Assad singaMelihat tulisan-tulisannya yang nyaris selalu pro- Arab Saudi, tak heran jika kolumnis Republika Ikhwanul Kiram menuliskan artikel yang berjudul “Singa yang Terluka dari Suriah,” – untuk menggambarkan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang bak seekor singa (buas, siap menerkam dan memangsa rakyatnya). Dan dengan nada yang sedikit mencemooh, Pak Kiram meyakini bahwa singa itu kini tengah terluka – dan rakyatnya akan menuntut balas.

Seperti halnya para pendukung oposisi yang over percaya diri menyatakan bahwa Assad akan segera jatuh, Pak Kiram pun demikian. Dalam uraiannya dia menyebutkan, “rakyat akan menuntut balas kepada rezim penguasa (Assad-pen) dan akan bernasib sama dengan rezim di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya.”

Didatangi ratusan ribu teroris dari berbagai negara untuk menggulingkan kekuasaannya – adalah mimpi buruk bagi negara manapun. Dan itulah yang dihadapi oleh Assad. Namun siapa sangka, telah tiga tahun digoyang dengan aksi terorisme, bukannya jatuh – Assad malah semakin tangguh.

Kekeliruan Pak Kiram dalam analisisnya adalah begitu mudah percaya bahwa rakyat Suriah hidup dalam rezim otoriter yang kejam dan bengis (dan ia mengibaratkan seperti singa yang buas). Padahal asumsi itu sangat bertentangan dengan fakta bahwa Suriah adalah rumah yang ramah bagi pengungsi Palestina – dan satu-satunya negara Arab yang menerima dengan hangat kelompok muqawwama Hamas. Pada penduduk negara Palestina saja ramah, apalagi kepada rakyatnya sendiri.

Lalu, Pak Kiram juga tidak menggali lebih dalam bagaimana kehidupan Suriah sebelum terjadinya konflik. Sekolah gratis, berobat gratis, dan harga-harga kebutuhan pokok yang sangat murah. Rakyat Suriah bebas memeluk agama dan kepercayaannya tanpa adanya intimidasi – walau harus diakui bahwa Rezim Assad bertindak otoriter terhadap kelompok-kelompok ektremis dan sebisa mungkin mencegah kelompok tersebut membesar. Dengan ketegasan seperti itu, kondisi Suriah relatif aman, dan seorang gadis bisa berjalan-jalan santai di tengah malam sekalipun tanpa ada yang menganggu. (Liputan Islam, 17 Februari 2014)

Kebutuhan dasar manusia seperti yang diungkapkan Abraham Moslow,   meliputi kebutuhan fisiologis, yang merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar seperti makan, minum, dan tidur. Lalu setelahnya, manusia membutuhkan rasa aman, bebas dari rasa takut dan cemas, stabilitas, keteraturan, dan jaminan keamanan. Bagaimana dengan Suriah, sudahkah hak-hak dasar ini terpenuhi?

Sadeq Khanafer, kolumnis Al-Manar menuliskan dengan detail kondisi Suriah sebelum konflik, dalam artikel yang berjudul “Only in Syria”. Sadeq mengungkapkan, harga-harga kebutuhan pokok di Suriah hanya sepertiga biaya produksi. Sakit dan harus dirawat inap, juga gratis. Pajak penghasilan hanya 5% bagi kalangan berada, dan bagi rakyat berpenghasilan rendah—tidak dikenakan pajak sama sekali.

Dina Y. Sulaeman, penulis buku Prahara Suriah, dalam salah satu wawancaranya dengan jurnalis Suriah (Mr Souri), mengungkapkan bahwa rakyat Suriah hidup dengan nyaman dan saling menghormati. Di Suriah, ada kebiasaan saling berbagi makanan di bulan Ramadhan. Mr Souri  tiap hari bersama istrinya memasak makanan lalu dibagikan ke tetangga-apapun agama dan mazhabnya-dan sebaliknya, juga menerima pembagian makanan dari tetangga. Meja makan selalu penuh dengan makanan pemberian banyak orang. Di masjid, disediakan buka bersama gratis. Mr. Souri juga cerita bahwa di Suriah, Kristen pun banyak mazhabnya dan masing-masing bebas punya gereja sendiri.

Kemudian datanglah jihadis dari puluhan negara. Rumah sakit dibom, masjid dirusak, sekolah dihancurkan, rumah-rumah penduduk hancur lebur, makam dibongkar, pabrik roti dijarah. Kedamaian lenyap berganti dengan kekerasan. Lebih dri 150.000 jiwa melayang.

Tak heran jika kemudian rakyat Suriah bangkit membela negaranya – dengan terjun langsung ke medan tempur. National Defence Force, adalah barisan rakyat Suriah yang jumlahnya ratusan ribu dan berasal dari berbagai elemen masyarakat. Tukang kayu, tukang batu hingga pegawai negeri merapatkan barisan. Mahasiswa yang modis hingga para ibu rumah tangga tak ketinggalan mengangkat senjata untuk mempertahankan Suriah.

Seandainya, rakyat Suriah memang benar-benar terjajah dalam pemerintahan Rezim Assad, apakah mungkin mereka membentuk barisan rakyat untuk melawan pemberontak ? Pastinya tidak. Mereka pasti akan sangat senang jika Bashar al-Assad terguling, dan diganti dengan rezim baru.

Alih-alih turut menggulingkan Assad, rakyat Suriah malah berbondong-bondong laksana air bah mendatangi tempat pemungutan suara pada Pilpres Suriah yang baru saja berlangsung, sebagai bentuk kecintaan mereka kepada pemimpinnya. Sedangkan di medan tempur, ada Syrian Arab Army, yang gagah berani berada di garda terdepan melawan pemberontak. Dan tentu saja SAA tidak sendiri, ada Hizbullah dan NDF yang menjadi partnernya melawan teroris.

Dan Pak Kiram, Sang Singa yang Anda bilang “terluka” dan akan “dihukum” rakyat itu, kini terpilih kembali menjadi pemimpin Suriah untuk 7 tahun ke depan. Saya rasa, belum terlambat untuk Bapak untuk mengucapkan selamat kepada Bashar al-Assad.

 

____________
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL