Sumber foto: haris-widodo.blogspot.com

Sumber foto: haris-widodo.blogspot.com

Oleh: Haerul Ali, Blogger

“Kebenaran itu nyata, dan nyata artinya jelas, kalau sudah jelas lalu dijelaskan lagi maka menjadi semakin tidak jelas, namun sebaliknya sesuatu yang belum jelas kalau dijelaskan maka menjadi jelas,” kurang lebih begitulah petikan pesan yang saya dapatkan dari Sang Guru. Beliau hendak menyentil pikiran yang selama ini sudah terdistorsi oleh baik definisi yang dibuat-buat atau permaknaan yang dipersepsikan lalu diklaim sebagai suatu kebenaran, sementara yang tak sepaham dengannya bukanlah kebenaran.

Padahal kebenaran mutlak bukan pada persepsi individu-individu, kebenaran mutlak tentu saja hanya pada Allah sedangkan manusia sendiri adalah kebenaran relatif. Begitu pun dalam berbicara masalah mazhab, baik dalam istilah Syiah atau Sunni, yang ada hanyalah Islam, bukankah Rasululllah diutus sebagai rahmat semesta alam?

Sementara istilah sunni syiah kini menjadi pengkotak-kotakan atau memberi batasan-batasan sehingga timbullah perbedaan, padahal dari perbedaan itu bisa menempuh jalan berdialog dengan menggunakan akal sehat atau mengembalikan ke kaidah umum tentang konsep dasar agama. Bukan malah menjadi radikal, ekstrimis, intoleran hingga perang yang menimbulkan korban begitu banyak dan mubasir akibat gagalnya jalan dialog dengan akal sehat atau berdebat dengan baik.

Berdebat disini bukan sebagai ajang untuk ego atau arogansi, bahkan menghukumi seseorang atau menyudutkannya sebagai pihak yang bersalah, namun debat disini adalah kedua belah pihak hendak mengetahui ataupun memahami dan menemukan kebenaran sejati, atau menemukan persamaan ketimbang menyolokkan perbedaan yang semakin masif demi tujuan-tujuan licik, jahat dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan meski menggunakan simbol-simbol agama.

Antara mutlak dan relatif tak bisa bersama sekaligus seperti halnya bawah dan atas tidak bisa bersama sekaligus namun ada konektivitas, ada bawah maka ada atas. Sementara orang-orang yang sudah mengikuti mazhab tertentu sudah mengklaim itulah kebenaran yang dianutnya sedangkan nabi  menyebarkan Islam bukan dalam kapasitas mendirikan mazhab, dengan banyaknya mazhab yang ada sekarang sepanjang sejarah, apakah itu bukan suatu kebenaran relatif? Dan kebenaran relatif itu bisakah dijadikan sebagai kebenaran mutlak sekaligus? Tentu tidak.

Jika ada orang yang saat ini mengikuti mazhab tertentu lalu ngotot bahwa inilah kebenaran sejati atau mutlak kemudian memaksakan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti mazhabnya maka secara diam-diam sudah menobatkan diri menjadi nabi, nauzubillah.., lalu pada akhirnya merasa berhak menghukum siapa saja yang tak mengikuti mazhabnya. Sedangkan definisi mazhab terlebih dahulu harus dibereskan maknanya, bukan keburu menghukum orang lain yang berbeda.

Fenomena ini terjadi di lingkungan sekitar kita, kita bisa lihat bagaimana web-web yang kontennya hampir itu-itu saja yang diulang-ulang atau didaur-ulang terus menerus dan sudah cukup menghabiskan bandwith, kemudian tak cukup itu maka orang-orang ini pun membuat buku-buku yang notabene katanya adalah dari organisasi terpercaya yang mewakili umat islam. Padahal setahu saya organisasi itu atau apalah namanya selama ini hanya mengurusi label halal suatu produk, bahkan konon kabarnya sepatu merek tertentu mendapatkan kecaman bahwa bahan sepatunya bukan dari bahan yang halal alias babi, sementara dalam hukum agama islam babi haram dimakan bukan haram dilihat, difoto, atau digunakan sebagai bahan sepatu. Kalau pun orang islam yang mengenakan sepatu ini mau shalat misalnya, wong bisa dilepas sehingga shalat tidak batal, lain halnya kalau ada yang mengaku islam lalu makan babi artinya sudah menyalahi syariat, ini baru benar-benar salah dalam beragama.

Begitu pun orang yang telah mengucapkan kalimat syahadat lalu dituduh kafir, sesat, bi’dah dan sebagainya, saya jadi curiga orang-orang yang menuduh ini jangan-jangan sudah mendapatkan wahyu atau mandat dari Tuhan untuk melontarkan tuduhannya itu, sementara sudah sangat jelas bahwa orang yang telah mengucapkan syahadat adalah Islam, terlepas dia menjadi saleh, tawadhu, istiqomah itu adalah urusan Allah, kapasitas keimanan seseorang hanya Allah yang tahu, bukan orang-orang yang duduk di suatu organisasi atau mereka yang mendapatkan gelar dari manusia dengan sebutan ustad, ulama, atau ndoro yang berhak mengklaim seseorang itu sudah keluar dari Islam hanya karena berbeda cara memahami agama. Bukankah pernah ada kalimat yang bijak bahwa perbedaan itu adalah rahmat? Lalu kenapa kok Islam itu diklaim hanya milik orang-orang yang seperti ini seperti itu, atau katakanlah jubahnya begini sorbannya begitu? Shalatnya sedekap dan shalatnya tidak bersedekap.

Bahkan adapun orang-orang yang fasih dalam pengucapan bahasa Arab belum tentu memahami dengan mutlak kandungan atau makna suatu ayat. Kenapa? Karena dia bukan nabi. Sebab nabi adalah yang langsung menerima wahyu dan sangat paham. Lalu bagaimana semestinya?

Karena kebenaran mutlak itu adalah Allah sedangkan manusia adalah kebenaran relatif maka sesama relatif harus atau wajib “tahu diri”, tahu diri ini bukan tempe melempeng namun kembali pada kesadaran diri atau lebih dikenal dengan kesadaran eksistensi. Mungkin istilah ini begitu seram karena istilah awam pun belum saya dapatkan dan bahkan oleh Sang Guru juga belum menemukan istilah yang lebih ngepop, begitu hebatnya diri ini sampai menggambarkannya sulit atau bahkan tak mungkin.

Maka dari itu kalimat “siapa yang mengenal diri maka mengenal Tuhannya” perlu diapresiasi (dikaji) lebih mendalam lewat maujud atau yang termanifestasi yaitu diri yang tak bisa digambarkan namun hanya bisa dirasakan. Sehingga jika setiap diri tahu kapasitasnya maka tak ada lagi yang teriak-teriak Allahu Akbar lalu membunuh, menggorok leher bahkan dengan meledakkan bangunan-bangunan serta makam-makam, dan juga tak ada lagi tulisan-tulisan yang serampangan menuduh ini sesat, ini bukan Islam, ini halal darahnya dan lain-lain yang hanya membuat masyarakat begitu hidup di zaman horro, namun kalimat Allahu Akbar dimaknai dengan lebih elegan bahwa kebesaranNya tak seperti persepsi manusia, sebab tak ada yang setara dengan Dia.

Sedangkan kultur bangsa kita adalah saling menghormati dalam perbedaan, maka tak keliru rumusan Pancasila sudah sangat klop dengan semangat ke-Indonesia-an, dan masyarakat Indonesia pun adalah masyarakat yang santun penuh kelembutan, maka jangan sampai dengan pemaksaan atau agresi keyakinan ini yang notabene bisa dibilang kebenaran relatif mengancam keutuhan bangsa Indonesia, Bhineka tunggal Ika.

 

————-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL