Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei - ipabionlineLiputanIslam.com–Phobia, atau fobia, menurut kamus Merriam-Webster, bermakna ketakutan berlebihan yang biasanya tidak logis, terhadap objek atau situasi tertentu. Terkadang, sulit para penderita phobia untuk menentukan atau mengungkapkan sumber ketakutannya. Dalam beberapa tahun terakhir, ada fobia spesifik yang melanda masyarakat Barat, yaitu Islamophobia.

Para peneliti mendefinisikan Islamofobia secara beragam. Namun intinya, Islamophobia adalah sebuah ketakutan berlebihan, kebencian, dan permusuhan terhadap Islam dan Muslim yang diabadikan oleh stereotip negatif, yang mengakibatkan bias, diskriminasi, dan marginalisasi dan pengucilan Muslim dari kehidupan sosial, politik, dan kemasyarakatan. Dalam laporan berjudul “Islamofobia: Sebuah Tantangan untuk Kita Semua”, diterbitkan pada November 1997 oleh Menteri Dalam Negeri Inggris, Jack Straw, Islamofobia didefinisikan sebagai pandangan atau pandangan dunia yang melibatkan ketakutan tidak berdasar dan tidak suka terhadap Muslim, yang menghasilkan praktek pengucilan dan diskriminasi.”  Konsep Islamofobia juga berpendapat bahwa Islam tidak memiliki nilai-nilai yang sama dengan budaya lain, bahwa Islam kalah dengan budaya Barat, dan bahwa Islam merupakan ideologi politik kekerasan agama.

Pandangan seperti ini jelas sesat dan menyesatkan. Peradaban Barat yang kini unggul di bidang ilmu dan teknologi justru berhutang banyak kepada para ilmuwan Muslim. Tak kurang dari Presiden Obama dalam pidatonya di Universitas Kairo, Mesir, 4 Juni 2009 mengatakan, dunia berhutang besar kepada Islam. Peradaban Islam telah mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa.

Salah satu contoh adalah teknologi kamera yang sangat berhutang pada penemuan Ibn al-Haitham. Al-Haitamlah yang membuat kamera pin-hole pertama setelah mengamati cara cahaya datang melalui lubang di jendela-jendela. Semakin kecil lubang, semakin jelas bentuknya. Ia lalu membuat Kamera Obscura pertama dan bahkan kata camera pun berasal dari bahasa Arab “qamara” yang bermakna ruangan gelap.

Karena itu, Islamofobia harus ditelaah dari perspektif post-colonialisme. Ini adalah fobia yang dimunculkan oleh kekuatan-kekuatan kapitalis dunia agar tetap superior di atas negara-negara Muslim yang memiliki kekayaan sumber daya alam. Setiap orang yang berakal perlu menelisik lebih jauh, ada apa di balik propaganda masif pemburukan citra Islam di dunia? Mengapa negara-negara Barat justru membiayai dan mendukung kelompok teroris Islam (Al Qaida dan ISIS) seharusnya menjadi pertanyaan besar. Ada apa di balik semua ini?

Hal ini pula yang diseru Ayatullah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, dalam surat terbukanya kepada para pemuda di Eropa. Berikut ini teks lengkap surat Ayatullah Khamenei, dikutip dari situs IRIB Indonesia:

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Untuk Pemuda di Eropa dan Amerika Utara

Peristiwa baru-baru ini di Perancis dan insiden yang serupa di beberapa negara Barat lainnya telah meyakinkan saya untuk langsung berbicara dengan kalian tentang hal tersebut. Saya berbicara kepada kalian (para pemuda), bukan berarti saya mengabaikan orang tua kalian, melainkan karena masa depan bangsa dan negara kalian berada di tangan kalian sendiri; dan juga saya menemukan bahwa rasa untuk mencari kebenaran di hati kalian lebih hidup, kuat dan waspada.

Saya tidak berbicara kepada politisi dan negarawan kalian dalam pesan ini, karena saya yakin bahwa mereka telah dengan sadar memisahkan jalur politik dari jalan kejujuran dan kebenaran.

Pembicaraan saya dengan kalian adalah tentang Islam, khususnya gambaran dan wajah yang ditampilkan kepada kalian tentang Islam. Sejak dua dekade lalu, kira-kira setelah kehancuran Uni Soviet, banyak upaya telah dilakukan untuk menempatkan agama besar ini di posisi sebagai musuh yang menyeramkan. Provokasi rasa takut, kebencian dan pemanfaatannya, sayangnya memiliki catatan panjang dalam sejarah politik Barat.

Di sini, saya tidak akan membahas mengenai berbagai phobia yang hingga kini diindoktrinasi kepada bangsa-bangsa Barat. Dengan tinjauan sepintas studi kritis terbaru tentang sejarah, kalian akan melihat fakta bahwa dalam penulisan sejarah baru, perilaku-perilaku tidak jujur dan munafik pemerintah-pemerintah Barat terhadap bangsa-bangsa dan budaya lain di dunia telah dikecam.

Sejarah Amerika Serikat dan Eropa malu dengan perbudakan, malu dengan masa penjajahan dan malu dengan penindasan orang-orang kulit berwarna dan non-Kristen. Peneliti dan sejarawan kalian sangat merasa malu atas pertumpahan darah atas nama agama antara Katolik dan Protestan, atau atas nama kebangsaan dan etnis selama Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.

Hal ini dengan sendirinya layak dipuji, dan tujuan saya untuk menyebutkan sebagian kecil dari daftar panjang ini, bukan untuk mencela sejarah, namun saya meminta kalian untuk bertanya kepada para intelektual kalian mengapa hati nurani publik di Barat harus selalu terlambat selama beberapa puluh tahun dan terkadang satu abad untuk bangun dan sadar? Mengapa revisi dalam kesadaran kolektif harus diarahkan ke masa lalu yang jauh dan tidak ke arah persoalan sekarang ini? Mengapa dalam isi-isu penting seperti cara perlakuan terhadap budaya dan pemikiran Islam untuk pembentukan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, dicegah?

Kalian mengetahui dengan baik bahwa penghinaan, dan penyebaran kebencian dan ketakutan ilusi dari “orang lain” telah menjadi dasar umum bagi semua pencari keuntungan dan penindas.

Sekarang, saya ingin kalian bertanya pada diri kalian sendiri, mengapa kebijakan lama dari penyebaran “phobia” dan kebencian menargetkan Islam dan Muslim dengan intensitas belum pernah terjadi sebelumnya? Mengapa struktur kekuasaan di dunia saat ini ingin pemikiran Islam terpinggirkan dan pasif? Apakah konsep dan nilai-nilai dalam Islam mengganggu berbagai agenda kekuatan-kekuatan besar dan apa kepentingan-kepentingannya dilindungi dalam bayangan mendistorsi citra Islam? Oleh karena itu, permintaan pertama saya adalah supaya kalian bertanya dan mengeksplorasi tentang motivasi penodaan luas terhadap Islam.

Permintaan kedua saya adalah sebagai reaksi terhadap banjir prasangka dan kampanye negatif, cobalah kalian untuk mendapatkan pengetahuan langsung dan tanpa perantara tentang agama ini. Logika yang tepat mensyaratkan bahwa setidaknya kalian memahami apa yang membuat kalian takut dan lari darinya.

Saya tidak memaksa bahwa kalian harus menerima penafsiran saya atau interpretasi lain tentang Islam. Namun yang ingin saya katakan adalah jangan biarkan realitas-realitas yang dinamis dan efektif di dunia saat ini diperkenalkan kepada kalian dengan kepentingan dan tujuan-tujuan yang telah terkontaminasi. Kalian jangan biarkan orang-orang munafik menggunakan para teroris yang mereka rekrut sebagai wakil Islam untuk memperkenalkan agama ini kepada kalian.

Kenalilah Islam dari sumber-sumber primer dan aslinya. Kenalilah Islam melalui al-Quran dan kehidupan Nabi Besar Muhammad Saw. Di sini, saya ingin menanyakan apakah kalian hingga sekarang telah langsung membaca al-Quran kaum Muslimin? Apakah kalian telah mempelajari ajaran Nabi Islam (Muhammad Saw) dan doktrin kemanusiaan dan akhlaknya? Selain media, apakah hingga sekarang kalian pernah menerima pesan Islam dari sumber lain?

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bagaimana dan atas dasar nilai-nilai apa selama berabad-abad Islam telah mengembangkan peradaban ilmiah dan intelektual terbesar dunia dan membimbing para ilmuwan dan pemikir paling terkemuka?

Saya ingin kalian untuk tidak membiarkan mereka menciptakan jurang emosional antara kalian dan realitas dengan gambaran penghinaan dan ofensif, dan menghilangkan kemungkinan penilaian yang tidak memihak dari kalian. Hari ini, media komunikasi telah menghapus batas geografis. Oleh karena itu, jangan kalian biarkan mereka mengepung kalian dalam batas-batas palsu (buatan) dan mental.

Meskipun tak seorangpun yang secara individual mampu memenuhi kesenjangan yang diciptakan, namun masing-masing dari kalian dapat membangun jembatan pemikiran dan keadilan di atas kesenjangan itu untuk menerangi diri sendiri dan lingkungan di sekitar kalian.Tantangan yang telah direncanakan sebelumnya antara Islam dan kalian (para pemuda) ini, meski tidak diinginkan, namun hal ini dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru di benak kalian yang penasaran dan bertanya-tanya. Upaya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan memberi kalian peluang yang tepat untuk menemukan kebenaran baru.

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan pemahaman yang tepat, benar dan objektif tentang Islam, sehingga diharapkan, karena rasa tanggung jawab terhadap kebenaran, generasi mendatang akan menulis sejarah interaksi antara Islam dan Barat saat ini dengan hati nurani lebih jernih dan kebencian yang lebih rendah.

Sayid Ali Khamenei, 21 Januari 2015

Islamofobia, pada akhirnya, tidak hanya menyengsarakan kaum Muslimin, namun juga membahayakan peradaban umat manusia secara keseluruhan. Akibat agenda Islamofobia, konflik terus meletus di mana-mana, sementara para kapitalis terus mengeruk keuntungan finansial dari konflik itu. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*