peace_on_earthOleh: Putu Heri

Bad news is a good news, kutipan itu sangat tepat dalam mencerminkan kondisi media-media khususnya di Indonesia dewasa ini. Dalam paradigma bad news is good news, media lebih suka memberitakan sesuatu dari sisi buruk, dan melupakan pemberitaan dari sisi baik. Lambat laun dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan internet citizen (netizen) atau masyarakat internet untuk mengomentari suatu berita atau di media sosial, yang sering terjadi adalah, kasus-kasus kontroversial dan provokasi jauh lebih diminati. Terbukti, dengan banyaknya like, commet, share ataupun views dari berita tersebut.

Dan apa jadinya, jika kasus yang diangkat media terkait dengan konflik suku, agama, dan ras, yang cenderung kembali marak akhir-akhir ini di Indonesia?

Atas keprihatinan itu, empat tokoh tanah air yaitu Yenni Wahid dari Wahid Institute, Prof. Dr. Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah), Radhar Panca Dahana (budayawan) dan Romo Beni (pemuka Kristiani), duduk bersama dalam acara dalam acara Forum Indonesia yang ditayangkan Metro TV, 25 Desember 2014.

Apa saja yang disampaikan?

Azyumardi Azra: Tertibkan Media

Prof. Dr. Azyumardi Azra menyatakan, bahwa sebagai negara yang berazaskan Pancasila, Indonesia sering mengundang decak kagum negara-negara lain. Betapa tidak, dengan keberagaman suku, agama, dan budaya, semuanya bisa dibingkai dalam NKRI.

“Cuma saya prihatin, ketika Pancasila kita membuat kagum dan iri negara lain, disini justru saya melihat, ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Pancasila,” sesalnya.

Karena itu, ia meminta kepada media, agar mengambil peran dalam menyuarakan perdamaian, dan mengurangi berita-berita provokasi. Menurutnya, peace jurnalism (jurnalisme yang damai) harus digalakkan.

“Misalnya, tentang ISIS. Saya sangat mengharapkan, janganlah beri ruang yang terlalu besar untuk menampilkan bendera hitam dengan kalimat tauhid itu. Ketika tayangan seperti aksi penggal kepala itu dinikmati oleh generasi muda, saya khawatir, itu akan membentuk self radicalism,” ujarnya.

Prof meminta kepada Kementrian Komunikasi dan Informasi yang baru, untuk menertibkan berbagai situs yang mendukung adanya tindak-tindak intoleran. Dan kepada organisasi Islam di Indonesia, entah itu NU, Muhammadiyah, ataupun lembaga pendidikan seperti pesantren dan UIN, agar memeriksa kembali ke dalam, untuk mencegah infliltrasi ideologi radikal.

“Baru-baru ini, ada serangan atas anak-anak sekolah di Pakistan…dan 132 siswa tewas. Sungguh ini adalah kekejaman yang luar biasa. Kita harus menyadari, bahwa Islam itu posisinya ada di tengah-tengah, tidak miring ke kiri ataupun ke kanan. Jangan sampai ada ideologi transnasional (radikal) yang menyusup ke dalam sebuah organisasi, dan lantas, hal itu dibiarkan saja,” terangnya.

Harapan Prof. Azra sejatinya adalah harapan dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Dan terkait keberadaaan situs-situs intoleran, tentunya, sejak awal Liputan Islam telah merekomendasikan situs-situs yang dipandang perlu untuk ditinjau kembali, atau bahkan diblokir, karena konten-konten yang disajikan cenderung memprovokasi ummat, menyerukan kekerasan dan hate speech.

Sayangnya, Menkominfo yang baru, Rudiantara, kendati telah menyatakan bahwa pihaknya akan tegas terhadap situs-situs yang meresahkan masyarakat, namun hingga hari ini, janji itu tidak ditepati. Apa yang sebenarnya terjadi?

Yenny Wahid: Generasi Islam Ramah Harus Bersuara Keras

Yenny Wahid, putri dari Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid menilai, sesungguhnya masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam, adalah orang-orang yang toleran. Namun sayang, mereka memilih diam ketika terjadi kasus intoleransi .

“Saya yakin 99,99 persen bahwa ummat Muslim Indonesia sangat toleran. Namun mereka memilih diam ketika terjadi kasus intoleran. Sedangkan segelintir oknum intoleran, bersuara begitu kencang. Akibatnya, yang kita lihat hari ini adalah, Islam ramah kalah oleh Islam ramah,” jelas Yenny.

Yenny, membagi dua kelompok masyarakat menjadi dua, yaitu; kelompok toleran dan kelompok intoleran. Dan menurutnya, kelompok ini ada di semua agama, tanpa kecuali.

“Contoh kasus #Illridewithyou di Australia sebenarnya bukanlah hal yang terlalu menarik. Sebelumnya di Swedia, juga ada kejadian yang hampir serupa. Ada seorang wanita berjilbab, tiba-tiba diserang dan diintimidasi oleh sekelompok orang. Dan apa yang selanjutnya terjadi?”

“Rakyat Swedia protes ke jalan. Mereka menuntut, agar kebebasan dalam menjalankan keyakinannya dilindungi. Sebagai bentuk solidaritas, mereka semua memakai jilbab. Tidak hanya wanita saja, bahkan para pria yang berkumis dan jenggot pun turut memakai jilbab,” terang Yenny.

Karena itu, Yenny mengimbau kepada masyarakat, agar jangan lagi menunggu media untuk menyuarakan perdamaian dan toleransi. Dengan memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Twitter, ia meminta agar seruan cinta kasih digaungkan secara intens.

“Saat ini, ketika ada kasus intoleransi, yang menjadi korbannya mungkin adalah kelompok minoritas, seperti yang beragama Kristen. Tapi percayalah, lambat laun yang menjadi korban adalah ummat Islam sendiri.”

“Di Pakistan, anak-anak yang dibantai itu beragama Islam. Dan sekarang, benih-benih (radikalisme) itu sudah ada di Indonesia, mulai dari melemparkan tuduhan syirik, bid’ah, sesat, dsb. Mereka memandang pihak lain yang berbeda pandangan adalah musuh, padahal dalam Islam, perbedaan adalah rahmat,” papar dia.

Romo Beni: Sejatinya, Rakyat Indonesia Cinta Damai

“Bersama Gusdur, saya berkeliling ke pesantren-pesantren di Pulau Jawa, untuk mengajak tokoh-tokoh agama agar tidak membenturkan agama. Dan sesungguhnya, banyak kyai-kyai kampung, juga pendeta-pendeta di kampung, yang sangat toleran dan terbiasa menggelar dialog dalam damai, namun hal ini sangat jarang disorot media,” ujar Romo Beni.

Senada dengan Romo, Radhar Panca Dahana juga menyatakan keprihatinannya atas media-media, yang sekali lagi, cenderung lebih memilih mengekspos hal-hal yang buruk.

Hal ini mungkin bisa dipahami, karena telah berkali-kali terjadi sebuah kasus di Indonesia, yang mempolitisasi agama. Baru-baru ini, kita dibuat terhenyak dengan kasus isu pelarangan jilbab di Kementrian BUMN – yang ternyata hoax, namun telah meresahkan masyarakat lantaran diekspos secara terstruktur, sistematis, dan masif oleh media-media anti-pemerintah seperti Okezone, Republika, dan media-media PKS.

“Saat ini media telah menjadi bisnis dan alat kepentingan politik. Saya sungguh-sungguh meminta kepada elit politik, tolong jangan jadikan agama sebagai komoditi untuk meraih kekuasaan. Jangan Anda iming-imingi para kyai dan pendeta dengan jabatan dan kekuasaan,” serunya.

Karena itu, Radhar mengajak agar kita kembali menghidupkan nilai-nilai budaya bangsa yang menjadi ‘ruh’ dari Indonesia, guna mencegah perpecahan di masyarakat.

“Begini, kita harus melihat kembali sejarah masuknya agama-agama ke Indonesia, yang melalui pendekatan budaya. Antara agama dan budaya di Indonesia memiliki keterkaitan yang erat. Itulah sebabnya, founding father kita dulu, menghendaki agar sila pertama adalah Ketuhanan yang Berkebudayaan.”

“Namun kini, ada upaya untuk ‘memurnikan’ ajaran agama, agar corak keagamaan di Indonesia ini harus sama persis dengan asalnya..dan hal inilah yang memicu konflik.”

***

Nelson Mandela mengatakan, “Tak seorang pun manusia dilahirkan untuk membenci orang lain hanya karena berbeda warna kulit dan agama. Jika manusia belajar untuk membenci, maka pada saat yang sama mereka juga bisa belajar untuk memberi kasih-sayang, karena menyayangi selalu datang secara alamiah, ketimbang rasa benci. (Willy Kumurur: 2013)

Sedangkan Abdurrahman Wahid berkata, “Tidak penting apa agama dan sukumu, jika engkau berbuat baik untuk semua orang, maka orang tidak akan bertanya apa agama dan sukumu.”

Dan menjaga bangsa ini dari tangan-tangan jahat yang mengadu domba, adalah tugas kita bersama. Dan semua itu harus dimulai saat ini, dan jangan menunda lagi. Jika media memilih untuk menebar benih perpecahan, dan tidak lagi berpihak kepada perdamaian, maka kita yang harus mengambil peran sebagai duta perdamaian.

Selamat Natal, semoga kasih dan cinta meliputi kita. (LiputanIslam.com)

—-

Redaksi menerima sumbangan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL