Oleh : Nur el-Fikri*

persatuan1Tanggal 4-6 Juli 2005, di Masjid al-Hasyamiyyin, Amman, Yordania, berkumpullah sekitar 500 ulama dari seluruh penjuru dunia, utusan negara-negara dan juga lembaga-lembaga Islam internasional seperti Yordania, Mesir, Al-Jazair, Afghanistan, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Libanon, Irak, Iran, Kanada, Perancis, Jerman, dan lainnya termasuk dari Indonesia. Mereka berkumpul bukan tanpa alasan, tetapi dalam rangka membangun persatuan Islam ditengah gelombang takfirisme yang memancing perpecahan Islam dalam konflik-konflik sektarian, tebaran kebencian dan saling pengkafiran. Setelah tiga hari berdiskusi, saling memberi wawasan dan informasi, mengenalkan setiap pandangan secara fair dengan penelitian yang jauh dari manipulasi, maka terukirlah suatu deklarasi islami yang disebut “Risalah Amman” yang diberkati, yang diantara isinya menyebutkan :

  • Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali), dua mazhab syiah (Ja’fari dan Zaidiyah), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut mazhab-mazhab tersebut. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut mazhab-mazhab tersebut tidak boleh di halalkan….
  • Kami semua mengajak seluruh umat untuk membuang segenap perbedaan di antara sesama Muslim dan menyatukan kata dan sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; memperkuat sikap saling mendukung di antara bangsa-bangsa dan negara-negara umat Islam; memperkukuh tali persaudaraan yang menyatukan mereka dalam saling cinta di jalan Allah. Dan kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di antara mereka.

Betapa indahnya deklarasi itu, dan tentu para ulama yang hadir sangat memahami kondisi dan situasi umat saat ini yang membutuhkan persatuan. Selain deklarasi Amman di atas, ada juga konferensi di Mekah yang menghasilkan piagam Mekah tahun 2006. Bahkan di Indonesia, tahun 2007 ada pertemuan internasional yang dihadiri ratusan ulama-ulama sunni dan syiah yang menghasilkan piagam Bogor. Dan terakhir, di Makassar ada deklarasi Umat Islam utuk Persatuan tahun 2012. Semua deklarasi itu berisi pentingnya persatuan umat Islam meskipun berbeda mazhabnya.

Namun, kemarin, Minggu, 20 April 2014, di Mesjid al-Fajr, Bandung, Indonesia, berkumpullah 12 orang ulama dari beberapa kota. Mereka juga berkumpul bukan tanpa alasan, mereka ingin membangun koalisi dakwah yang menjauhkan manusia dari ishlah, dengan cara membangun ‘asabiyah, untukmenolak satu mazhab Islam yakni mazhab syiah. Setelah beberapa jam berkumpul dan mendengarkan beragam orasi yang dibalut emosi, maka mereka membuat deklarasi untuk membangun aliansi menolak mazhab keluarga Nabi. Mereka menamakan dirinya Aliansi Nasional Anti Syiah (kita singkat dengan ANAS). Berikut ini isinya :

  1. Menjadikan lembaga Aliansi Nasional Anti Syiah sebagai wadah dakwah amar mankruf nahi munkar.
  2. Memaksimalkan upaya preventif, antisipatif, dan proaktif membela dan melindungi umat dari berbagai upaya penyesatan akidah dan syariah yang dilakukan oleh kelompok Syiah di Indonesia.
  3. Menjalin ukhuwah Islamiyah dengan berbagai organisasi dan gerakan dakwah di Indonesia untuk mewaspadai, menghambat dan mencegah pengembangan ajaran sesat Syiah.
  4. Mendesak pemerintah agar segera melarang penyebaran paham dan ajaran Syiah, serta mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, dan lembaga yang terkait dengan ajaran Syiah di seluruh Indonesia.

Bandingkanlah dua deklarasi di atas secara jujur dengan timbangan akal, hati, dan ajaran agama. Nilailah kualitas dan kuantitasnya, metode dan isinya, hikmah dan tujuannya, maslahat (kebaikan) dan mudharat-nya (keburukannya). Maka kita akan tahu masing-masing nilainya, mana yang mementingkan persatuan umat, dan mana yang mementingkan kepuasan sesaat? Mana yang menebar kedamaian, dan mana yang menebar kebencian? Mana yang mengedepankan ukhuwah dan ishlah, mana yang mengedepankan amarah dan pecah belah? Mana yang memberikan kebebasan dan mana yang melakukan pemaksaan? Mana yang menurunkan rahmat, mana yang mendatangkan azab? Mana yang ingin menghargai dan mana yang ingin mendominasi? Mana yang menghormati proses dialogis, mana yang cenderung anarkis? Saya yakin kita semua bisa menilainya masing-masing.

Bagi penulis, deklarasi ANAS ini cukup membahayakan persatuan Islam di Indonesia. Sebab dominasi dan pemaksaan pemahaman tertentu, yang mengedepankan indoktrinasi yang dogmatis, dan melarang umat bersikap kritis dalam kebebasan berpendapat melalui ajang dialog adalah sebuah bentuk anarkis atau kekerasan simbolik, la violence symbolique, meminjam istilah Pierre Bourdieu.

Kekerasan simblik itu tidak bersifat fisik. Ia cenderung menghantam psikis. Biasanya kekerasan simbolik itu dilakukan melalui bahasa, lisan atau tulisan. Misalnya, anda menghina sesorang dengan bodoh, jelek, miskin, dan lainnya, maka saat itu anda telah melakukan kekerasan simbolik. Dalam persoalan agama, kekerasan simbolik biasanya dilakukan melalui dominasi dan pemaksaan pemahaman yang dilakukan dengan menghasut dan memberikan label sesat, kafir, halal darahnya, kepada orang yang berbeda mazhab untuk menggiring opini umum. Dan jika hal itu menghasilkan gerakan massif dan represif dengan memaksa melalui ancaman, pukulan, pengepungan, pengeroyokan, pengusiran hingga pembunuhan, maka kekerasan simbolik itu berubah menjadi kekerasan fisik.

Jadi, adakalanya kekerasan simbolik, mengarahkan dan berujung kepada kekerasan fisik. Ingatkah kita pada peristiwa terbunuhnya Ali bin Abi Thalib (kekerasan fisik), yang didahului dengan pengkafiran terlebih dahulu (kekerasan simbolik) oleh kelompok Khawarij. Dan ingatkah kita kepada pengikut Imam Ali di Sampang, Madura, yang diusir dari tanahnya, dibakar rumahnya, dibunuh tetuanya, dipenjarakan ustadznya (semuanya kekerasan fisik), yang di dahului dengan fatwa sesat dan kafir (kekerasan simbolik) oleh segelintir orang dalam majelis yang terhormat.

Dengan demikian, kekerasan simbolik ini menggunakan media tulisan atau lisan propokatif. Dalam hal ini, bahasa digunakan untuk menggiring opini dan meneguhkan kekuasaan atau dominasi dari mayoritas kepada minoritas. Sosiolog Shan Wareing dalam Language, Society, and Power (1999) menjelaskan bagaimana bahasa mayoritas bekerja menguasai minoritas. Menurutnya, bahasa sering kali digunakan untuk kepentingan kelompok mayoritas. Hal ini dengan mudah dilakukan karena orang-orang dalam kelompok mayoritas umumnya menguasai media politik dan hukum serta berbagai media lainnya. Akibatnya, penindasan yang terjadi terhadap kelompok minoritas yang tidak memiliki akses banyak ke berbagai media akan dipandang wajar-wajar saja. Dan dengan berbagai tulisan serta ceramah itu, mereka menggambarkan kebenaran kelompok  mayoritas dan menyembunyikan kebenaran kelompok minoritas.

Sebagai contoh, syiah sering dituduh tidak mengakui Alquran yang ada sekarang, padahal sampai detik ini, tidak ada dijumpai Alquran syiah yang berbeda dengan Alquran sunni. Bahkan, negara Iran yang mayoritas syiah itu, memilki para qari dan hafiz Alquran yang selalu ikut dalam ajang MTQ internasional. Almarhum Cak Nur (Nurcholis Madjid) punya kenangan dalam suatu dialog Sunnah-Syiah, seorang pembicara mengatakan Alquran syiah berbeda dengan sunni. Dengan cepat Cak Nur menunjukkan Alquran terbitan Iran yang syiah yang kebetulan dibawanya, dan meminta si pembicara itu menunjukkan di mana letak perbedaanya. Si pembicara itu tak mampu melakukannya.

Begitu pula misalnya, isi Deklarasi ANAS menyebutkan bahwa syiah menyimpang umat Islam, dari Alquran dan sunnah. Syiah Indonesia juga menyebarkan ajarannya dengan massif melalui pendidikan, sosial budaya, dan politik. Syiah Indonesia juga menyebabkan konflik, dan lainnya.

Kalau kita menggunakan penjelasan Shan Wareing di atas, maka kita bisa mengatakan bahwa deklarasi itu memaksakan “fakta”, untuk menggiring opini bahwa syiah (minoritas) bertentangan dan ditolak umat Islam (mayoritas). Padahal deklarasi ini juga tidak menjelaskan siapa yang dimaksudnya umat Islam itu. Bukankah Risalah Amman menyatakan dengan tegas bahwa mazhab syiah adalah mazhab resmi yang sah dalam Islam dan tidak boleh menyesatkan atau mengkafirkannya. Apakah para ulama sedunia itu dinilai oleh ANAS, sebagai bukan umat Islam? Begitu pula, Apakah para ulama Indonesia yang jauh lebih mumpuni dari ANAS seperti Gusdur, Said Agil Sirodj, Umar Shihab, Qurais Shihab, Din Syamsuddin, Syafi’i Ma’arif, dan lainnya yang menyatakan syiah adalah mazhab Islam yang sah, di nilai oleh mereka sebagai bukan umat Islam?

Adapun soal pendidikan, sosial-budaya dan politik adalah hak setiap warga negara Indonesia. Tidak ada larangan apapun bagi orang syiah yang merupakan warga negara Indonesia untuk berpartisipasi dalam dunia pendidikan, sosial kemasyarakatan atau pun politik. Saya rasa orang syiah juga banyak yang cerdas dan sumbangsih pikiran mereka juga kita dibutuhkan. Soal, konflik faktanya di Sampang, komunitas syiah yang minoritas yang ditindas.

Jadi, pada dasarnya, mayoritas umat Islam dan ulama Indonesia tidak mempersoalkan kehadiran syiah, hanya segelintir orang saja, yang orang dan sponsornya pun itu-itu saja, yang bernafsu memberangus syiah dari bumi nusantara. Persoalan bangsa ini, seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, disintegrasi, dan lainnya, lebih layak dipikirkan dari sekedar urusan sunni-syiah. Lagian, saya yakin, tidak semua yang hadir di sana setuju dengan hal tersebut. Kita tidak bisa memukul rata semuanya. Begitu pula, sifat dasar manusia itu mencintai ishlah (perdamaian), sedangkan aliansi di Bandung itu ingin membawa manusia berpecah belah. Karenanya, aliansi itu tidak akan mendapat dukungan besar dari ulama-ulama dan masyarakat Indonesia atau ormas-ormas keislaman yang konsen dengan persatuan umat. Bagi saya gerakan-gerakan seperti ini akan terbuang dalam keranjang sampah sejarah.

Semoga Allah swt menjaga bumi Indonesia dari kekacauan, konflik, kebencian, dan permusuhan di balik simbol-simbol keagamaan. (hd/liputanislam.com)

*Penulis adaah pengamat sosial-keagamaan.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL