Oleh: Kalis Mardiasih*

Lik Jaswadi dan istrinya, Lik Ndari, sedang bungah. Anak sulungnya, si Lilik, akhirnya wisuda sarjana. Lima tahun lalu, Lilik berangkat dari kampung ke Jakarta untuk pamit kerja. Dasar Lilik memang anak yang tangguh, ulet, dan berkemauan keras, ia ternyata bisa bekerja sambil jadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta yang membuka kelas malam. Usai perayaan, mereka mampir ke sebuah restoran terkenal. Lokasinya cukup dekat dengan pusat kota yang riuh. Lik Jaswadi dan Lik Ndari makin deg-degan. Apalagi, mobil yang mereka sewa setengah hari itu cukup kesulitan cari ruang parkir pertanda resto rame. Laris.

Memasuki restoran, tampak antrean mengular. Lik Jaswadi dan Lik Ndari semakin tak sabar. Ini pasti tempat paling terkenal di Jakarta, sebab di dindingnya terpajang pula foto artis lengkap dengan tanda tangan serta testimoni akan kelezatan masakan yang mereka nikmati. Hampir satu jam mereka berdiri mengantri, hingga sampailah kepada meja panjang tempat berbagai macam sajian terhidang. Betapa terkejut semi kecelik Lik Jaswadi dan Lik Ndari mendapati sayur asem, tumis pare, oseng daun genjer, tumis daun pepaya dengan lauk tempe bacem, jeroan goreng. Tak ketinggalan juga tiwul, serabi, dan lentho pada meja khusus jajanan pasar.

Lah dalahpanganan ngene iki kan panganane ibuk bapak saben dina. Kok nganti direwangi antri sejam.”
Mereka memutuskan untuk tertawa terbahak setelah antre satu jam hanya demi menu makanan yang biasa mereka masak sehari-hari di kampung. Warung itu, sebut saja Warung Omahe Dewe bermaksud menghadirkan cita rasa pedesaan di kota. Para pegawai berkostum kaos putih dan celana kombor warna hitam, dipadu sarung dan peci hitam sebagai pemanis. Latar musik adalah tembang Jawa dan alunan gamelan. Harga produk jualannya tentulah tetap harga kota.

Si Lilik kemudian melamar pekerjaan sebagai staf tata usaha sebuah taman kanak-kanak di Jakarta. Baru melamar, ia sudah ciut duluan ketika melihat selebaran promosi sekolah yang memuat informasi harga pendaftaran. Uang pangkal yang harus dibayarkan orangtua tertera hampir seratus juta rupiah.

Lah dalah, baru mau daftar sekolah TK kok dahsyat betul begini?”

Lilik berusaha mengonversi gaji yang ia dapat ketika masih kerja di pabrik yang sebagiannya ia hemat untuk membiayai kuliahnya. Ia membayangkan gaji yang berbilang puluhan bulan untuk membiayai seorang anak balita yang akan sekolah pertama kalinya. Ia ngeri membayangkan bagaimana dunia bergulir kelak ketika gilirannya memiliki anak. Ketika jam istirahat, ia menguping para ibu yang sedang saling menceritakan keunggulan anak masing-masing. Ibu-ibu kantoran Jakarta itu bercerita bagaimana sekolah ini berhasil mengembangkan karakter anak dengan begitu baik.

“Anakku selalu bilang terima kasih setelah menerima bantuan dari orang lain.”

“Anakku selalu senyum dan menjabat tangan para saudara di keluarga besar.”

Lilik berpikir lebih keras. Mungkin memang sekarang era serba institusi. Di kota, belajar bilang terima kasih dan belajar menjabat tangan orang lain bayarnya mahal. Pada masa simbok dan bapak kita dulu, ketika perangkat masyarakat masih lengkap dengan daya dukung sosialnya berupa kumpul-kumpul, gotong royong, dan hajatan kampung, unggahungguh bocah adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang secara organik tanpa biaya. Masa kini zamannya perumahan modern yang bersekat-sekat dan lagi pula, orang kota jarang kumpul-kumpul dengan tetangga kanan dan kiri sebab sampai rumah telah terlalu malam. Alhasil, budaya unggah-ungguh tidak punya ruang sosialisasi dan menemukan bentuk yang tersengaja sebagai sebuah mata pelajaran dalam formalitas sekolah.

Atau, sebetulnya orang-orang kota senang membayar barang dengan lebih mahal. Bos di perusahaan tempatnya bekerja dulu bilang malu jika anaknya bersekolah di tempat yang lebih murah dibanding kliennya. Anehnya, ketika anaknya akan diikutkan lomba oleh guru di sekolah, si bos melarang. Ia juga malu kalau anaknya ternyata tidak menjadi juara alias kalah berkompetisi dengan anak klien dari sekolah lain. Embuh-lah.

Yang jelas, ada juga sekolah alam yang memindahkan pohon-pohonan serta miniatur sawah, ladang serta kandang ternak ke kota. Anak-anak sekolah di kota sering darmawisata di desa wisata di Yogyakarta untuk diajak terjun ke sawah, menyentuhkan kulit kaki anak langsung dengan tanah, dan mempertemukan kulit tangan anak dengan biji-bijian. Kaki dan tangan yang bersentuhan kembali dengan tanah, air, dan matahari itu konon indikator belajar hidup yang seada-adanya. Sebuah tindak alamiah yang dikemas dalam teropong eksotisme mata kota membidik hal-hal yang berbau perdesaan.

Di mal-mal besar, sayur mayur dengan label sehat kini jadi pameran. Daun-daunan yang biasa dipetik lalu dimakan mentah-mentah oleh Lik Jaswadi dan Lik Ndari sejak baru lahir hingga hari ini. Seorang artis dengan pengikut akun Instagram jutaan juga mengkampanyekan makan tumbuh-tumbuhan saja sebab gejala perubahan iklim juga disumbang oleh bagaimana industri makanan bekerja. Konon, total polusi karbon yang dihasilkan untuk memproduksi makanan seperti keju atau daging asap setara dengan polusi karbon yang diproduksi oleh mengendarai kendaraan bermesin beberapa mil. Wah, manusia modern pada akhirnya ingat bahwa ia hidup di alam yang digerakkan oleh hukum-hukum alam pula.

Tapi, ketika pulang kampung ke desa, Lilik juga kembali kaget. Anak-anak kecil di desanya dibiarkan begitu saja mengendarai motor gede untuk keperluan kebut-kebutan di alun-alun pada sore hari. Mereka berdandan menor dengan pakaian seperti biduan dangdut, bukan kaos dan celana gombrong seperti imajinasi restoran perkotaan terhadap desa. Ternyata, anak-anak di desa mengidolakan tokoh utama sebuah sinetron kejar tayang yang tampak maskulin dengan motor besar yang membuat si tokoh digilai teman-teman perempuan di sekolahnya. Para orangtua di kampung membeli motor itu dengan jalan kredit dengan menyetor uang muka dari hasil panen raya. Mungkin ini yang dalam istilah Linus Suryadi disebut takhayul-takhayul modern.

Mana yang kota, mana yang desa. Apa yang ideal, apa yang dikoreksi. Semua serba berebut makna. (LiputanIslam.com)

*menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian, dapat disapa lewat @mardiasih, disalin dari Detik, 4 Mei 2018.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*