Oleh: Kalis Mardiasih*

Ayat-ayat An-Naba’ terlantun di koridor-koridor Masjid Istiqlal ketika Prof. Yuki Megumi-San bertanya kepada saya sambil menunjuk potret di ponselnya, “Kalis, apakah mereka menganut Islam yang berbeda?”

Prof. Yuki baru saja meminta berfoto bersama dua perempuan remaja dengan gaya kerudung berbeda. Seorang bercadar, seorang dengan kain kerudung menutup dada.

“Islamnya sama. Tetapi pemahaman mereka tentang Islam yang berbeda. Dan yang paling penting, dua-duanya sama-sama sedang mendefinisikan diri dan kesopanan lewat pakaian. Seorang merasa telah cukup sopan dengan bentuk tertentu, tapi seorang lainnya merasa belum cukup sopan. Perbedaan yang wajar.”
“Apakah seorang yang bercadar kelak menikah lewat perjodohan?”

“Mungkin beberapa, tapi tidak semua. Tetapi sebagian besar mereka memang menikah setelah sekali atau dua kali saling mengadakan pertemuan dengan keluarga.”

Prof Yuki bertanya cukup banyak yang lalu memaksa saya menerangkan bahwa Islam punya perangkat fikih yang lengkap dalam mengatur tanggung jawab pernikahan bahkan perceraian.

Satu pekan ini, saya sedang menemani kawan-kawan dari Jepang, India, Filipina, Thailand, dan Peru dalam program EYES For Embracing Diversity yang diadakan oleh Japan Foundation. Mereka semua non-muslim, dan berkunjung ke Indonesia untuk berkenalan dengan Islam. Satu elemen yang memudahkan saya untuk menjadi semacam host dalam program ini adalah sosok Gus Dur. Ketika kami berdiskusi tentang sejarah Indonesia dan Islam yang khas, sosoknya sangat lengkap untuk merepresentasikan bagaimana konteks agama dengan nilai tradisional, kesalehan sosial, pergerakan politik, seni, negara, hingga dunia modern.

Tapi, pertanyaan di luar forum diskusi lebih menjebak, hingga memerlukan segenap kehati-hatian untuk menjawab. Seperti ketika Subhi Dupar, seorang kawan India bertanya tentang pajangan surat Al Fatihah di salah satu lorong masjid terbesar di Asia yang merupakan simbol kemerdekaan Indonesia itu. Ternyata, menjelaskan mengapa Al Fatihah ditempatkan sebagai surat pembuka kitab suci agama yang saya yakini tak cukup mudah.

Hari itu masjid ramai. Sebagian merupakan jamaah salawat Majelis Rasulullah pimpinan Habib Munzir al Musawa yang datang untuk perayaan Maulid. Sebagian lagi, saya dengar adalah peserta aksi 212 tahun lalu yang akan mengadakan reuni esok hari.

Subhi adalah periset yang cerdas. Dua malam sebelumnya, ketika kami menginap di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Gandaria, Jakarta Selatan ia bertanya, mengapa santri mengenakan warna peci berbeda. Sebagian hitam, sebagian putih, ada pula yang memiliki motif. Malam itu para santri sedang mengerjakan ujian shorof. Ini mirip dengan pertanyaan dari Au, kawan Thailand, mengapa ada jilbab bermotif bunga-bunga, sebab di Thailand ia hanya melihat teman muslim mengenakan jilbab berwarna putih.

Orang asing di luar Islam ternyata memahami Islam pertama kali dari simbol. Saya pikir hal yang sama terjadi kepada saya ketika mengamati berbagai patung dewa di Ubud. Beruntung, Kinky, seorang Hindu India baru saja menerangkan pada saya perbedaan antara Hindu dan Buddha.

Saya sekamar dengan Katia Jirata, seorang Katolik Jepang. Sebuah pagi ketika saya baru saja selesai Salat Subuh, ia bertanya cukup banyak soal ibadah wajib umat muslim. Saya terbata menjelaskan salat wajib lima waktu, salat sunah, wudu, juga keringanan untuk tak salat ketika seorang perempuan sedang haid.

“Kupikir kewajiban seorang muslim cukup berat, Kalis,” Katia menyimpulkan.

“Ya. Tapi tak semua muslim taat.”

Katia tertawa. Ia mengaku bahwa sudah bertahun-tahun ia jarang ke Gereja. Di Gunma, daerah tempatnya tinggal jarang terdapat gereja karena sebagian masyarakatnya adalah pemeluk Buddha dan beragam kepercayaan lainnya.

Ketika Nami-San, seorang Jepang lainnya bertanya sejak usia berapa tepatnya saya mulai salat, saya pun mengingat sebuah perjalanan beragama yang cukup panjang. Saya bilang pada Nami, sepertinya saya mulai salat sejak usia tiga tahun layaknya anak kecil yang menirukan gerakan salat orang-orang di sekitarnya. Anak kecil belum bisa mengingat bacaan salat. Lebih-lebih, anak kecil pasti tidak memahami makna gerakan salat atau bahkan hakikat mengapa kita harus beribadah, yang salah satunya berbentuk ritual salat.

Berbagai pertanyaan sederhana kawan-kawan baru saya itu mau tak mau menerbangkan kerinduan saya kepada Rasulullah SAW yang diperingati hari kelahirannya hari ini. Sejarah mencatatnya sebagai sosok yang mengubah masyarakat jahiliyah Arab kepada peradaban yang beradab. Menurut banyak tafsir cendekiawan muslim, jahiliyah itu bukanlah kondisi seorang yang buta huruf. Jahiliyah masa Rasul didefinisikan sebagai kondisi masyarakat yang tidak memiliki penghormatan terhadap hak orang lain, perempuan, dan anak-anak.

Tentu banyak sekali yang telah diubah oleh Muhammad. Jika Walisongo digambarkan sebagai pribadi yang cerdas dalam taktik dan mampu mengakulturasikan berbagai budaya hingga Islam hidup di bumi Nusantara dengan damai, tentu Muhammad berlipat kali lebih ahli taktik dan ahli akulturasi. Jika tidak, bagaimana mungkin Islam progresif dalam perjalanannya kini didefinisikan sebagai keadilan, kesetaraan, dan kemajuan berpikir –unsur-unsur penting yang dapat menjadi penopang masyarakat di belahan bumi mana pun hingga aktual untuk gelar rahmatan lil alamiin?

Jarak manusia hari ini dengan Rasul terlampau jauh, sekira 15 abad. Tetapi saya yakin dan selayaknya memang wajib meyakini bahwa ia adalah seorang utusan yang baik. Banyak riwayat menyebut bahwa ia adalah seorang penyampai kabar (risalah Islam) yang sangat cakap dalam mempergauli orang lain.

Muhammad adalah pribadi yang cerdas, pandai berkomunikasi, jago berdiplomasi, memiliki wajah yang selalu dihiasi senyum, menghormati orang yang lebih dewasa di sekitarnya, menyayangi anak-anak, dan menempatkan perempuan dalam posisi yang setara dengan laki-laki untuk mendapatkan haknya.

Kehidupan jahiliyah Arab ketika itu terdiri dari banyak kabilah yang masing-masing mengunggulkan identitasnya. Penguasa memperbudak banyak sahaya dan menjadikan perempuan layaknya barang pajangan. Tapi, Muhammad yang mulia mengenalkan sebuah tatanan egaliter.

Mencari wajah Islam, sayapikir sesederhana mencari penerus Muhammad. Terkadang saya membayangkan wajahnya lewat tradisi keturunan Muhammad yang di Indonesia hari ini dikenal sebagai sayyid. Ketika tak cukup, saya pun mencarinya pada sosok ulama yang teduh dan karena wibawanya membuat banyak orang menaruh hormat yang sangat.

Tetapi, satu pekan ini, selain pertanyaan yang cukup sederhana namun punya daya impresi tinggi buat orang asing itu, ada pula pertanyaan yang cukup memusingkan. Brian Tenorio, seorang gay dan pemeluk Katolik dari LGBT Chamber Filipina bertanya bagaimana pandangan Islam tentang hak LGBT. Atau, ketika Prof Yuki bertanya komprehensif mengenai kurikulum pendidikan agama di Indonesia. Atau, ketika Thatwachai bertanya mengapa kitab-kitab yang dipelajari di pondok pesantren harus kitab asli berbahasa Arab. Dan, ketika Au bertanya soal apakah fenomena buruh migran perempuan Indonesia yang terepresi oleh tradisi patriarki ada hubungannya dengan agama (Islam) yang mereka peluk.

Saya tak boleh berhenti belajar. Kehidupan antarmanusia sebagai warga dunia dipersatukan lewat ilmu pengetahuan. Perbedaan membutuhkan jembatan, dan jembatan itu sama sekali bukan dalam bentuk peperangan.

Ya Nabi Salam Alayka! Selamat merayakan kelahiran Nabi yang mulia! (LiputanIslam.com)

*menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih. Disalin dari Detik, 1 Desember 2017.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL