Foto asli karikatur di al-quds.uk [klik untuk memperbesar]

Foto asli karikatur di al-quds.uk [klik untuk memperbesar]

Oleh: Kang Hasan

Saya postingkan kembali karikatur di Koran terbitan London Al-Quds al-Arabi dan dimuat ulang di Jakarta Post, kemudian menuai protes, dianggap sebagai penghinaan terhadap Islam. Mari kita simak gambarnya. Mari kita simak gambarnya. Gambar terdiri dari 2 bagian. Di latar belakang tampak orang bersenjata sedang menodong, siap membunuh beberapa orang dengan mata tertutup disaksikan oleh beberapa orang lain mobil. Di latar depan, seseorang sedang mengibarkan bendera. Bendera hitam dengan tulisan “laa ilaha illallah Muhammad rasulullah”, dengan gambar tengkorak menyatu dengan tulisan itu. (Baca: Kasus Karikatur, Pemred The Jakarta Post Resmi Tersangka)

Bagian inilah yang menuai protes. Tulisan kalimah syahadat yang suci dijajarkan dengan gambar tengkorak dianggap melecehkan. Tengkorak adalah simbol kejahatan. Karenanya tidak pantas dijajarkan dengan kalimah suci. Menjajarkannya adalah sebuah penghinaan.

Mari kita bayangkan gambar itu dengan sedikit perubahan. Kita hilangkan gambar tengkorak pada bendera itu. Apa yang kita lihat? Yang kita lihat adalah orang bersenjata, menodongkan senjata kepada sejumlah orang dengan mata tertutup, siap membunuh mereka. Kejahatan pembunuhan dilakukan di bawah naungan kalimat suci, “laa ilaha illallaah Muhammad rasulullah”. (Baca: Ditetapkan Tersangka, Begini Tanggapan Pemred The Jakarta Post)

Pada gambar imajinatif kita, tak ada lagi kalimah suci yang dijajar dengan gambar tengkorak. Jadi taka da lagi penghinaan. Umat Islam tak perlu lagi merasa terhina. Tapi tunggu dulu. Benarkah begitu? Saya ulangi lagi kalimat saya di paragraf atas. “Seseorang siap membunuh beberapa orang lain di bawah naungan kalimah suci, laa ilaha illallah.” Tidakkah umat Islam merasa terusik dan terhina dengan gambar itu? Menurut saya terhina. Karena pembunuhan adalah kejahatan keji yang tak patut dilakukan di bawah naungan kalimah suci.

Tapi dari berbagai komentar pada 2 posting saya kemarin, orang hanya sibuk berfokus pada gambar tengkorak yang dijajar. Kalau tengkorak dihilangkan, maka tak ada lagi masalah. Tak ada penghinaan.

Karikatur adalah pesan grafis. Makna pesan disampaikan berbasis pada presepsi. Presepsi dibangun berdasarkan atas informasi yang tersedia terlebih dahulu di benak penerima pesan. Ketika kartikatur Jakarta Post itu dipubikasikan, benak sebagian pembacanya, dalam hal ini umat Islam Indonesia, hanya terisi oleh satu fakta, yaitu kalimat yang tertulis di bendera adalah kalimat suci. Maka bila ia dijejerkan dengan gambar tengkorak, maka ia sebuah penghinaan.

Ada sebuah fakta lain yang tak tersedia di situ. Gambar grafis bendera itu memuat dua jenis pesan. Satu, ia adalah teks suci kalimat syahadat. Kedua, ia adalah gambar grafis bendera ISIS, sebuah organisasi teroris yang bengis. Ya, ISIS menggunakan kalimat suci tadi sebagai lambang mereka. Tulisan laa ilaha illallah dalam sembarang jenis huruf (font) adalah tulisan suci, kalimah syahadat belaka. Tapi tulisan itu dalam font tertentu, dalam hal ini font yang tertulis pada bendera, bermakna dua: kalimat suci, dan/atau lambang ISIS.

Pembuat kartun hendak menyampaikan pesan bahwa ada organisasi bengis bernama ISIS yang sedang menebar teror pembunuhan. Untuk menguatkan kesan bengis ia menambahkan gambar tengkorak pada bendera ISIS. Tapi karena pembacanya, dalam hal ini sebagian umat Islam Indonesia, tidak familiar dengan lambang ISIS. Akibatnya yang terbaca oleh mereka bukan “bendera ISIS dengan pesan bengis yang dikuatkan dengan tekorak” melainkan sekedar “kalimah syahadat yang dijajar tengkorak”. Maka pesan yang tersampaikan adalah penghinaan kepada Islam.

Kesalahan redaksi Jakarta Post adalah mereka gagal memahami pembacanya, yang tidak familiar dengan bendera ISIS. Tapi sebenarnya mungkin mereka tidak gagal. Yang protes sebenarnya dalam kesehariannya bukan pembaca Jakarta Post. Pembaca Jakarta Post dalam benak redaksi adalah para ekspatriat dan orang lokal yang terbiasa membaca media berbahasa Inggris. Asumsinya, mereka mengenal lambang ISIS. Kelalaian mereka adalah bahwa mereka lupa bahwa media ini juga dapat terbaca oleh orang lain yang tidak paham lambah ISIS.

Jadi, saya melihat kasus ini sebagai sebuah kasus pesan yang tidak sampai. Pesan yang dipahami secara keliru. Apakah ada niat menghina oleh Jakarta Post? Kalau ada niat menghina, niatnya terletak bukan di Jakarta Post, tapi penerbit pertama karikatur ini, yaitu Koran Al-Quds al-Arabi. Siapa mereka? Menurut Wikipedia, pengelola koran ini adalah orang-orang Palestina yang bermukim di Inggris. Kalau mau dituntut, mereka juga harus dituntut. Tapi saya tidak percaya mereka berniat seperti itu. Saya percaya mereka sekedar mengirimkan pesan tentang kekejaman ISIS.  (Baca: Ternyata Karikatur The Jakarta Post Diambil Dari Situs Ini)

Masalah lain yang menggelitik batin saya adalah kenyataan bahwa orang lebih sensitif terhadap pesan “tengkorak dijajar dengan kalimat suci” ketimbang “sejumlah orang dibunuh di bawah naungan kalimah suci”. Catatan lain, kalimat suci itu dipakai di berbagai tempat, di antaranya pada bendera Saudi Arabia. Ketika kita melihat tulisan “laa ilaha illallah” dalam hal itu, apa yang kita lihat? Kalimah suci atau sekedar bendera Saudi Arabia? Kalau kebetulan ada yang marah dengan negara itu, lalu membakar bendera, maka apa yang kita lihat? Orang marah kepada Saudi, atau orang sedang menghina Islam?

Redaksi menerima sumbangan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL