bertentangan, analisalah kondisi yang ideal dan pilihan terbaik untuk Anda. Kalau definisi sukses Anda melibatkan kata “bahagia” dan “enjoy”, maka jangan abaikan yang namanya Minat!

*Passion coach yang juga penulis best seller dari buku Lakukan Dengan Hati, Ini Cara Gue, dan Passion!–Ubah Hobi Jadi Duit. Disalin dari Kompas, 1 September 2016.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL