Rabi yahudi muslim nasrani

Paus memeluk seorang Muslim dan Yahudi

Oleh: Ismail Amin, Mahasiswa Al-Mustafa Internasional University

Agama diturunkan Tuhan hakekatnya untuk menghentikan perseteruan yang terjadi antar manusia. Kata agama sendiri berasal dari bahasa Sansakerta yang dibangun dari dua suku kata. “A” yang artinya tidak, dan “Gama” yang artinya kacau. Jadi agama adalah tidak kacau. Agamawan hakikatnya, adalah mereka yang tidak kacau pikiran dan perbuatannya.

Keteraturan dan kecemerlangan pikirannya menghasilkan perbuatan yang menakjubkan dan membuat decak kagum. Yang ada dipikirannya, hanyalah ide-ide perbaikan, dan yang hanya diperbuatnya adalah upaya-upaya mengatasi kekisruhan sosial. Jadi mereka yang kacau dalam berpikir maupun bertindak, pada hakikatnya sedang jauh dari agama.

Diantara peran agama dalam upayanya menghentikan kekacauan adalah mengatur tindakan manusia agar tidak ada satu pihakpun yang memaksakan pemahaman dan kehendak pada pihak lain, yang dapat memicu perpecahan dan silang sengketa. Karenanya seruan agama adalah persatuan dan ukhuwah. Tuhan mengingatkan, manusia adalah umat yang satu, yang berasal dari orangtua yang sama, pembentukannya dari bahan yang sama. Karenanya tidak ada alasan bagi manusia untuk saling berpecah belah satu sama lain, apapun agamanya, apapun bahasa, suku bangsa, warna kulit dan rasnya.

Tuhan juga menyatakan, bahwa Dia bisa saja menjadikan umat manusia menjadi umat yang satu dengan ke-Maha Kuasaan yang Dia punyai, namun ikhtiar untuk bersatu itu Dia serahkan sepenuhnya kepada manusia, untuk Dia ukur, siapa yang lebih cenderung mengikuti panggilan kemanusiaannya, dan siapa yang lebih condong pada ajakan syaitaniyah.

Kalau agama datang untuk menyerukan agar tidak ada yang saling memaksakan pendapat, herannya justru orang-orang yang mengaku paling agamawanlah yang paling sering memaksakan pendapat. Dengan atas nama agama mereka membunuh yang berbeda pendapat. Dengan alasan menjaga kemurnian agama, darah dikucurkan, kepala ditebas, dan harta benda dirampas. Perayaan agama menjadi perayaan atas ternodanya nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian.

Lihat saja bagaimana penganut-penganut agama itu saling bantai. Kristiani membantai muslim. Muslim membom perkampungan Kristiani. Biksu-biksu tidak hanya kuat dalam menghafal kitab-kitab dan merafalkan mantra-mantra namun juga gesit mengejar mereka yang keyakinannya beda.

Mereka yang melek agama, berulang kali menyerukan untuk kembali pada hakekat agama. Untuk menghentikan perseteruan dan lebih mengedepankan penghormatan dan pemuliaan kepada sesama, apapun agamanya.

Tidak ada yang diuntungkan dengan pertumpahan darah, panggilan zaman hari ini adalah menjalin kebersamaan dan persabahatan untuk saling menguntungkan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan pertumpahan darah, semua mengajak pada kebaikan. Meskipun tidak boleh disama-samakan, agama apapun seyogyanya tetaplah menjadi sumber mata air kebajikan dan kearifan. Karenanya sangat disayangkan, kalau belakangan ini, agama justru dimonopoli oleh mereka yang aktif menebar kebencian dan permusuhan satu sama lain.

Penulis sendiri meyakini, Islam adalah agama yang benar, yang kebenaran itu dibuktikan dengan penghargaan Islam yang besar pada perbedaan keyakinan. Penghormatan setinggi-tingginya pada kebebasan berpendapat, selama pendapat itu tidak menimbulkan kerusakan. Nabi Islam diminta oleh Tuhannya untuk tidak berlaku keras dalam memperkenalkan ajaran-ajarannya. Dalam konsideran agama ini, terpampang jelas prinsip: agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu, tidak ada paksaan dalam agama, mudahkan dan jangan persulit, maafkan semoga mereka mau kembali.

Kalau untuk kaitan dengan agama yang berbeda saja, Islam sedemikian toleran, tentu dengan sesama muslim pun demikian.

Tanda-tanda mereka yang tinggi pemahaman agamanya, adalah tegas kepada orang-orang kafir dan sedemikian lembut dan peyayang kepada sesama muslim. Sayangnya, seruan sejumlah ulama yang lebih mengedepankan ukhuwah dan persatuan ummat diatas masalah-masalah ikhtilaf, diserang sedemikian rupa dengan sebutan-sebutan yang jelek dan melecehkan. Padahal merekalah yang membawa panji Islam yang sebenarnya, panji perdamaian, bukan membebesarkan perbedaan untuk dijadikan alasan agar bisa saling berselisih, membenci dan membunuh satu sama lain.

Tengoklah sejarah. Gelar pendusta justru lebih sering disematkan kepada mereka yang menyerukan kebenaran. Para Anbiyah, ulama-ulama terdahulu, ilmuan-ilmuan yang gigih menyerukan kebenaran sebagai upayanya dalam menyelematkan umat dari kekisruhan sosial justru diserang balik sebagai pendusta, dan tuduhan-tuduhan negatif yang sama sekali tidak berdasar. Sejarah selalu berulang, dan lihat apa yang terjadi hari ini. Luar biasa pelecehan dan penghinaan yang didapat dari mereka yang setia pada kegigihannya menyampaikan yang benar.

Panggilan-panggilan buruk yang dulu getol dilontarkan kaum musyrikin kepada Nabi Saw, justru kali ini dicontoh oleh mereka yang mengaku paling beragama dalam menyikapi kelompok yang mereka tuding sesat hanya karena memilih cara yang berbeda dalam memahami agama. Kalau mau jujur, jika memang sekiranya merekalah yang berada di jalan Nabi, tentulah mereka yang mendapat hinaan dan pelecehan sebagaimana yang dulu didapat Nabi ketika mendakwahkan ajarannya di tengah-tengah masyarakat yang rusak secara sosial. Tentulah mereka pihak yang paling tinggi kesabarannya, yang adi luhung akhlaknya dan besar cintanya pada upaya perbaikan dengan cara-cara yang sehat.

Tapi fakta mewartakan lain. Mereka justru pihak yang paling arogan dalam menentukan siapa yang paling dicintai Tuhan. Mereka pihak yang paling tidak ada kesabarannya dalam menunjuki orang pada hidayah. Mereka tidak segan-segan mengata-ngatai, melukai hati, menyerang fisik bahkan sampai menghilangkan nyawa. Tidak hanya menebar fitnah, merekapun menebar teror dan bom, dan menyebutnya sebagai jihad dalam menegakkan agama.

Mereka justru pihak yang paling getol menebar kebencian dan permusuhan, dengan cara-cara yang tidak sehat. Memfitnah, menjatuhkan kehormatan seorang muslim, menebar berita dusta tentang siapa saja yang memilih berada diluar gerbong mereka. Al-Qur’an mengingatkan kita tentang mereka, bahwa mereka merasa melakukan perbaikan, padahal sesungguhnya mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi. Jangan kagum pada tampilan dan gerak tubuh mereka yang khusyuk, padahal merekalah musuh yang sebenarnya.

Agama yang benar, manhaj yang lurus, dan ibadah yang diterima, adalah yang membuat kita semakin rendah hati, semakin peduli dan menambah kecintaan dan pemuliaan pada sesama. Sementara ibadah yang justru membuat kita semakin arogan dan merasa diri sendiri paling benar, adalah ibadahnya iblis dan para pengikutnya.  Kita tidak hanya diminta mencari agama yang benar, lebih dari itu, kita dituntut untuk mengamalkan agama dengan benar. Semoga kita termasuk berada dalam barisan orang-orang yang melakukan perbaikan, dengan cara yang paling baik.

 

——–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL