musa-kazimAbu Said Al-Khudri pernah mengabarkan, suatu kali Nabi mengumpulkan para sahabat untuk melakukan pembagian harta. Tiba-tiba Abdullah bin Dzil Khuwaysharah berteriak, “Berlakulah adil, wahai Muhammad!” Dengan nada protes Nabi memotong, “Celaka kau! Jika aku tidak berbuat adil, maka siapa yang —menurutmu— berbuat adil?!”

Setelah itu Nabi menjelaskan ciri-ciri kelompok ini dengan cukup terperinci dan kita dapat menemukan kecocokan dengan kelompok yang sekarang ini lazim disebut kaum Wahabi.

Sejumlah peneliti Islam menganggap peristiwa tersebut sebagai awal tumbuhnya Khawarij dalam Islam. Khawarij yang dimaksud di sini bukan hanya merujuk pada kelompok tertentu, tapi pada obsesi dari paham yang mengagungkan kepatuhan mutlak terhadap sisi luar dan formal syariat.

Ia muncul dari pandangan bahwa manusia sebagai hamba harus selalu tunduk pada aturan teks yang ketat. Inilah cara beragama yang menolak segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai kekurangpatuhan dan ketidakmurnian agama menurut tafsir mereka.

Cara beragama ini, sederhananya, menolak konteks dan akal budi yang sepatutnya dapat mendamaikan teks Ilahi dengan kepentingan-kepentingan manusia.

Mereka menolak itu semua, bahkan jika semua itu datang dari Nabi atau imam yang sesungguhnya menjadi sumber legalitas dan legitimasi dalam Islam.

Sekitar 30 tahun setelah peristiwa tersebut, Khawarij secara resmi lahir sebagai kelompok yang cukup berpengaruh dalam sejarah Islam. Peristiwa kelahirannya berlangsung di akhir Perang Shiffin yang bermula pada 36 Hijriah. Saat melihat Ali bin Abi Thalib menyuruh pasukannya berperang melawan pasukan Muawiyah yang mengangkat Al-Quran, kaum Khawarij keluar dari barisan. Dari peristiwa itulah istilah Khawarij yang secara harfiah berarti “mereka yang keluar dari barisan” muncul.

Argumen Ali bahwa pengangkatan Al-Quran oleh pasukan Muawiyah itu hanya tipuan berkedok agama, rupanya tak bisa mereka terima. Bagi Khawarij, Ali telah keluar dari Islam karena memerangi pasukan yang mengangkat (simbol) Al-Quran. Ali berdalil bahwa dirinya adalah Al-Quran yang hidup dan berbicara, sedangkan Al-Quran yang diusung pihak lawan adalah gulungan teks yang dipakai untuk mengelabui situasi.

Namun, argumen Ali justru mengeraskan militansi Khawarij. Ali, orang kedua yang memeluk Islam setelah Khadijah, pun puncaknya “dikafirkan dan dihalalkan” darahnya. Sejarah mencatat bahwa pembunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam, sesaat sebelum memenggal kepala Ali, berteriak keras: “Hukum hanya untuk Allah, hai Ali. Ia bukan milikmu dan sahabat-sahabatmu!”

Khawarij melakukan semuanya untuk menegakkan hukum Allah — setidaknya begitulah yang mereka percaya berdasarkan apa yang mereka ketahui dari teks Islam. Inilah paradoksnya: bagaimana mungkin kehendak melaksanakan teks itu berujung dengan membunuh pemimpin yang terpilih, disaat shalat, di dalam Masjid Kufah, di bulan Ramadan yang suci?

Keberagamaan kaum Khawarij yang ingin selalu tekstual dan harfiah tidak memberikan tempat bagi logika kehidupan sosial dan politik. Mereka terpaku pada huruf-huruf syariat sambil melupakan tinta dan kertas yang menampung huruf-huruf tersebut.

Akibatnya, kaum Khawarij senantiasa berada dalam ketegangan konstan di antara kewajiban melakukan suatu perintah dan larangan melanggar perintah yang lain. Ada anggapan dalam pemikiran Khawarij bahwa toleransi membersitkan keragu-raguan atau kelemahan dalam menjalankan perintah agama — sekalipun toleransi juga merupakan salah satu prinsip utama Islam.

Sejak 1.435 tahun silam, fenomena Khawarij selalu muncul dalam tapestri sejarah Islam melalui beragam motif dan bentuk. Tapi semangatnya tetap sama: kepatuhan mutlak pada yang tampak, spontanitas dalam menjalankan agama, keterikatan penuh pada teks secara hitam-putih yang keluar dari konteks sosial dan politik serta keengganan untuk melihat Islam sebagai keutuhan yang tak bisa dilepas jadi potongan-potongan demi spontanitas dan impulsi menjalankan perintah Tuhan.

Dalam pandangan Khawarij, apa yang tampak itulah kebenaran yang seutuhnya, dan teks yang dilihat dan diterima harus segera dilaksanakan. Agama bagi mereka adalah potongan-potongan perintah dan larangan yang begitu mereka terima harus langsung dilaksanakan, tanpa harus menunggu atau memahami konteks keseluruhan.

Begitulah cara masyarakat gurun pasir mengungkapkan ketaatan kepada Allah dan syariat-Nya, khususnya mereka yang lahir di wilayah Nejd seperti Abdullah bin Dzil Khuwaysharah.

Dengan menilik konteks di atas, Radwan Mortada, jurnalis yang membidangi gerakan-gerakan Islam ekstremis, meletakkkan Islamic State of Iraq and Sham/Levant (ISIS/L) — kini berganti nama menjadi Islamic State (IS) — sebagai metamorfosa Khawarij.

Hampir semua ciri gerakan Khawarij ada pada ISIS: mulai dari cara beragama hingga praktik kekerasannya. Watak beragama yang menolak konteks yang menjadi ciri khas Khawarij juga terlihat nyata dalam perilaku ISIS.

Barangkali bukan kebetulan jika kemudian ISIS memaksa untuk menguasai Kota Raqqa di Suriah yang pada 1.400 tahun silam menyaksikan kelahiran Khawarij setelah Perang Shiffin. Orang Arab menyebut situasi ini sebagai sukhriyyatul qadar (kelakar takdir).

Tapi yang lebih penting dan berbahaya dari semua itu ialah fakta ISIS sekarang menjadi salah satu senjata pemusnah massal yang efektif menghancurkan kelompok mana saja yang dianggap berbeda darinya di Irak dan Suriah — dan betapa banyak mereka yang berbeda itu.

ISIS bukan saja memusnahkan kelompok-kelompok yang berbeda dalam cara beragama dengannya, seperti Sunni dan Syiah, melainkan juga semua yang tidak mau berbaiat kepada Khalifah Abu Bakr Al-Baghdadi, termasuk anak kandung sendiri seperti kelompok Jabhat An-Nusra di bawah pimpinan Abu Muhammad Al-Julani. Hingga saat ini ISIS juga terus memorak-porandakan negara Irak.

Kehadiran ISIS — seperti juga asal-usulnya — tampak lebih banyak menghancurkan modal sosial politik bangsa Arab sendiri dalam perang dan kekerasan yang absurd. ISIS pula tampak semakin mengancam kelompok-kelompok rentan dan persatuan dalam masyarakat ketimbang benar-benar mampu melawan kepentingan Amerika Serikat dan Israel yang menjadi simbol penjajahan di Timur Tengah.

Dari situ kita dapat menarik kesimpulan gerakan keagamaan model ISIS ini takkan memiliki tujuan sosial politik yang dapat terus hidup. Seperti halnya Khawarij, ISIS hanya akan dengan mudah dimanfaatkan oleh kekuatan lain, terutama Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi di Timur Tengah, demi kepentingan mereka.

Puncaknya, ISIS hanya akan menjadi senjata untuk kekuatan lain menciptakan kekacauan yang terkendali. Dan yang sejauh ini terlihat memanfaatkan ISIS adalah kekuatan hegemonik Amerika Serikat, Israel, dan kapital.

Sialnya, para pendukung ISIS yang jatuh sebagai korban tak pernah menyadari eksploitasi ini, sehingga tak mau melakukan koreksi atas cara dan perilaku mereka. Ini untuk tidak mengatakan sesuatu yang lebih tragis: keyakinan ISIS bahwa semua kekalahan dan kegagalan ini tak lain merupakan ujian Allah bagi mereka yang berjihad di jalan-Nya.

 

Disalin dari tulisan Musa Kazhim di GeoTimes

_______________

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL