Oleh: Iqbal Aji Daryono*

Teror. Sejak tragedi beruntun di Surabaya kemarin itu, di mana-mana orang masih sibuk membicarakan kata ini. Kita benci teroris. Kita menyatakan bersatu melawan terorisme. Kita tidak mau dianggap dekat dengan kaum pembuat teror. Hasilnya, sebagian orang dengan kalap menghantam siapa pun yang dianggap mendukung teroris, sementara sebagian yang lain menyangkal habis-habisan fakta keras bahwa terorisme itu ada.

Dengan suasana demikian, saya khawatir, justru yang terwujud adalah semakin berlipat gandanya efek yang diinginkan oleh para pembuat teror.

Cc Divisi Humas Mabes Polri, Divisi Humas Polri, Divisi Cyber Crime Mabes Polri, mohon bekerja sama agar orang macam ini tidak diberi panggung.” Kalimat itu tiba-tiba muncul di notifikasi Facebook saya. Seketika meledaklah tawa saya. Bukan, bukan karena saya mengejek orang yang tampaknya begitu ikhlas turut berjuang dalam menekan ruang gerak teroris dan para pendukungnya. Melainkan karena kalimat tersebut dijadikan caption, sembari si pemilik akun membagi tautan status Facebook saya! Hwahaha!

Tahukah Anda, status apa yang saya tulis sehingga dia laporkan kepada pihak-pihak berwajib? Ini dia:

Anak-anak labil berkaos palu-arit oleh-oleh dari backpackeran ke Vietnam cuma muncul sekali dua kali. Teroris muncul berkali-kali, korban-korbannya nyata, darahnya nyata, kematian-kematiannya nyata, air mata kita juga nyata. Tapi tetap saja kesimpulan akhirnya: 15 juta kader PKI siap menyerang, dan terorisme cuma hasil setingan untuk menjelekkan Islam. Okefain.”

Coba cermati unggahan saya sekali lagi. Dua kalimat pertama menunjukkan fakta-fakta, namun kesimpulan yang saya munculkan blas tidak nyambung alias kontradiktif dengan fakta yang tersaji. Ini bentuk sindiran saya kepada orang-orang yang denial, yang ignorant kepada fakta-fakta keras, sembari tetap bersetia kepada khayalan yang selalu ingin mereka percayai.

Tentu sebagian besar orang yang menanggapi unggahan saya itu mengerti apa yang saya maksudkan. Yaitu bahwa banyak orang tetap percaya dengan isu kebangkitan PKI padahal buktinya minim, sembari menafikan keberadaan teroris padahal faktanya segunung.

Malangnya, ternyata tak sedikit juga yang gagal paham, mengira saya pendukung teori konspirasi, mengira saya menyangkal realitas teror sembari menuduhkan ini-itu kepada siapa pun yang dianggap sutradara teror yang sesungguhnya. Ampun deh!

Apa yang bisa kita pahami dari kejadian tersebut? Saya memandangnya sebagai kesenjangan dalam masyarakat kita akan kepekaan atas teks. Tidak semua orang memiliki bekal kemampuan yang sama dalam memahami tulisan. Tidak semua orang berada pada kondisi yang sama dalam mengakrabi ekspresi-ekspresi tertulis. Akibatnya, meski berangkat dari satu tulisan yang sama, orang bisa memahaminya dalam makna yang benar-benar berbeda, bahkan benar-benar bertolak belakang.

Kasus seperti ini selalu terjadi dalam keseharian kita di era kekuasaan medsos ini. Pada mulanya, saya melihat hal demikian sebagai efek dari rendahnya pendidikan dan terlalu berjaraknya kita dari literasi. Namun asumsi ini runtuh seketika. Sebab, ada beberapa teman di dunia maya yang sering meleset parah dalam memahami tulisan-tulisan saya, padahal pendidikan mereka sangat tinggi, bahkan sekolah di luar negeri. Jelas mereka akrab dengan bacaan, dan jelas mereka bukan orang nir-kecerdasan. Lalu apa sesungguhnya akar penyebabnya?

Entahlah. Apa pun itu, poin bahwa ada kesenjangan dalam masyarakat kita dalam memahami teks membawa problem turunan. Problem itu sebenarnya sesederhana miskomunikasi. Namun sebuah miskomunikasi akan berkembang menjadi konflik horizontal yang hebat, manakala ia berada dalam bingkai seruan untuk saling melaporkan.

Kalau soal pelaporan yang terjadi atas saya sendiri, tak usah khawatir. Namun bagaimana jika situasi saling melaporkan berbekal kesenjangan pemahaman atas teks tersebut terjadi di masyarakat awam yang jauh lebih luas, sekaligus jauh lebih awam, di mana masing-masing mereka tidak memiliki jejaring sosial yang mendukung?

Yang akan tumbuh kemudian adalah miskomunikasi massal, hingga ujungnya melahirkan situasi ketegangan yang penuh rasa saling curiga, saling tega mengadukan kawan dan tetangga. Kita tidak akan lagi merasa aman berdekatan dengan orang-orang yang biasanya dekat-dekat saja, tidak akan tenang bergabung dalam rapat RT, tidak akan jenak duduk di pos ronda kampung. Sebab bisa saja salah ucap kita atau salah posting kita ditafsir keliru oleh orang di kiri dan kanan kita, lalu diam-diam ia melaporkan kita ke polisi!

Serius, Bang ini mengerikan!

Saya tahu, polisi tidak bodoh. Mereka tidak akan menangkap orang hanya karena ujaran yang tidak cukup jelas maksudnya dalam mendukung terorisme. Apalagi peristiwa kelabu di rutan Mako Brimob tempo hari memberikan satu pengetahuan penting kepada kita: penjara sudah penuh. Mengurusi kasus orang celometan di medsos tanpa bukti akurat bahwa mereka pendukung sejati teroris adalah langkah yang terlalu menyedot energi, dan berpotensi menambah beban populasi di penjara yang sudah terlalu sesak berjejal-jejal itu.

Meski demikian, meski polisi tidak akan mengurusi kasus per kasus ujaran sembrono di medsos pun, kohesi sosial kita telanjur masuk ke situasi di ujung tanduk. Perasaan aman dalam bertetangga, perasaan nyaman dalam berteman, perasaan tenang ketika dikelilingi banyak kawan, bisa-bisa ambrol pelan-pelan.

Yang acapkali kita lupa, rasa tidak aman dan penuh ketidakpastian semacam itulah persis yang diinginkan oleh penebar teror. Lihatlah aksi para teroris itu. Mereka membuat kita tak henti berpikir buruk bahwa bom bisa meledak kapan saja, di mana saja, menyasar siapa saja. Kita ke mal dengan waswas, ke tempat wisata dengan cemas, ke tempat ibadah apalagi. Seperti itulah sifat dan misi teror.

Kebetulan, sehari sebelum peristiwa teror Surabaya, saya membeli buku Yuval Noah Harari yang baru, Homo Deus. Ada kalimat-kalimat Mas Harari yang menarik di situ tentang terorisme. Terorisme, kata profesor sejarah di Hebrew University Jerussalem itu, adalah pertunjukan. Para teroris mempertunjukkan pemandangan mengerikan kekerasan yang memerangkap imajinasi kita, dan membuat kita merasa seakan-akan tergelincir kembali ke kekacauan Abad Pertengahan.

Perhatikan: memerangkap imajinasi. Ya, terorisme adalah aksi fisik yang meledakkan imajinasi. Itulah poinnya. Walhasil, dalam bahasa yang telanjang: jika kita dengan begitu mudahnya menerapkan ajakan untuk saling melaporkan, sehingga menyemai imajinasi ketakutan dan kecurigaan antarteman, bisa jadi artinya kita malah dengan penuh semangat melangkah beriringan dengan tujuan para teroris itu. Sadarkah?

Lalu, bagaimana?

Saya benar-benar tidak tahu. Di satu sisi, ruang gerak teroris memang harus dipersempit. Itu tak bisa ditawar. Namun di sisi lain, kita tidak perlu mengorbankan sendi-sendi sosial yang selama ini sudah mengokohkan kehidupan kita. Pemerintah, atau Polri dalam hal ini, semestinya menemukan formula yang lebih menjaga kemaslahatan sosial dalam memerangi teroris.

Saya sadar, kegundahan ini lagi-lagi akan disalah-mengerti. Zaman ini adalah zaman logika jalan pintas. Ini zaman ketika “mengkritik perilaku segelintir umat Islam” kerap kali dianggap sama dan sebangun dengan “membenci Islam”. Demikian pula, “meminta polisi membuat metode yang lebih maslahat secara sosial dalam melawan teroris” bisa-bisa dianggap tak beda belaka dengan “mendukung teroris”.

Lagu lama, bukan? Memang. Tapi, kita bisa apa? (LiputanIslam.com)

*esais, tinggal di Bantul, disalin dari Detik, 15 Mei 2018.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL