Oleh: Dina Y. Sulaeman, Kandidat Doktor HI Universitas Padjajaran

zakzakyDi bandara internasional Hammad, Doha, saya melihat pria yang mengenakan jubah coklat dan serban putih itu. Ekspresi wajahnya tenang, seolah tak terusik oleh lalu-lalang orang dari berbagai penjuru dunia yang transit di bandara ini untuk melanjutkan perjalanan entah kemana. Namanya Syekh Ibrahim Zakzaky. Saya mengenali wajahnya, karena dia ‘terkenal’ sebagai ulama yang setiap tahun menggalang demo anti-Israel (Al Quds Day, hari Jumat terakhir setiap Ramadhan) di Nigeria yang dihadiri ratusan ribu orang. Tiba-tiba saja, dua hari ini saya kembali membaca namanya di berbagai media: tentara Nigeria mengepung rumahnya, menembaki puluhan-ratusan jamaahnya, dan menahannya.

Ibrahim Zakzaky sudah beraktivitas social-politik berhaluan Islam sejak mahasiswa tahun 1970-an (antara lain menjadi Sekjen Muslim Student Society Nigeria) dan beberapa kali dipenjara dalam kurun 1980-1990. Namun baru dalam kurun 1 tahun terakhir ia dan pengikutnya mengalami intimidasi bersenjata, yaitu sbb:

  1. Dalam demonstrasi pro-Palestina (=anti-Israel) Al Quds Day Juli 2014 (Ramadhan 1435 H), tentara Nigeria menembaki warga. Demo digelar di 24 kota besar di Nigeria, terutama di kawasan utara, oleh Nigerian Islamic Movement, yang dipimpin oleh Ibrahim Zakzaky. Aksi damai itu berlangsung lancar, kecuali di kota Zaria, tempat tinggal Ibrahim Zakzaky. Di Zaria, tentara Nigeria menembaki massa secara brutal, 35 orang tewas, 108 terluka. Tiga putra Zakzaky tewas, yaitu Hameed (22) mahasiswa Aeronautical Engineering, Ahmad (21), mahasiswa Chemical Engineering (keduanya kuliah di China, dan Mahmoud (19), mahasiswa Islamic Studies di Lebanon. Anaknya yang lain, Ali, terluka di bagian kaki. [1]
    Saat kejadian ini, Presiden Nigeria adalah Goodluck Jonathan, beragama Kristen. Tentara Nigeria mengklaim, serangan itu terjadi sebagai reaksi aksi diri karena para demonstran terlebih dulu menembak tentara. Ibrahim Zakzaky dalam wawancaranya dengan Sahara, mengatakan, “Kami tidak bersenjata dalam acara demonstrasi tersebut, dan mereka menembak kami setelah demonstrasi usai. Dunia tahu sejarah kami, kami tidak pernah mempersenjatai diri. …. Jika Anda menuduh seseorang melakukan gangguan, Anda harus mengadilinya dulu, mengapa membunuh warga tanpa hukum? Bahkan bila Anda katakan kami telah meNigeria2lawan hukum, harusnya Anda menangkap pemimpin [gerakan] dan mengadilinya dalam pengadilan terbuka.” [2]
  1. Pada peringatan Arbain (40 hari wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib), 27 November 2015, jamaah Zakzaky kembali diserang. Kali ini dengan bom bunuh diri, menewaskan 21 orang. Kelompok terror Boko Haram (yang sudah menyatakan sumpah setia dengan ISIS) mengaku sebagai pelaku. Namun Zakzaky menolak klaim itu dan menyebut ada ‘pihak lain’ yang melakukan pengeboman dan menyebut Boko Haram sebagai kelompok “imajinatif” [mungkin bisa dimaknai: kelompok boneka, dibentuk dan disetir oleh ‘pihak lain’]. [3]
  1. Yang terbaru, 12 Desember 2015, tentara Nigeria mengepung rumah Zakzaky di Zaria, menembaki warga sipil yang tak bersenjata (jumlah masih simpang siur, versi pemerintah 20-an, versi jamaah Zakzaky 100-an). Ibrahim Zakzaky pun ditahan militer. Kejadian tragis ini berlangsung ketika Presiden Nigeria dijabat oleh Muslim bernama Muhammadu Buhari (terpilih Maret 2015).  Pemerintah mengatakan, pengepungan dan penembakan terhadap para pengikut Ibrahim Zakzaky disebabkan karena mereka sebelumnya telah menghalangi konvoi tentara Nigeria yang melewati kawasan tersebut. PressTV mewawancarai pengikut Zakzaky yang menolak tuduhan itu. PressTV juga mewawancarai Mahmoud Sadjareh, ketua Islamic Human Rights (London). Sadjareh mengaku telah mendapatkan video kejadian tersebut, di antara tanggapannya: Sekitar jam 10 pagi, tentara mengepung kediaman Zakzaky dan terlihat jelas, mereka mengambil posisi siap menyerang; tanpa perlindungan (tameng), atau tanpa bersembunyi di balik apapun. Mereka tahu, tidak akan ada warga sipil yang berkumpul di kediaman Zakzaky yang bersenjata dan akan menembak balik. [4]. Simak juga wawancara PressTV dengan Zakzaky saat rumahnya dikepung. [5]

Untuk lebih jelas: Ibrahim Zakzaky adalah pemimpin kaum Syiah Nigeria; jumlah pengikutnya disebut-sebut mencapai 15 juta orang. Tapi, Zakzaky mendedikasikan Islamic Movement sebagai gerakan Islam secara keseluruhan, bukan khusus mazhab tertentu. Demonstrasi pro-Palestina/anti-Israel yang dipimpin Zakzaky juga diikuti warga Sunni dan Kristiani. Bila melihat kronologi serangan kepada Zakzaky sejak 2014, terlihat ini bukan masalah Sunni-Syiah. Serangan 2014 dilakukan di masa pemerintahan Presiden Kristen, Goodluck Jonathan yang melalui telepon telah meminta maaf kepada Zakzaky, namun tidak melakukan tindakan hukum pada militer. Dua serangan tahun 2015, dilakukan di masa pemerintahan Presiden Muslim, Muhammadu Buhari. Alasan-alasan keagamaan, baik Sunni vs Syiah atau Muslim vs Kristen, terlalu dipaksakan dalam kasus ini.

Zakzaky telah memberi pernyataan soal ‘pihak lain’ dalam serangan Arbain. Dari track record aktivitas Zakzaky (Islamic Movement – demo Al Quds), sangat mudah disimpulkan bahwa yang dimaksudnya adalah Israel.

Petunjuk Awal

Berikut ini beberapa data terkait hubungan Nigeria-Israel, yang bisa dijadikan petunjuk awal keterlibatan Israel dalam kasus Ibrahim Zakzaky (namun belum bisa diambil kesimpulan valid):

1. Satu-satunya pihak yang paling terganggu dengan demo (dan berbagai pidato) anti-Israel, tentu saja Israel sendiri. Jejak Israel konflik Nigeria sudah ada sejak tahun 1960-an, yaitu dalam Perang Biafra (Biafra adalah kawasan kaya minyak di selatan Nigeria; warganya antara lain etnis Ibo yang mempraktikkan ajaran Yahudi). Pada Juli 2015, muncul kembali suara dari warga Biafra yang ingin memisahkan diri dari Nigeria. [6] Selain itu, keberadaan Boko Haram yang memulai aksi-aksi kekerasan tahun 2009, juga memiliki kaitan dengan Israel, antara lain: Nigeria mengimpor senjata dari Israel untuk melawan Boko Haram; koalisi negara-negara Afrika melawan Boko Haram juga memberi keuntungan pada Israel, antara lain, Kamerun (salah satu anggota koalisi) mendapatkan training militer dari Israel. [7] Israel tercatat sebagai pihak yang banyak mendapatkan keuntungan material dari perang di Afrika (detilnya baca tulisan Terry Crawford-Browne [8]).

2. Sejak tahun 2009 pula Nigeria dan Israel menandatangani perjanjian peningkatan perdagangan kedua negara, dengan fokus pada pertanian, turisme, IT dan investasi. Bagi Israel, Nigeria adalah tujuan ekspor terbesar kedua di Afrika. [9]. Pada tahun 2014, Nigeria dinobatkan sebagai negara dengan GDP tertinggi di Afrika (lebih dari 500M USD). Dari 9 orang terkaya di dunia yang berkulit hitam, 4 diantaranya orang Nigeria. Sebaliknya, 1 dari 4 warga Nigeria tidak punya pekerjaan dan 60% warga (total populasi: 140 juta, terbanyak di Afrika) harus hidup dengan kurang dari 1 USD perhari. Karena itulah, meski jadi ekonomi nomer satu di Afrika, ranking HDI Nigeria adalah 160 dari 177 negara. [10]

3. Segera setelah Israel didirikan, hubungan diplomatik Israel-Nigeria terjalin. Ahli-ahli dari Israel memberikan pelatihan/pendidikan bidang pertanian, kesehatan, teknologi, dan pengairan di Nigeria, dan banyak orang Nigeria yang dikirim belajar ke Israel. Pada tahun 1973-1992, Nigeria sempat memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk solidaritas Afrika karena Israel menduduki Sinai (wilayah Mesir). Namun sejak 1992 hingga kini, Israel kembali membuka kedutaan besar di Abuja, dan Nigeria memiliki kedutaan besar di Tel Aviv. Dalam Sidang PBB Desember 2014 untuk mendukung kemerdekaan Palestina, ada 4 negara yang memilih abstain, di antaranya Nigeria dan Rwanda.[11] Pemerintah Nigeria bahkan memfasilitasi dan memberi subsidi pada program ziarah kaum Kristiani ke Israel. [12]

4. Tahun 2002, Boko Haram berdiri, lalu sejak 2009 mereka melakukan berbagai aksi kekerasan, antara lain menculik ratusan pelajar putri (Boko Haram = pendidikan ala Barat adalah haram). Dalam term ‘melawan terorisme’, Israel mengirim (=menjual) senjata canggihnya ke Nigeria, sementara AS memberikan pelatihan secara ekstensif kepada tentara Nigeria. Pada Januari 2015, tiba-tiba AS melarang penjualan heli tempur dari Israel ke Nigeria.[13] Menurut situs wnd, aksi ini terjadi karena Muhammadu Buhari (capres Nigeria saat itu) menjadi klien dari perusahaan konsultan pemilu milik David Axelrod (seorang Yahudi pro-Israel yang juga menjadi konsultan politik Obama). Awalnya, Buhari berjanji akan memberlakukan hukum syariah di kawasan yang didominasi Muslim, bila terpilih. Namun atas saran konsultan politiknya (perusahaan milik Axelrod), ia menghentikan narasi soal syariah menjelang hari pemilu, dan bahkan mengangkat seorang Kristen Pantekosta sebagai cawapres. Pada pilpres 28 Maret 2015, Buhari pun terpilih menjadi Presiden. [14] Segera setelah Buhari terpilih sebagai presiden, Israel menyatakan dukungannya dan kesiapan membantu Buhari dalam melawan Boko Haram.[15]  Rekam jejak hubungan Israel dan Buhari sudah terjadi sejak tahun 1984-1985, ketika itu Buhari menjadi presiden (melalui kudeta, dan kemudian ia dijatuhkan melalui kudeta pula). Ia memerintah secara diktator, antara lain memenjarakan para mantan menteri rezim sebelumnya. Salah satu mantan menteri, Umar Dikko, sempat kabur ke Inggris, namun atas bantuan Mossad, Buhari berhasil menangkapnya (baca: skandal Umar Dikko [16]).

Catatan tambahan: Framing Media

Perhatikan model pemberitaan (dan judul yang dipilih) okezone.com:

(1) Syiah Serang Rombongan Presiden Nigeria, 10 Orang Tewas
(2) Dicegat Syiah, Tentara Nigeria Balas Bunuh 12 Penyerang

Kedua berita mengaku mengutip Washington Post & Sunnews. Pada berita (1) di paragraf pertama disebut ada 10 yang tewas tanpa penjelasan, siapa yang tewas dan siapa yang menewaskan. Pada berita (2) dikutip pernyataan istri Zakzaky bahwa ada 12 tewas dibunuh tentara, namun di-framing oleh paragraph selanjutnya “Ini adalah balasan dari militer karena sebelumnya kaum Syiah menyerang militer”. Di kedua berita, versi kejadian yang diceritakan adalah versi militer Nigeria.

Bandingkan dengan model pemberitaan Premium Times Nigeria yang cukup berimbang, yaitu memberitakan dua versi kejadian (versi militer, dan versi Zakzaky).

____

Tulisan ini disalin dari Indonesia Center for Middle East Studies

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL