kerja nyataOleh: Wicak Hidayat*

Presiden Jokowi menamakan kabinetnya sebagai Kabinet Kerja. Untuk ulang tahun kemerdekaan ke-71, slogan yang muncul di berbagai spanduk di instansi pemerintah adalah: Kerja Nyata!

Soal spanduk itu, sebenarnya agak membuat berpikir sih. Kenapa semua sibuk menampilkan spanduk dengan tulisan Kerja Nyata, ya? Bukankah, kalau memang sudah melakukan kerja yang nyata, nggak butuh lagi spanduk?

Ah, sudahlah. Di sisi lain, sepertinya ini saat yang tepat untuk kembali berpikir (dan menulis) soal kerja. Tentunya, dalam lingkup kolom ini adalah kerja yang terkait dengan teknologi, startup dan dunia digital.

Soal kerja ini memang agak pelik dan, untuk beberapa orang, sensitif. Kenapa? Coba bayangkan saat baru lulus kuliah kemudian datang ke kumpul keluarga atau halal bi halal Lebaran, apa pertanyaan yang muncul ketika berjumpa handai taulan, sanak saudara dan para kerabat?

“Kerja di mana?”

Syukur kalau sudah dapat kerjaan. Nah, kalau belum. Kadang rasanya ingin mengubur diri dengan kue nastar atau lompat ke kolam sirup rasa jeruk saja kan?

Untungnya, sekarang ada berbagai alternatif pekerjaan yang bisa dilempar ke muka orang yang bertanya tadi.

Misalnya: “Aku sekarang bikin startup Om, ya siapa tahu bisa jadi kayak Mark Zuckerberg, atau minimal kayak Nadiem Makarim laah!”

Abaikan dulu bahwa ada kemungkinan yang diajak bicara tidak paham soal startup itu apa. Paling tidak, bisa membuat orang itu buru-buru mengambil kastengel agar punya alasan untuk tidak berkomentar.

Tapi, serius nih, sudahkah kita benar-benar mempertimbangkan apa saja opsi karir selain melemparkan surat lamaran ke dalam amplop coklat lalu berdoa tujuh kali sehari?

Cari dulu tujuannya

Sesungguhnya, di zaman serba digital ini, terbuka banyak pilihan pekerjaan atau karir yang bisa diambil. Sebut saja kerja lepasan alias freelance, hingga yang itu tadi: membuat startup sendiri.

Tentu saja, semua ada pertimbangannya. Baik-buruknya harus dilihat dengan jernih dulu. Tanyakan ini dulu: apa sih tujuan sesungguhnya kita bekerja?

Dalam sebuah diskusi bersama Student Job Indonesia dan Kelas Muda Demokrasi Digital, pertanyaan itu coba saya lontarkan. Jawaban yang muncul hampir seragam: kita bekerja untuk mendapatkan gaji.

Betul, gaji memang penting. Memiliki gaji artinya bisa bayar utang di warung pecel ayam yang sudah bertahun-tahun ditagih; atau bisa disimpan untuk beli Macbook; atau bahkan ditabung untuk modal nikah!

Masalahnya, gaji itu kadang misterius. Baru masuk di rekening bank, besoknya sudah nggak ada lagi. Habis tak bersisa, kecuali debu dan remah-remah belaka.

Barry Schwartz, dalam sebuah TED Talk, menuturkan soal gaji itu seperti ini: “Ya, kita tak akan kerja kalau tidak digaji, tapi itu bukan alasan kita melakukan apa pun yang kita lakukan. Bahkan, umumnya kita menganggap melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan uang adalah alasan yang buruk.”

Soal tujuan (bahasa kerennya purpose) itu memang jadi penting. Karena kalau tidak jelas purpose-nya, kerja jadi lesu dan tak bersemangat. Kerja sekadar isi waktu, menunggu tanggal gajian.

Apalagi kalau bikin startup. Purpose-nya harus lebih jelas daripada jadi karyawan. Ini karena, menurut kabar kabur yang berseliweran di mana-mana, 90 persen startup bakal gagal.

Nah, kalau kita akan melakukan sesuatu yang kemungkinan gagalnya sangat besar, kenapa harus memilih untuk melakukan sesuatu yang tidak jelas tujuannya?

Ngantor di mana?

Jika mau mencoba karir model baru, misalnya bekerja sebagai tenaga lepasan sambil coba-coba merintis usaha sendiri, ada satu lagi pertanyaan yang muncul: mau bekerja dari mana?

Jawabannya bisa beragam, mulai dari kamar kos, rumah atau bahkan cafe dan restoran. Tapi, jangan pernah lupakan bahwa sekarang makin banyak yang namanya coworking space.

Ini adalah sebuah tempat kerja yang jauh dari kesan konvensional. Ini bukan susunan kubikel-kubikel yang kadang begitu memenjara tapi kadang memeluk nyaman. Ini adalah tempat bekerja gaya baru.

Bukan sekadar tempat, coworking space adalah ruang kolaborasi. Ongky Saptari, Co-founder Co&Co, sebuah coworking space di Bandung, mengatakannya dengan sangat puitis: sebuah coworking space adalah tempat yang memungkinkan terjadinya serendipity.

Serendipity adalah kejutan yang menyenangkan, sebuah peristiwa asyik yang terjadi tanpa direncanakan.

Hal itu karena coworking space  adalah melting pot, tempat orang dari bidang yang berbeda bisa bertemu, berbagi dan bahkan berkolaborasi. Di tempat seperti ini, peluang-peluang baru bisa bermunculan.

Adanya coworking space dan jenis pekerjaan yang tidak terlalu membelenggu telah melahirkan golongan baru di masyarakat pekerja. Mereka adalah para digital nomads, orang-orang yang bekerja dan tinggal di mana ia mau.

Mereka bebas memilih untuk bekerja di kota-kota dengan pantai yang indah atau memilih “kantor” dengan pemandangan gunung yang sejuk.

Mereka bisa bekerja sambil menjelajah dunia. Bekerja sambil mengenal berbagai budaya dan orang dari berbagai belahan bumi.

Atau, bisa saja mereka sekadar memilih untuk bekerja di wilayah yang dekat dengan rumah, keluarga dan sekolah anak.

Nah, sekarang, jujur saja, tidakkah Anda juga menginginkannya? Aku sih yes!

 

* Penulis teknologi yang saat ini terjun bebas ke dunia startup digital. Ia aktif di Code Margonda bersama komunitas lainnya di Depok. Disalin dari Kompas, 25 Agustus 2016.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL