Syeikh Nimr
Oleh: Cahaya Gusti

Ada yang menarik ketika Arab Saudi menghukum mati Syaikh Nimr Baqir al-Nimr. Dr Jeff Hood, seorang pastor teologian dan aktivis dari Texas, Amerika Serikat (AS), juga menunjukkan kesedihan yang mendalam melalui akun Facebook-nya.[1]
“Jika Anda ingin tahu seperti apakah sosok Gandhi atau Dr. King hari ini, maka lihatlah Syaikh Nimr. Seluruh gereja di dunia harus berkabung karena telah kehilangan sosok yang agung ini.”

Dalam website pribadinya [2] Dr. Jeff Hood juga berkomentar:
“Selama lima tahun terakhir, saya mengikuti kasus hak asasi manusia di Arab Saudi, terutama yang berkaitan dengan Syaikh Nimr. Dengan adanya persetujuan dari AS, rezim Arab Saudi dengan sewenang-wenang telah menekan setiap perbedaan pendapat,”kecamnya.
“Syaikh Nimr, adalah sosok religius yang tertindas dari kaum minoritas. Ia berusaha memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, terutama bagi penganut mazhab Syiah di Arab Saudi. Ia melakukan perlawanan tanpa kekerasan….”
“Alih-alih mendengarkan hal-hal yang diperjuangkan Syaikh Nimr, rezim Saudi malah mengeksekusinya. “
“Kita telah kehilangan sosok yang agung. Sayang sekali, mungkin sebagian umat Kristiani tidak bisa membayangkan Yesus Kristus dengan mengenakan sorban. Tetapi saya bisa membayangkannya. Saya ingin menjadi sepertinya. Meskipun Syaikh Nimr gugur, tetapi saya tetap memuji Allah, karena ia (semangatnya-red) masih hidup.”

Sungguh menarik bahwa tokoh non-Muslim pun mampu menangkap hakikat sejati Sheikh Nimr yang banyak difitnah oleh para pendukung Arab Saudi. Sheikh Nimr adalah ulama terkemuka dan tokoh politik yang dikenal aktif memperjuangkan hak warga negara ini secara damai. Beliau tidak pernah melakukan teroris atau pemberontakan kepada pemrintahan Saudi. Yang diperjuangkan adalah persamaan hak sebagai warga negara Arab Saudi. Saudi khawatir Sheikh Nimr bisa membuat rakyat tersadarkan dan bangkit melawan rezim despotik itu. Sheikh Nimr pun dianggap sebagai duri dalam negaranya. Kharisma dan keulamaannya dianggap sebagai “Khomeini” di Saudi. Maka satu-satunya cara untuk membungkam harus duhukum mati. Aparat keamanan Arab Saudi pada 8 Juli 2012 menguntit mobil Sheikh Nimr dan menembakinya hingga cidera, kemudian menangkapnya. Setelah dipenjara selama tiga tahun akhirnya tanggal 2 Januari 2016, beliau syahid dihukum mati.

Saudi Kalap
Pemenggapan terhadap Sheikh Nimr bisa dipandang sebagai bentuk kekalapan Rezim Saudi. Bagaimana tidak, jutaan dolar digelontorkan ke pemberontak Suriah untuk menggulingkan pemerintahan yang Bashar Assad, ternyata gagal berantakan. Jutaan dolar dihamburkan dengan cara menggempur kelompok Syiah Houthi di Yaman, ternyata gagal juga. Kebencian Bani Saud terhadap kelompok Syiah semakin memuncak, dan pelampiasannya adalah menghukum mati Sheikh Nimr, seorang ulama besar bermadzhab Syi’ah.

Baik rezim Saudi maupun para pendukungnya menyebar propaganda bahwa Sheikh Nimr adalah seorang pemberontak yang merencanakan makar pada pemerintahan, sehingga hukuman mati baginya itu wajar dan lumrah. Namun, hanya dengan melihat rekam jejaknya, yang bisa kita akses melalui Google dan Youtube, kita bisa melihat bahwa Sheikh Nimr bagaikan Mahatma Gandi memperjuangkan keadilan dengan damai. Sebagaimana Mahatma Gandhi dibunuh oleh ekstrimis, Sheikh Nimr pun menjadi korban kebencian ekstrimis oleh rezim kalap yang sudah menyebarkan kebencian dan mengadu domba kaum Muslimin sedunia. (LiputanIslam.com)

[1]https://www.facebook.com/revjeffhoo…
[2]http://revjeffhood.com/sheikh-nimr-…

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL