UIOleh: Abu Yasar, STAI Madinatul Ilmi Depok

Dalam kesadaran normatif kita, ukhuwah Islamiyah mungkin sudah bersifat “given” – seolah – olah sudah jelas bentuknya, wujudnya, dan jelas pula sifat-sifatnya. Implikasi dari kesadaran ini mungkin jelas: pemahaman kita lalu mandek, menjadi sejenis benda padat, stagnan dan final.

Dilihat dari sudut sosiologi, terutama dalam konteks proses sosial yang masih terus berlangsung – dan jelas memperlihatkan bahwa segala sesuatu pada dasarnya masih sibuk “ membentuk” dirinya – pemahaman seperti itu mengakibatkan kebekuan, dan tidak menarik. Sebab dalam hidup, sesuatu yang sudah jadi – termasuk model pemikiran – sering tidak bersedia diajak “tawar-menawar”. Sekali “jadi” tetap “jadi”. Dan karenanya, persepektif lain tidak boleh hadir. Kreativitas dan pemikiran kritis ditolak.

Tentunya kita tidak ingin hidup di bawah tirani kesadaran normatif seperti itu. Maka betapapun sukar jalan keluar harus dibangun agar kebebasan dalam pemikiran maupun pemahaman atas perkara hidup, termasuk pemahaman agama – bisa kita nikmati. Kita tidak ingin agama yang ramah, yang turun ke bumi untuk mengatur dan menata kesejahteraaan ,manusia itu kita pahami secara kontrapoduktif, menjadi sesuatu yang malah menakutkan.

Apa yang mesti dilakukan? Mungkin kita perlu membebaskan diri kita dari dominasi pemikiran keagamaan yang dogmatik meskipun itu datang dari para ahli yang diagungkan namanya. Kita diminta menolak dogmatisme karena ia cenderung serba normatif dan hitam-putih jalan penalarannya. Tapi bukankah agama memang normatif, dan hitam-putih pula tawarannya?

Agama memang normatif sejak dari sumbernya. Dan “warnanya” pun serba hitam-putihtapi sikap kita, cara pendekatan kita, cara penerjemahan dan interpretasi kita – khusunya dari sudut ilmu sosial – harus penuh nuansa. Bahkan harus dibangun  paradigma yang membebaskan. Sebuah paradigma bisa dianggap menawarkan semangat pembebasan jika ia mampu mratakan jalan dan membuka kemungkinan bagi transformasi sosial dalam lingkup kehidupan disekitar kita. Paling tidak perubahan pada tingkat kesadaran kita, mesti lebih dulu diwujudkan.

Agama boleh saja menawarkan jalan kebenaran, tapi kita tak boleh merasa paling benar. Agama boleh menawarkan jalan kemenangan, tapi kita tidak boleh cenderung ingin menang sendiri. Allah, yang memiliki agama itu, boleh bersikap serba – mutlak, tapi bukankah kita sendiri cuma makhluk serba lemah, kekurangan, dan tidak mutlak?

Dengan tingkat kesadaran seperti ini bukan cuma sikap toleran yang kita bangun, melainkan juga keterbukaan untuk menerima corak kebenaran lain. Dan kita dengan begitu hidup dalam pencerahan terus-menerus. Kita tidak beku. Kita tidak gelap. Dari mana kemunduran cara pandangan dan kemapanan wawasan macam itu lahir? Boleh jadi dari kita sendiri, karena kita cenderung memahami sesuatu secara fanatik. Tetapi bisa juga hal itu lahir dari proses belajar dalam suatu sistem pendidikan yang lebih mengutamakan hafalan, dan mengabaikan proses penalaran bebas untuk menemukan aneka macam alternatif lain selain yang diberikan oleh pendidik.

Keterbatasan cara pandang atas persoalan hidup, dan pemahaman yang normatif itu pada dasarnya merupakan hasil suatu konstruksi sosial – ingat konsep Peter L. Berger – yang berlangsung dalam waktu panjang, termasuk – tentu saja – ukhuwah Islamiyah itu sendiri.

Ukhuwah Islamiyah adalah sebuah kata sifat, dan kita temukan terjemahan bakunya menjadi “persaudaraan dalam Islam”. Mungkin akan lebih produktif jika kata sifat itu dimodifikasi menjadi kata kerja. Dengan begitu ia bukan “persaudaraan dalam Islam” melainkan “semangat persaudaraan dalam Islam”. Namun dalam kenyataan sehari-hari ukhuwah Islamiyah bisa berubah-ubah tergantung di tangan siapa ia dioperasikan.

Di mata seorang tukang khotbah yang mungkin bisa disebut “true believer” ukhuwah Islamiyah bisa bermakna persaudaraan sebagaimana mestinya. Tapi bisa juga menjadi sesuatu yang menakut – nakutipihak lain yang dianggap tidak sejalan dengan cara pandangnya. Dalam tindakan, ukhuwah Islamiyah bisa mereka wujudkan sebagai wahana permusuhan dan menyulut perpecahan. Semangat membela kelompok secara berlebihan bisa saja lantas diberi label “Demi ukhuwah Islamiyah kita hancurkan musuh kita”, atau “Bubarkan kelompok A, mereka sesat, kafir” dll.

Di mata seorang politisi yang “polutif” sikap politiknya, ukhuwah Islamiyah bisa juga dimainkan sesuai kondisi angin. Kalau angin lagi teduh, ia diberi makna sebagaimana seharusnya. Tapi bila cuaca – terutama dalam dirinya sendiri – sedang memanas karena dorongan kepentingan tertentu, ia bisa dengan mudah dikorup menjadi alat membunuh sesama manusia. Gejala seperti ini hidup disekitar kita sekarang.

Sebaliknya di mata seorang pemikir keagamaan yang pluralis, perkaranya bisa lain lagi. Seluruh elemen ajaran keagamaan yang normatif sifatnya, oleh seorang pluralis dipahami dengan pendekatan kreatif. Bagi kaum modernis , pemahaman dasar bahwa Islam itu universal tidak pernah dilupakan. Maka semangat membangun persaudaraan, keterbukaan dalam pergaulan hidup, dan melakukan aneka macam corak kerjasama, dibangun seluas-luasnya buat kalangan Islam maupun non Islam. Universalitas Islam merka wujudkan dalam hidup dengan cara-cara seperti itu.

Sekarang mungkin tiba saatnya menegaskan kembali bahwa ukhuwah Islamiyah perlu mulai kita bahas dalam kaitan dengan pluralitas umat. keduanya pada dasarnya utuh, kalau boleh dibilang, saling menunjang. Sebab, bila yang satu dipisahkan dari yang lain, maka kajian ini tidak akan cukup menarik. Konsep Ukhuwah Islamiyah boleh menjadi prinsip universal, tapi barang yang universal itu kita perlu pahami dalam konteks propinsial keindonesiaan kita.

Ada cara pemahaman lain yang mungkin kita dapat gunakan dalam menganalisa gerakan ini. Yaitu, dengan imajinasi sosiologis – dalam kaitan sosiologi Indonesia – amat diperlukan. Dan karena itu kita boleh mengembangkan aneka metafora – agar lebih kaya, lebih banyak jendela pemahaman – meskipun bukan tidak mungkin usaha itu gagal. Pemahaman keagamaan dari sudut ilmu sosial boleh jadi diharap memberikan nuansa lebih membebaskan. Dan keharusan membuka ruang interpretasi lebih lebar mungkin akan bisa membentuk suatu paradigma tertentu.

Berkat imajinasi sosiologis kita bisa memahami ukhuwah Islamiyah dan pluralitas umat melalui ladang perpolitikan nasional. Ini bukan cuma menegaskan Islam tidak memisahkan agama dan negara, melainkan juga menunjukkan bahwa wilayah agama luas, jauh lebih luas dari wilayah negara. Karena itu menjadi sah juga bila disebutkan bahwa perkara ukhuwah Islamiyah harus dipanggul oleh individu, masyarakat (kelompok-kelompok), dan juga negara. Wallahu A’lam.

———————–

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL