SayedOleh: Andi Hakim

Konflik yang terjadi di Negeria dengan terbunuhnya ratusan pengikut ormas Islamic Movement Nigeria yang mayoritas bermazhab Jafari/Syiah oleh aparat tentara dan polisi Nigeria adalah persoalan re-negosiasi kontrak minyak.

Nigeria adalah salah satu negara termiskin di dunia dengan kategorisasi yang diperhalus oleh PBB dengan istilah negara LDCs (less developing country) meski mereka masuk sebagai 10 negara pengekspor dan pemilik cadangan minyak dunia terbesar.

Selama lebih dari 30 tahun Nigeria diperintah oleh kelompok Junta Militer sebagaimana ciri khas negara-negara bekas kolonialisme Inggris. Keberadaan Junta adalah memastikan bahwa meskipun Nigeria berobah menjadi negara “demokratis” namun kepemilikan dan hak-hak pengelolaan sumber daya alam penting mereka (yaitu minyak dan gas) tetap dikuasai asing. Dalam hal ini tiga negara yang paling banyak berinvestasi di Nigeria adalah AS, Inggris dan Israel.

Belakangan produksi minyak dunia mengalami penurunan signifikan dengan banyak alasan mulai dari strategi banjir minyak (oil-flooding) dari Saudi Arabia untuk menjatuhkan harga pasar, ditemukannya metode rekahan di AS sampai isu-isu perubahan iklim yang mendorong keluar investasi sektor ini kepada sektor energi terbarukan yang ramah lingkungan. Faktor-faktor tadi semakin menekan pendapatan pemerintah Nigeria dan rakyat mereka yang mengandalkan 80% GDP-nya dari minyak . Padahal sebelum adanya krisis, praktik korupsi menjerumuskan negeri ini dalam hutang luar negeri dan kemiskinan.

Adalah NIM (Nigerian Islamic Movement) yang mulai melakukan protes terhadap krisis yang terjadi di Nigeria. Krisis ekonomi, inflasi harga bahan pokok, korupsi, dan peningkatan pajak-pajak baru adalah topik-topik yang mereka kritik. Gerakan NIM kemudian mengarah kepada nasionalisasi dan gerakan mengembalikan moral melawan korupsi di tubuh pemerintah terutama sisa-sisa Junta Militer. Tindakan yang direspon dengan tekanan dan teror terhadap pemimpin-pemimpin agama yang memang dikenal sebagai penting bagi penduduk Nigeria.

Melalui isu menolak Islamisasi Negara, menolak ajaran Syiah, aparatur kepolisian dan militer Nigeria menekan gerakan perobahan ini melalui kekerasan. Hal yang sepertinya akan semakin tereskalasi mengingat persoalan Nigeria kini memanglah bukan persoalan sektarian atau madzab keagamaan, melainkan persoalan ekonomi yang menyulitkan lapisan masyarakatnya. Strategi “memotong kepala naga” dari militer untuk menghentikan dorongan perubahan di Nigeria tidak akan begitu saja selesai.

Nigeria sebenarnya negeri kaya-raya dan dengan penduduknya yang sedikit mereka memiliki peluang tumbuh seperti Brunei. Tetapi mereka memang terkena kutukan Sumber Daya Alam, yang merupakan praktik dari pengusaha serakah, militer, dan politisi korup yang berkongsi dengan pemodal asing.

Bukankah latar belakang konflik ini mirip dengan Indonesia (bagian Papua)? (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL