Eksotika Guelta d’Archei,

Eksotika Guelta d’Archei,

Oleh: Putu Heri

Menyaksikan timeline Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah sebuah keasyikan tersendiri. Komunikasi yang terjalin antara ia dan warga Bandung, menegaskan banyak hal, salah satunya: tidak ada jarak antara rakyat dan pejabat. Sepanjang hari, timelinenya penuh dengan cuitan dari masyarakat yang mengadu.

Seperti yang diadukan oleh @sirwijayaisme, yang menuntut agar coretan-coreatan di kompleks gedung segera dibersihkan.

“Pak Ridwan Kamil alangkah indahnya jika janji Bapak tadi untuk hapus coretan-coretan di GSJ cepat direalisasi.”

“Ya besok pagi, janji,” jawab Ridwan Kamil, yang biasa dipanggil Kang Emil. Dan siang ini, saya mendapati foto para pekerja yang tengah membersihkan gedung yang dimaksud.

Ada lagi warga yang mengeluhkan pelayanan administrasi. Ia mengadu, lantaran dikenakan biaya yang sangat untuk membuat KTP dan KK.

“Saya bikin KTP & KK ya ampun bayar mahal banget sampai 400rb padahal kan mestinya ga bayar Pak?”

“Gratis, itu di kelurahan atau di kecamatan mana?” respon Kang Emil.

Lain lagi dengan @rescuedamkar, ia melaporkan kondisi seorang nenek tua yang tengah sakit dan tidak ada yang menolong.

“Pak, nenek sekarat TKP samping LP Sukamiskin kedah lapor/nyuhunkeun bantosan kasaha nya?”

“Ke Dinas Sosial Bandung, biar saya kontak juga,” jawab Kang Emil. Beberapa jam kemudian, si Nenek telah ditangani oleh Dinkes dan dibawa ke RS Ujung Berung.

Kang Emil, Cermin ‘Negara Hadir’

Sekian lamanya Indonesia merdeka, apakah kita benar-benar menikmati peran Negara? Di pelosok desa, masih kita temukan anak-anak yang kesulitan menuju sekolah lantaran kondisi lapangan yang memprihatinkan. Di Sumatera, warga harus menikmati lautan asap yang setiap hari mereka hirup kendati berbahaya bagi kesehatan. Mau bagaimana lagi? Kebakaran hutan nyaris tak ada ujungnya. Di Sinabung, setahun lamanya rakyat hidup prihatin di pengungsian, tanpa ada kejelasan nasib sebelum akhirnya Presiden Joko Widodo datang dan siap merelokasi. Begitu pula halnya dengan yang terjadi pada pengungsi Sampang, yang hingga hari ini juga belum dikembalikan ke kampung halamannya akibat konflik yang terjadi sejak tahun 2012 silam.

Negara sebagai alat (agency) atau kewenangan (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat, memang seharusnya hadir untuk mengatasi permasalahan di masyarakat. (Roger H. Soltau: 1961) Namun yang acapkali terjadi adalah, kita selalu dihadapkan pada tontonan memuakkan para aparatur negara yang dengan kewenangan yang mereka miliki, malah berlaku semena-mena. Lihatlah para anggota dewan di parlemen yang saling cakar memperebutkan kursi. Lihatlah para menteri, gubernur hingga bupati, yang terjerat kasus korupsi. Masyarakat pun terabaikan.

Tentu saja, di tengah kepercayaan publik yang semakin menurun terhadap Negara, tidak berlebihan rasanya jika kehadiran Kang Emil saya ibaratkan bak Guelta d’ Archei, sebuah oase yang tersembunyi di balik jurang di padang pasir Sahara nan luas. Setiap hari, ratusan unta digiring menuju oase yang dilewati oleh kafilah-kafilah untuk melepas dahaga dan beristirahat.

Begitu pula Kang Emil, setiap hari ia ‘disambangi’ oleh rakyatnya melalui media sosial, untuk berkeluh kesah, tentang pendidikan, kesehatan, pekerjaan hingga tentang sampah yang berserakan.

Dan kemarin, Kang Emil berhasil ‘mendinginkan’ para bobotoh (sebutan untuk supporter Persib) di Palembang, yang merasa kecewa lantaran penggunaan atribut Persib tidak diperbolehkan dalam pertarungan semifinal Persib vs Arema. Demi menciptakan situasi kondusif, ia membuka bajunya, dan mengajak semua bobotoh untuk turut membuka baju sebagai bentuk dukungan. Ia menghimbau agar bobotoh tetap tertib, tidak anarkis, apalagi mereka sedang ‘bertamu’. Bobotoh pun taat.

Dan di Bandung, saya pun turut merasakan ‘Negara hadir’. Setidaknya, saya bisa naik angkot ataupun berjalan kaki dengan aman di malam hari tanpa khawatir akan diganggu. Atau seorang ibu yang berusaha keras untuk tidak menggunakan banyak plastik dalam kesehariannya. Saya bertanya pada si ibu apa sebabnya, dan ia menjawab;

“Kang Emil menghimbau agar kita mengurangi penggunaan plastik. Kalau belanja ke pasar, mending bawa tas sendiri. Jangan minum dari air minum kemasan, mending beli air galon, dan jika bepergian, bawa air minum dari rumah,” jawabnya.

Tentunya, tidak akan mudah untuk menggerakkan masyarakat untuk mematuhi himbauan Negara. Namun sebuah keteladanan, kepedulian, dan aksi-aksi nyata dari Kang Emil, membuat sebagian masyarakat tergerak hatinya dan lebih peduli.

———

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL