karbala-movieLiputanIslam.com–Karbala adalah sebuah film perang produksi Polandia (2015), disutradarai oleh Krzysztof Łukasiewicz 2015. Tokoh-tokoh utama dalam film ini diperankan oleh Bartłomiej Topa, Antoni Królikowski, Leszek Lichota, dan Atheer Adel.

Pertempuran Karbala berlangsung selama empat hari, ketika pasukan koalisi yang dipimpin AS berupaya membersihkan kota dari pasukan Irak. Hal ini dipicu oleh aksi pemboman bunuh diri (dilakukan oleh Ali Jaafar al-Noamani, seorang bintara Irak), menewaskan 4 prajurit AS (Sersan Eugene Williams, Kopral Michael Curtin dan Swasta 1st Class Michael Weldon dan Diego Rincon), di Highway 9 di pinggiran Karbala.

Tentara Polandia yang bergabung dalam koalisi ditugasi untuk merebut kantor Dewan Kota di Karbala. Di film ini berusaha diperlihatkan tentara Polandia adalah pasukan yang tangguh dan mati-matian berjuang melawan “teroris”. Sejumlah pasukan yang terpisah dari  pasukan utama dengan pantang menyerah berperang meski kekurangan makanan dan sumber daya. Namun secara umum film ini terasa ‘kuno’, ala film perang tahun 1980-an. Terlihat upaya untuk mencitrakan tentara Polandia sebagai hero, di saat sebenarnya mereka hanya ‘sekrup’ dalam mesin perang besar yang dijalankan oleh AS.

Tentu saja, film ini juga tidak membongkar pertanyaan besar yang semestinya muncul dalam pembahasan perang Irak: mengapa AS dan sekutunya harus menggempur Irak?

Perang Irak adalah salah satu dari sekian banyak perang yang dimulai dengan kebohongan untuk menipu opini publik. Diawali dengan propaganda media mengenai keberadaan senjata pembunuh massal di Irak, Presiden George Bush Jr ‘membujuk’ Kongres AS agar menyetujui serbuan ke Irak dengan alasan Saddam memiliki senjata biologis.

“Menghadapi bukti yang jelas dan resiko bahaya ini, kita tidak bisa menunggu untuk sampai datangnya bukti final, yaitu asap senapan yang bisa datang dalam bentuk awan jamur [=ledakan senjata biologis]. Dalam memahami ancaman ini, dengan melihat bentuk dan penipuan rezim Irak, kita memiliki alasan untuk mengasumsikan yang terburuk, dan kita memiliki tugas yang mendesak untuk mencegah kemungkinan terburuk itu terjadi,“ kata Bush pada 6 Oktober 2002.

karbala-movie2Pada Maret 2003, tanpa izin dari PBB, serangan ke Iran pun dilakukan. Saddam terguling pun dan sampai hari ini tentara AS masih bercokol di Irak. Kontrak migas dan proyek-proyek rekonstruksi, tentu saja jatuh ke tangan para pemegang saham perang ini (perusahaan-perusahaan milik Zionis). Dan kemudian terbukti, Saddam sama sekali tidak menyimpan senjata biologis itu. Para promotor perang, termasuk Bush, menolak mengaku bahwa dulu mereka telah berbohong, padahal semua perkataan mereka di masa lalu (menyebut ada senjata pembunuh massal di Irak) masih ada rekamannya.

Perang yang diiringi dengan propaganda kebohongan, bukanlah hal baru. Karbala pada tahun 61 H menjadi saksi bahwa puluhan ribu pasukan Yazid bin Muawiyah (khalifah pada masa itu) membantai cucu Rasulullah, Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Saat itu disebarkan propaganda bahwa Imam Husain adalah pengkhianat (menolak bai’at pada khalifah Yazid) sehingga pantas diperangi. Apa penyebab Imam Husain menolak baiat, sama sekali tidak dibahas. Bagaimana karakteristik pemerintahan Yazid, seolah dilupakan.

Tercatat dalam sejarah, sebelum berangkat ke Karbala, Imam Husain berkata,  “Sesungguhnya aku bangkit bukan karena kesombongan atau melakukan kerusakan, tetapi dalam rangka perbaikan umat kakekku, Rasulullah.” Sebagaimana telah disebutkan oleh sejarawan di semua mazhab, masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah sangatlah buruk. Ia membuat Islam nyaris tinggal namanya saja, sementara praktik atau amalannya jauh dari nilai-nilai Islam. Kezaliman dan kemungkaran merajalela, tanpa ada yang berani melawan. Imam Husain bangkit melawan untuk menunjukkan bahwa Islam sejati tidak akan tinggal diam di hadapan kemungkaran.

Kebohongan lainnya adalah mengenai siapa yang memerintahkan pembunuhan terhadap Imam Husain. Di saat sangat banyak riwayat/ buku sejarah ditulis mengenai proses terjadinya peristiwa Karbala yang menyebutkan peran Yazid, ulama Wahabi bernama Ibnu Taimiyah malah menulis, “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut, Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyad-lah yang melakukan itu semua.” Di halaman lain Ibnu Taimiyah mengatakan pula “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan menjadi penguasa negeri Irak.” (sumber)

Kebohongan akan terus diproduksi sepanjang masa, namun waktu pasti akan membuka kebenaran, karena kebenaran itu abadi. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL