Foto: Syrian Perspective

Foto: Syrian Perspective

Oleh: Ayudia az-Zahra, Blogger

Kendati Bashar al-Assad telah mengukuhkan kemenangannya dengan 88% suara, perjuangan rakyat Suriah masih panjang. Ada beberapa wilayah yang masih dikuasai oleh kelompok teroris, salah satunya di Raqqa. Pengungsi Suriah masih melimpah di  negara-negara tetangga, dan menurut informasi dari rekan saya (seorang mahasiswa yang tengah kuliah di Damaskus) tiap hari Damaskus kejatuhan roket-roket dari pemberontak.

Siapapun yang menyaksikan Suriah hari ini pastinya akan merasa miris. Bagaimana tidak, di daerah-daerah konflik, kondisinya sangat mengenaskan. Gedung-gedung hancur, fasilitas umum rusak parah. Namun siapa sangka, ada sebuah foto mengharukan yang diunggah oleh Syrian Perspective, sebuah halaman pro-pemerintah Suriah beberapa waktu yang lalu– dan saya melihat pesan yang teramat penting dari foto tersebut (lihat gambar disamping).

Foto itu adalah sebuah bangunan tinggi (kurang lebih 7 lantai) yang rusak parah. Dan di bangunan rusak itu, dibentangkan sebuah poster berukuran besar: foto Bashar al-Assad yang tersenyum dan melambaikan tangan, dengan tulisan “together we will rebuild it” yang berarti bersama-sama kita akan membangun kembali [Suriah yang hancur –pen.]

Pada semester pertama tahun 2013, data dari PBB mengungkapkan kerugian akibat  perang di Suriah telah mencapai 103 milyar dollar. Belum dilansir secara resmi berapakah kerugian Suriah pada hari ini, dan benar, Suriah telah hancur. Tapi tidak demikian halnya dengan jiwa-jiwa mereka. Meski kasat mata Suriah telah hancur, mereka bertekad kembali membangun negeri mereka, mereka mempercayakan kembali tampuk pemerintahan dipegang Bashar al-Assad, mereka berduyun-duyun mendatangi tempat pemilihan suara untuk membuktikan kepada dunia: mereka mendukung Bashar. Mereka, sama sekali tidak putus harapan.

Lalu bagaimana dengan kita? Sebentar lagi, kita juga akan menghadapi pemilihan presiden yang akan dilangsungkan pada 9 Juli mendatang. Tidak seperti rakyat Suriah yang harus memilih ditengah dentuman bom dan hujan roket, kita di sini bisa memilih dengan aman dan nyaman. Saat pemilu, sekolah dan kantor-kantor diliburkan. Kita pun tidak menempuh perjalanan yang jauh untuk memilih. Tapi sangat disayangkan, pada Pileg lalu jumlah golput mencapai 49.677.076 atau 29,1 persen.

Banyak faktor yang membuat rakyat memilih golput, salah satunya karena masyarakat kecewa akan kinerja politikus dan orang-orang di kursi pemerintahan. Sebelum para caleg ini mendapatkan kursi strategis di gedung DPD, DPRD ataupun DPR, mereka biasanya akan melakukan kampanye untuk menarik rasa simpati dari rakyat. Salah satu cara yang paling umum dilakukan adalah dengan memberikan pidato serta berbagai macam janji-janji manis untuk memperbaiki kondisi masyarakat.

Namun pada saat sudah terpilih, beberapa dari mereka terlihat tidak dapat memenuhi janji-janji yang mereka utarakan pada saat kampanye dulu. Bahkan ada juga yang tampak tidak bersungguh-sungguh dalam berkerja. Hal inilah yang kadang-kadang membuat orang merasa kecewa pada saat pemilu karena wakil rakyat yang mereka pilih ternyata tidak sesuai dengan harapan. Pada akhirnya, di pemilu-pemilu berikutnya mereka lebih memilih untuk tidak memberikan suara mereka alias bergabung dengan golongan putih.

Sah-sah saja jika lantaran kecewa, lalu sama sekali tidak ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Tapi seandainya kita membandingkan kondisi kita dengan rakyat Suriah, saya yakin kita akan merasa malu jika memilih untuk tidak memilih sama sekali hanya karena kehilangan kepercayaan. Kondisi rakyat Suriah jauh lebih tragis dan mengenaskan, namun mereka tetap bersemangat dan optimis akan membangun kembali negerinya. Jika mereka bisa optimis, mengapa kita yang hidup dengan kondisi yang lebih baik harus pesimis?

 

__________
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL