Oleh: Iqbal Aji Daryono*

“Sejujurnya, kita ini kan tidak bisa lepas dari apa yang kita peroleh sejak kecil ya, Mas. Apa yang telah ditanamkan di hati kita dalam jangka waktu sangat lama menjadi sesuatu yang kita cintai, dan menjadi bagian dari diri kita sendiri. Makanya, ketika ada orang berbicara sambil menertawakan sebagian ajaran agama kita, misalnya, mungkin kita menahan diri. Tapi, rasa sakit tetap ada.”

Kiai Mulyono mengucapkan itu sambil mengunyah sepotong sate klathak yang agaknya sedikit alot. Malam itu beliau mengajak saya nge-date di warung sate yang ikut kondang karena film AADC itu. Sebagai seorang juragan merangkap ulama, tentu Kiai Mulyono tidak punya banyak waktu. Eh, di waktu sesempit itu ia malah bicara soal berat-berat begini.

Lha yo jelas to, Pak Yai,” saya menyambar ucapan beliau. “Saya sendiri emangnya nggak merasa begitu? Meski saya terkesan liberal, tidak bersepakat bahwa Ahok menistakan Islam, misalnya, itu memang karena saya tidak melihat muatan penghinaan agama pada ucapannya di Pulau Pramuka. Kalimatnya itu semata hujatan kepada perilaku penganutnya. Tapi, soal sakit hati tadi bukannya saya tidak punya, Pak Yai.”

Kiai Mulyono menatap saya. Saya merinding menghadapi wibawa beliau yang memancar-mancar tak terkalahkan itu.

“Begini, Pak Yai,” saya melanjutkan, setelah mulai menyalakan rokok. “Kita ambil contoh kasus Charlie Hebdo di Prancis, misalnya. Itu yang paling klir. Ada orang menggambar komik Nabi Muhammad, lalu menertawakan beliau, mengejek-ejek beliau junjungan kita. Naaah, itu jelas penghinaan! Sangat beda dengan kasus Ahok!”

Kiai Mulyono manggut-manggut. Saya meneruskan:

“Makanya, menyambung yang Pak Yai sampaikan tadi, andai saya berada dalam sistem hukum seperti di Prancis yang tidak bersikap apa pun atas penghinaan seperti itu, yang tidak melindungi perasaan kita atas kesakralan sesuatu yang kita sakralkan, ya bahkan saya tidak cuma sakit hati. Bukan mustahil saya sendiri ikut nggebuki para penggambar dan pencemooh Kanjeng Nabi itu!”

Cantrik muda yang duduk di sebelah Kiai Mulyono melongo tegang mendengar kalimat saya. Tiba-tiba saya merasa kejam dan barbar. Sebenarnya ingin sekali saya menjelaskan lebih lanjut bahwa kemarahan seperti itu cuma akan terjadi dalam sebuah lingkungan yang membuat kita putus asa dan depresi, karena tidak menemukan saluran legal sama sekali untuk membela sesuatu yang kita yakini suci. Artinya, di Indonesia itu tidak akan terjadi.

Namun, saya urungkan niat mulia saya. Biar saja cantrik itu ngeri menatap saya.

***

Percakapan malam itu terngiang kembali hari ini. Di hari-hari selepas kericuhan akibat vonis 1,5 tahun atas Mbak Meiliana van Tanjung Balai, mulai bermunculan lagi tuntutan dari banyak orang untuk menghapus pasal penistaan agama sepenuhnya dari KUHP. Alasannya apa lagi kalau bukan perlindungan atas kebebasan berpendapat dan bersuara? Yaaa, yang ala-ala Eropa gitu, deh.

Saya sendiri termasuk pembela Mbak Meilina, jika memang ucapan yang dia lontarkan itu sebatas protes atas terlalu kerasnya suara azan (sayang sekali informasi kian simpang siur antara “memprotes terlalu kerasnya suara azan” atau “menolak azan”, jadi untuk sementara kita lupakan dulu kasus satu itu). Tapi, bukan berarti saya menganggap bahwa penistaan atau penghinaan agama itu tidak ada. Ia ada, pernah ada, dan tetap potensial muncul di tengah kehidupan kita dalam berteman dan bertetangga. Maka, kontrol atas itu pun semestinya ya ada.

Persoalannya kemudian memang terletak pada wilayah tafsir yang berakar pada pasal karet penistaan. Pasal 156 KUHP itu rentan ditafsirkan ke kiri dan ke kanan, dan itu sangat memualkan.

“Barangsiapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Pasal tersebut masuk dalam rencana revisi sesuai RUU KUHP 2018, dengan PR pemerincian lebih lanjut tentang makna “penghinaan”. Sebelum sisi itu diperjelas, selamanya ia akan sangat mudah ditafsirkan secara subjektif.

Maka, sebagai contoh, apa yang sejatinya tak lebih dari protes atas perilaku umat beragama ditafsir potong-kompas jadi penghinaan atas agama. Apa yang sebenarnya keyakinan murni milik suatu kalangan, dianggap penistaan atas suatu agama besar.

Lho, jadi kamu mengejek orang yang memakai ayat ini? Mengejek orangnya? Bukan mengejek agamanya, katamu? Ingat, yang mengucapkan ayat ini adalah ulama. Ulama adalah pewaris Nabi. Nabi adalah pembawa risalah agama. Maka, mengejek ulama adalah menghina agama! Kamu adalah penista agama! Kamu akan segera kena empat tahun penjara!”

Coba, berapa kali Anda mendengar logika potong-kompas semacam itu diucapkan? Pasti sering. Dan, sialnya, nalar demikian acap kali diamini dan dilegalisasi oleh perangkat-perangkat hukum.

“Kami menghormati kebebasan beragama! Tapi, penistaan agama, kami tidak akan terima!”

Ucapan itu keluar dari seorang tokoh yang saya takut menyebut namanya. Dengan berapi-api, tokoh kita itu menyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah (yang memang diimani oleh para pengikutnya) adalah bentuk penistaan atau penodaan atas ajaran Islam. Padahal, kalau logika seperti itu diterima dengan semena-mena, maka ajaran Islam pun adalah penistaan atas ajaran Kristen, ajaran Kristen adalah penistaan atas ajaran Islam, dan setiap saat kita akan senantiasa bermain nista-nistaan.

Lihat, betapa absurdnya istilah penghinaan, penistaan, penodaan, kebencian, dan permusuhan. Penafsirannya kabur, ruang interpretasinya terlalu lapang, pemaknaannya bisa mulur-mlungkret tidak keruan.

***

Dengan absurditas istilah penistaan, para pemuja kebebasan individu menuntut penghapusan pasal penistaan agama. Tak tanggung-tanggung, bahkan kelakuan seperti Charlie Hebdo pun dianggap tidak layak dijerat dengan tuduhan penistaan atau penghinaan agama. Semua itu murni kebebasan berekspresi, kata mereka.

Pada sekitaran kasus heboh Charlie Hebdo yang memunculkan tagar #JeSuisCharlie itu, saya sendiri melihat beberapa kawan memunculkan komik lelucon dari umat Kristiani. Di situ tokoh yang digambarkan adalah Yesus Kristus sendiri. Bersama komik itu, terlampir pernyataan, “Di tempat kami biasa saja tuh, tidak ada yang marah dengan komik seperti ini.”

Aduh, mohon maaf, tunggu dulu. Ini nalar kacau juga. Begini, Mbak. Setiap agama memiliki sistem kepercayaan masing-masing. Setiap sistem kepercayaan menjunjung sekian hal yang disakralkan, yang tidak selalu sama dengan sekian hal dalam sistem kepercayaan yang lain. Apa yang sakral dalam Islam belum tentu sakral dalam Kristen, apa yang sakral dalam Kristen belum tentu sakral dalam Hindu, dan seterusnya.

Maka, mengukur kepantasan di satu ajaran dengan sudut pandang ajaran yang lain jelas-jelas menjadi bentuk sesat pikir yang parah. Mengukur kelayakan hal-hal yang disucikan dalam Islam dengan kacamata Kristen itu serampangan. Sama persis, mengukur kelayakan hal-hal yang disucikan dalam Kristen dengan kacamata Islam itu ngawur.

Sesat pikir semacam itu sama sekali tidak dapat dijadikan landasan untuk penghapusan total atas pasal penghinaan agama. Yang mendesak dilakukan bukanlah menghapus pasal penistaan, melainkan membatasi pemaknaan dan menetapkan rumusan yang jelas atas istilah “penghinaan”.

Jika yang semacam itu saja masih sulit disepakati, sepertinya malam ini saya mendingan nyate klathak bersama Kiai Mulyono lagi. Di situ Pak Kiai pasti akan kembali bergumam:

“Sejujurnya, kita ini kan tidak bisa lepas dari apa yang kita peroleh sejak kecil ya, Mas. Apa yang telah ditanamkan di hati kita dalam jangka waktu sangat lama menjadi sesuatu yang kita cintai, dan jika apa yang kita cintai itu ditertawakan maka kita akan sakit hati. Sayang sekali, yang seperti itu tidak dianggap ada sama sekali, atas nama agama Eropa yang disebut kemerdekaan berekspresi.” (LiputanIslam.com)

*esais, tinggal di Bantul, disalin dari Detik, 28 Agustus 2018.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*