Foto:: Facebook

Foto:: Facebook

Oleh: Wasito Adi.

Pada zaman Imam Malik, ada seorang wanita yang buruk akhlaknya. Dia selalu tidur berbuat zina bersama lelaki dan tidak pernah menolak ajakan lelaki (pelacur). Tiba pada saat hari kematiannya, ketika mayatnya dimandikan oleh seorang wanita yang kerjaanya memandikan mayat, tiba-tiba tangan si pemandi mayat itu terlekat pada tubuh jenazah wanita itu.

Semua penduduk dan ulama gempar akan hal itu. Bagaimana tidak, tangan si pemandi mayat terlekat sehingga semua orang di situ tidak tahu harus berbuat apa untuk melepaskan tangannya dari mayat wanita tersebut. Banyak hal cara dan pendapat yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah itu. Akhirnya ada pendapat dan cara yang dirasakan sesuai tetapi berat untuk dijalankan.

Pertama, memotong tangan wanita pemandi mayat dan yang kedua tanam/kebumikan kedua- duanya yaitu pemandi mayat dan jenazah itu sekaligus. Tapi karena dari mereka ada yang berpendapat bahwa hal itu masih tidak sesuai dan memberatkan wanita si pemandi mayat maka mereka memutuskan untuk meminta pendapat dan solusi dari Imam Malik hingga akhirnya Imam Malik bertanya kepada wanita pemandi mayat itu.

“Apakah yang kamu lakukan atau apa yang kamu katakan kepada jenazah ini saat memandikannya?”

Perempuan yang memandikan mayat tersebut bersungguh-sungguh menjawab bahwa dirinya tidak berbuat atau tidak berkata apa-apa pun ketika menguruskan jenazah. tapi karena takut bila tangannya harus dipotong dan dikubur bersama mayat tersebut akhirnya wanita pemandi mayat itu mengaku bahwa ia berkata,“Berapa kalikah tubuh ini telah melakukan zina?” Hal itu ia lakukan sambil tangannya menampar-menampar dan memukul-mukul berkali-kali pada tubuh jenazah itu.

Dan Imam Malik berkata, “Kamu telah menjatuhkan qazaf (tuduhan zina) pada wanita tersebut sedangkan kamu tidak mendatangkan 4 orang saksi. Dalam keadaan seperti ini, dimana kamu akan mencari saksi? Maka kamu harus dijatuhkan hukuman hudud 80 kali karena menuduh jenazah ini berzina tanpa mendatangkan 4 saksi.”

Maka saat wanita pemandi mayat itu dikenakan hukuman cambuk dan tiba sebatan yang ke-80, maka dengan kuasa Allah Swt, terlepaslah tangannya dari mayat tersebut.

Hikmah atau pelajaran yang bisa di ambil: jaga lidah jangan sebarkan fitnah. Jangan mudah menuduh buruk orang lain meskipun bahwa dia itu seorang pelacur sekalipun, tapi kalau kita tak pernah lihat perbuatannya maka kita dilarang menuduhnya berzina.

Semoga kisah Imam Malik dan pemandi mayat ini dijadikan sebagai tauladan dan ikhtibar. Karena itu ingatlah, bila kita membantu menyebarkan sesuatu perkara buruk dalam masyarakat, negeri atau negara, yang mana kita tidak menyaksikannya dan tiada saksi, maka tunggulah suatu hari, kita akan menerima balasannya.

Sekarang, opini apa yang hendak diciptakan oleh kader PKS Muhammad Fadri A R seperti yang nampak dalam capture status diatas? Secara eksplisit memang tidak menuduh, namun secara implisit, mengandung tuduhan adanya zina. (LiputanIslam.com)

Baca juga: Kader PKS Menuduh Putra-Menantu Jokowi Berzina

Tulisan ini disalin dari akun Facebook Wasito Adi.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL