Mc Cain

Mc Cain Bersama pemberontak Suriah

Entah apa maksudnya, sehingga publik tidak diberitahu soal kedatangan Senator AS, McCain, ke Makassar, pada Agustus silam. Dan bagaimana bisa, media seperti Detik yang mampu memproduksi berita selang berapa menit dari penjuru Indonesia, namun tak mampu mengendus keberadaan dimana Mc Cain saat itu. Dan anehnya, media sekaliber Kompas, Antara, Tempo, bahkan termasuk Republika — juga tidak memberikan informasi secuil-pun tentang agenda AS, lewat tangan Mc Cain  terhadap negeri tercinta kita.

Pada Rabu, 13 Agustus 2014 Senator AS John Mc Cain berkunjung ke Indonesia. Dia melakukan pertemuan terbatas dengan politisi penting di Indonesia dan pengusaha di Makassar. Disamping itu, McCain juga survei lokasi proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) Chevron di Selat Makassar. Maklum, Chevron adalah salah satu perusahaan yang mem-backup dana politiknya. Dalam kunjungan ke Makassar itu, McCain didampingi Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake. Disamping beberapa nama lain seperti Senator Sheldon White House, Elizabeth O’Bagy (Staf Senator John Mc Cain), Christian Brose (Staf Senator John Mc Cain) dan beberapa staf Kedubes AS di Indonesia. 

Mengapa McCain sangat concern dengan mega proyek IDD Chevron senilai Rp260 triliun itu? Dan apa konsekuensi geopolitiknya jika megaproyek ini gagal? 

Begini ceritanya. PT Chevron Pacific Indonesia sudah memegang proyek IDD sejak 2008. Proyek ini menggabungkan empat kontrak kerja sama yaitu Ganal, Rapak, Makassar Strait, dan Muara Bakau. Dalam keempat konsesi tersebut terdapat lima lapangan yaitu Lapangan Bangka, Gehem, Gendalo, Maha dan Gandang. Lapangan Bangka akan beroperasi terlebih dahulu pada 2016. Sementara untuk Gendalo dan Gehem akan beroperasi setelah Bangka, berturut-turut pada 2017 dan 2018.

Berdasarkan data yang dimiliki Aktual, 25% total produksi Proyek IDD dialokasikan untuk dalam negeri sedangkan sisanya (75%) untuk Chevron. Indonesia akan dapat jatah gas berupa gas alam cair sebanyak 179 kargo dengan rincian untuk FSRU Jawa Barat 53 kargo (2018-2021), Terminal Arun 20 kargo (2017-2021), FSRU Lampung 37 kargo (2016-2018), FSRU Banten 30 kargo (2016-2021), dan FSRU Jawa Tengah 39 kargo (2016-2021).

Megaproyek ini terganjal di kasus perpanjangan kontrak di Blok Makassar Strait yang habis pada tahun 2020. Chevron meminta kontraknya diperpanjang sampai 2028 dengan alasan optimalisasi manfaat ekonomi. Chevron bahkan berencana blok Makassar akan mulai produksi pada 2016-2018 mendatang.

Disamping itu, Chevron juga belum mendapat persetujuan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Usaha Minyak dan Gas (SKK Migas) soal perubahan rencana pengembangan (plan of development/POD) yang telah disetujui pada 2008 lalu. Awalnya, proyek IDD ditetapkan dengan budget USD 6,9 miliar namun membengkak menjadi USD 12 miliar. 

Menko Perekonomian Chairul Tanjung menjamin bahwa proyek ini bisa berlanjut. Dia sudah koordinasi dengan KPK dan ESDM bahwa proyek IDD di selat Makassar ini layak diperpanjang dan tidak ada modus korupsi dibalik naiknya angka USD 6,9 miliar ke USD 12 miliar itu. Maklum, sebelumnya ramai beredar isu bahwa ada kaitan antara kasus Sutan Bhatoegana di KPK, Partai Demokrat, Ibas dan proyek IDD.

Dia juga menekankan beberapa keuntungan buat Indonesia jika percepatan proyek itu dilakukan dengan segera. “Saya meyakinkan teman-teman ESDM dan SKK Migas, kalau tidak ada desain untuk melakukan korupsi atau pelanggaran aturan, itu tidak masalah. Mempercepat proses itu bukan korupsi,” katanya seusai menerima delegasi Chevron, pada Jumat (30/5/2014) malam. (solopos.com).

Namun sinyal dari CT itu tak mampu mendobrak kebuntuan. Pada 20 Agustus 2014 media Tambang mengutip pernyataan Deputi Pengendalian Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Aussie B. Gautama, mengatakan bahwa proyek Chevron IDD dengan nilai Rp 260 triliun itu bisa menjadi tidak ekonomis untuk dikembangkan jika terus menerus ditunda. “Masih delay kan sampai sekarang. Sekarang ini proyek itu keekonomiannya ngepas, makin lama delay, harga naik terus biaya investasi membengkak, sampai pada satu poin tidak akan ekonomis lagi, itu proyek nilainya Rp 260 triliun,” kata Aussie.

Menurut Aussie, masalah sebenarnya adalah ketakutan pejabat di Indonesia mengambil keputusan karena cost recovery yang harus dibayar negara cukup besar. “Proyeknya sekarang terhenti, karena orang nggak berani ambil keputusan, di ESDM nggak berani, di Keuangan (Kementerian Keuangan.red) nggak berani, di sini kami menunggu keputusan ESDM dan itu (Kementerian Keuangan.red). Jika pejabatnya dikriminalisasikan, takut, nggak ada yang mau lagi jadi penyelenggara negara, kalau pun ada mereka nggak kerja, main tunjuk-tunjuk aja,” tambah Aussie. 

Nah, dalam konteks seperti itu, Chevron mungkin tak sabar lagi. Perusahaan yang sudah puluhan tahun beroperasi di Indonesia ini akhirnya mengambil jalan politis. Chevron meminta McCain untuk datang ke Indonesia karena jika proyek ini gagal maka kepentingan geopolitik AS juga akan terganjal. Diduga, kedatangan McCain ke Indonesia untuk menekan Indonesia agar segera menyetujui proposal Chevron di Selat Makassar itu.

Lalu apa kepentingan McCain untuk meninjau blok Selat Makassar? 

Perlu diketahui, sejak terjadi krisis di Ukraina, perang gas antara AS dan Rusia meruncing. Rusia paham, kepentingan AS di krisis Ukraina adalah melepas ketergantungan negara-negara Uni Eropa terhadap ekspor gas dari Rusia. Targetnya, dengan politik destabilisasi di Ukraina maka ekspor gas Rusia ke Eropa akan mahal. Akhirnya, Eropa akan membeli gas dari AS. Dengan cara ini, negara-negara Eropa tak akan tergantung lagi dengan Rusia. AS-lah yang akan mengontrol pasar gas Uni Eropa, yang akhirnya akan berlanjut untuk mengontrol secara geopolitik kawasan Uni Eropa.

“Yes the energy giants and the corporations on Wall Street do not want Europe receiving gas from Russia. They want Europe to buy it from America but there is one problem: America cannot fill Europe’s energy needs,” tulis jurnalis Voice of Russia, John Robles dalam sebuah artikel bertajuk ‘Russian Gas, NWO And US Energy Mafia’. 

Mungkin benar analisis John Robles. Namun kali ini AS tidak main-main dengan skenario penguasaan gas ini. AS lewat US Department of Energy baru-baru ini sudah menyetujui pengembangan tujuh megaproyek ekspor gas baru untuk mem-backup strategi tersebut. “At the end of the day, if all seven projects receive final approval, it would mean the export of up to 9.3 billion cubic feet of natural gas daily for non-FTA countries,”tulis James Burgess di Oilprice.com. 

Untuk keluar dari tekanan, termasuk sanksi ekonomi dan politik AS dan sebagian negara Uni Eropa, Rusia melakukan aliansi dengan China. Rusia menandatangani kontrak gas baru senilai USD 400 miliar dengan China pada akhir bulan Mei 2014 lalu. Kontrak ini mengguncang skenario besar AS itu. Kontrak sekitar 30 tahun tersebut manyatakan bahwa Rusia akan ekspor gasnya ke China sebanyak 38 miliar cubic meters (BCM) per tahunnya dengan harga sekitar USD 10 per cubic feet. Jika dibandingkan dengan ekspor LNG AS ke Jepang yang mencapai USD15 s/d USD20 per meter feet-nya tentu gas AS sangat mahal dan tak layak secara ekonomis.

Di lain sisi, krisis Ukraina juga memacu perang AS dan Rusia untuk berburu proyek gas dan rencana proyek gas global untuk memastikan suplai gas mereka lancar tidak terhambat. Data Aktual memperlihatkan dengan proyek dan potensi gas yang dimiliki, Rusia mampu mengekspor gas ke China secara konstan ke China sebesar 30 bcm per tahun sampai 2020 nanti. Untuk ekspor ke negara-negara di Asia, Rusia mengklaim mampu menyediakan sekitar 95 bcm per tahun sampai 2025 nanti.

Dengan catatan seperti itu, layak AS berpikir keras untuk memperbesar lagi potensi cadangan gas miliknya. Namun, tantangannya sebenarnya adalah masalah keekonomian harga gas di setiap proyek gas yang dimiliki AS maupun Rusia. Berdasarkan laporan Goldman Sach pada Juni 2013, dari beberapa proyek gas milik AS yang ada, hanya proyek LNG offshore di Australia milik Chevron’s Gorgon dan Wheatstone yang layak secara ekonomis. Laporan tersebut mengatakan bahwa kedua proyek tersebutbreak event dengan harga sekitar USD 13,50 s/d USD14 per 1,000 cubic feet –nya. 

Proyek LNG lain yang cukup reliable adalah bisa menguntungkan adalah proyek LNG di Mozambique yang diperkirakan break event-nya sekitar pada harga USD11,50 per 1,000 cubic feet dan di Tanzania sekitar USD13 per 1,000 cubic feet meski diduga tingkat “kegagalannya” cukup besar. Sedangkan proyek LNG di Canada meski cukup bagus masa depannya namun masih terganjal masalah lingkungan hidup. 

Akhirnya, memang potensi gas di Asia (termasuk Indonesia) harus bisa dikuasai AS karena perhitungan kelayakannya ekonomisnya bisa bersaing dengan gas Rusia.”When US LNG produced from the shale gas boom begins to reach Asia next year (tahun 2015 -red), estimates that it will sell for about the same price–$10 to $12 per 1,000 cubic feet,” tambah James Burgess. 

Ini salah satu alasan penting, mengapa mega proyek IDD dan proyek gas lainnya di Asia sangat penting bagi AS untuk melawan penetrasi pasar gas Rusia. Alasannya sederhana, harga gas di Indonesia (dan Asia) masih murah. Dengan potensi cadangan gas di selat Makassar sekitar 3,2 triliun cubic feet dengan harga USD 10 s/d USD12 cubic feet, blok Makassar bagaimanapun caranya harus berjalan. Kalau terus ditunda maka bisa jadi harga kelayakan ekonomisnya akan bertambah terus dan tidak lagi mampu bersaing dengan gas Rusia.

Untuk itu, Vice President Chevron untuk Regional Asia Pasifik, Melody Meyer sempat menjanjikan ke mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa ketika berniat menambah investasi nya sebesar USD 12 miliar di Indonesia pada sebuah pertemuan pada Januari 2014 lalu. Dia menjanjikan bahwa Chevron akan menggenjot produksi gas dari lapangan Indonesia hingga 1.000 MMCFD per hari.

Jadi, dengan sudut pandang seperti itu McCain sangat bekepentingan mengunjungi Indonesia. Bahkan dengan cukup sarkastik, John Robles mengatakan seperti ini: “And the record has shown, if the US cannot subjugate and control a country it will destroy it and break it up”. 

John Robles sempat mendaftar beberapa negara yang sudah dan akan jadi sasaran AS agar terjadi coup d’états, dan beberapa rencana destabilisasi. Indonesia termasuk salah satu negara yang dibidik jika tidak mengikuti keinginan AS. “Any country which is visited by McCain, please take heed, hopefully yours won’t be next,” tambah John Robles. 

 

Artikel ini disalin dari Redaksi Aktual.co

———————-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL