berita dari okezone

berita dari okezone

Oleh: Putu Heri

Media, sebagai alat penghubung dalam bermasyarakat memiliki peranan yang sangat vital. Bahkan salah satu founding father Amerika, Thomas Jeffersen, menyatakan bahwa dasar dari berlangsungnya pemerintahan, adalah menampung aspirasi rakyat, dan hak itu harus dijaga sepenuhnya.

“Jika saya diharuskan memilih antara memiliki pemerintahan tanpa pers, atau memiliki pers tanpa pemerintah, maka saya tidak akan ragu untuk memilih yang terakhir,” ucapnya.

Pernyataannya ini merupakan sejarah yang sangat monumental bagi dunia pers, dan sejak saat itulah pers disebut-sebut sebagai pilar keempat demokrasi. (Thomas Jefferson to Edward Carrington, 1787. ME 6:57)

Pers sebagai kekuatan demokrasi dan menjadi penopang bagi pilar-pilar demokrasi lainnya seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif. Di saat pilar-pilar lainnya lumpuh, maka pers diharapkan akan tampil di depan untuk menyelamatkan tegaknya nilai-nilai demokrasi di sebuah negara. Tentunya, untuk mengawal pilar demokrasi lainnya, pers haruslah berlandas pada asas-asas jurnalistik.

Sebagai sebuah lembaga, pers dapat memberikan dampak sosial yang sangat luas terhadap tata nilai, kehidupan, dan penghidupan masyarakat luas yang mengandalkan kepercayaan. Dalam kode etik jurnalistik, sebuah kejadian harus disiarkan secara berimbang dan independen, serta jujur.

Apa jadinya jika kemudian nilai-nilai diatas diabaikan? Contohnya, seperti yang dilakukan oleh media online Okezone. Media milik grup Bakrie ini, terungkap telah merilis berita yang berlawanan dengan realita. Dalam artikel yang berjudul “Warga terlindas water canonsaat bentrok di Makassar, disebutkan sebagai berikut;

“Bentrokan antara petugas kepolisian dan mahasiswa kembali pecah di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar di Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Kamis (26/11/2014).
Dalam bentrokan tersebut, seorang warga Jalan Pampang 1 Makassar bernama Arif (17) tewas terlindas truk water canon.”

Saya hanya akan menyorot di bagian ‘tewas terlindas water canon’, karena potongan kalimat inilah yang menjadi topik hangat di media sosial. Kompas, juga turut memberitakan hal yang sama. Tapi benarkah korban karena dilindas water canon? Perhatikan video amatir berikut: http://www.youtube.com/watch?v=fHK7jSWBMzc

Dalam video tersebut, di detik 24 terlihat bahwa korban sudah tergeletak sebelum water canon melintas di jalanan. Jadi tidak benar ia tewas lantaran dilindas water canon. Perhatikan gambar berikut:

okezone 2

Hal tersebut juga dibantah oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Komisaris Besar Polisi Endi Sutendi. Menurut Endi, ia memiliki foto-foto bukti saat Ari ikut dalam bentrokan, melempari polisi dengan batu dan melepaskan anak panah. Lalu, ia terkena batu yang dilemparkan temannya sendiri, terjatuh, dan diinjak-injak oleh ratusan mahasiswa yang berlarian. Kompas.com lantas merilis berita baru dengan kronologis kejadian yang lebih lengkap, yang sekaligus menjadi ralat atas berita yang salah sebelumnya. Walau demikian, masyarakat sudah terlanjur hanya membaca berita pertama, dan sudah terlanjur juga mengeluarkan sumpah serapahnya. Menyedihkan.

Dimana posisi media kini? Sungguh sulit menemukan media yang memberitakan sesuatu apa adanya. Media telah menjadi alat yang digunakan berebut puncak kekuasaan, bukan lagi sebagai pengawal kritis yang berimbang.

Saat ini saya perhatikan, media-media anti-pemerintahan baru, memiliki tingkah polah sama, mengkritik, berbohong, menyesatkan masyarakat dengan berita-berita, yang bagaimanapun caranya—harus selalu pemerintah/ aparat yang salah bila terjadi sebuah kasus. Sedangkan media pro-pemerintahan baru, juga menjilat dengan membenarkan apapun yang menjadi kebijakan pemerintah. Dan diantara pertarungan media dan penguasa, rakyatlah yang kemudian akan menjadi korbannya.

——

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL