ISIS eksekusi penduduk saat menguasai Mosul, Irak.

ISIS eksekusi penduduk saat menguasai Mosul, Irak.

Oleh: Putu Heri

Tulisan ini, saya tujukan untuk saudara-saudara setanah air yang masih bingung menentukan sikap atas ancaman kelompok transnasional Negara Islam Irak dan Suriah. Saya memahami, bahwa informasi yang simpang siur tentang ISIS telah menyebabkan cukup banyak putra-putri bangsa Indonesia mendukungnya, bahkan, rela berangkat menuju Suriah dan Irak untuk berjihad.

Saya pernah menghadiri sebuah seminar, yang menghadirkan pemuka agama yang cukup terkenal, seorang penulis dan guru besar di sebuah universitas Islam, dan dengan percaya diri ia meyakinkan bahwa ISIS adalah kelompok Ahlussunah yang sedang memberontak lantaran dizalimi oleh rezim yang berkuasa. Peserta seminar, mayoritas ibu-ibu rumah tangga kebanyakan. Dari respon yang saya lihat, sepertinya mereka percaya perkataan guru besar tersebut.

Dalam banyak kasus, perlawanan terhadap penguasa selalu menjadi isu yang menarik, dan sepertinya layak untuk didukung. Itulah mengapa, ketika rakyat Libya berdemonstrasi untuk menggulingkan Ghadaffi, dan ketika sedikit rakyat Suriah ingin menggulingkan Assad, maka dukungan untuk mereka mengalir deras. Walau akhirnya kita mengetahui, dibalik demonstrasi tersebut ada tangan berdarah AS, Israel, Arab Saudi, Qatar dan sekutunya, yang merasa kepentingannya tidak aman selama Assad ataupun Ghadaffi masih memimpin.

Saudaraku, saya mengajak Anda semua untuk melihat kembali apa-apa yang telah dilakukan ISIS terhadap penduduk Suriah. Demi membangun ‘Daulah Islam’, mereka melakukan serangan terhadap wilayah Suriah, dan berhasil menguasai daerah di utara.

Melihat wilayahnya dicaplok, tentu saja pemerintah sah Suriah tidak akan tinggal diam. Mereka pun berusaha membebaskan wilayah yang dikuasai ISIS. Akibatnya, bentrokan senjata yang dahsyat pun tak terelakkan.

Dan hasilnya, hanya dalam waktu enam bulan, ISIS telah membantai sekitar 1.878 orang di Suriah, sebagaimana laporan dari Syrian Observatory for Human Rights (SOHR).  Sebanyak 1.175 korban merupakan warga sipil, 930 berasal dari Al-Shaitat, sebuah kawasan di sebelah timur Deir Ezzor. Mereka dibantai dengan cara yang keji, seperti dipenggal dan ditembak. ISIS membantai tanpa pandang bulu, baik wanita maupun anak-anak yang tak berdosa, tak luput dari sasaran pembantaian. Selain dari Deir Ezzor, korban lainnya juga berasal dari Raqqa, Hasakah, Aleppo, Homs dan Hama.

Mengapa rakyat sipil turut dibantai? Alasannya bermacam-macam. Mulai dari menolak dijadikan budak syahwat, menolak menyerahkan keluarganya untuk melayani ISIS, dianggap mata-mata pemerintah, atau tuduhan melakukan pelanggaran syariat serta penghinaan/hujatan kepada ISIS.

Saudaraku, mari saya ajak melihat kisah seorang perempuan Suriah yang malang. Di tempat ISIS berkuasa, wanita diharuskan memakai cadar. Naas, ada seorang wanita yang memakai cadar transparan, dan akibatnya, iapun dijatuhi hukuman. Ia diminta memilih, hukuman cambuk atau digigit, dan si wanita memilih digigit. Benar, ia digigit di leher hingga pembuluh darahnya pecah dan terjadi pendarahan hebat, dan ia pun tewas. Kisah selengkapnya di sini.

Saudaraku, ISIS juga telah mengeksekusi 120 anggotanya sendiri, yang mencoba hendak kembali pulang ke negara asalnya. Contohnya, pemuda asal Inggris, Mehdi Hassan alias Abu Dujana, tewas saat berusaha kabur dari Suriah namun tertangkap di wilayah perbatasan Turki dan kemudian foto mayatnya di kota Ain al-Arab (Kobane) diunggah di Twitter. Kisah selengkapnya di sini.

Dan akibat peperangan melawan ISIS, dalam enam bulan ini sekitar 500 orang tentara Suriah juga tewas. Bagi ISIS, nyaris tak ada rasa kemanusiaan dalam memperlakukan tawanan. Mereka yang sudah tidak berdaya, tetap dieksekusi.

SOHR menyatakan, bahwa jumlah korban jiwa yang dibantai ISIS bisa saja jauh lebih banyak, karena sampai hari ini, ada ratusan orang yang hilang dalam tahanan ISIS, ada sekitar 1000 orang yang tidak bisa dikontak dari suku Al-Shaitat, dan masih banyak penduduk Kurdi yang juga hilang sejak adanya serangan intensif terhadap wilayah Ain al-Arab (Kobane) pada bulan September 2014.

Saudaraku, hal-hal yang saya sampaikan diatas masih belum seberapa. Masih sangat banyak hal-hal keji yang dilakukan ISIS di Suriah dan Irak. Namun setidaknya, dengan gambaran singkat tersebut, kita yang masih memiliki hati nurani, mampu melihat persoalan dengan jernih. Katakanlah ISIS adalah pejuang Ahlussunah yang dizalimi, tapi mengapa disaat yang lain, ISIS juga melakukan kezaliman yang sama? Dan mari kita bayangkan jika apa yang terjadi di Suriah juga terjadi di Indonesia. Masihkah Anda semua akan mendukung ISIS jika yang dibantai adalah suami, istri, ataupun keluarga Anda? Mari, tetapkanlah hati dan cintai NKRI. (LiputanIslam.com)

—–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL