isis flagOleh: Putu Heri

“Setahu saya, ISIS di Suriah memerangi Syiah kan?” tanya seorang rekan.

Saya agak kaget mendengar pertanyaan tersebut dalam sesi tanya jawab saat presentasi di kelas. Kebetulan, saya mendapatkan tugas untuk menyusun makalah yang berhubungan dengan jihad, dan saya mengangkat fenomena ISIS yang belakangan menjadi topik hangat di masyarakat.

“Tidak mas, kelompok ISIS, baik di Suriah dan Irak, memerangi siapa saja yang menentang mereka. Tidak peduli Sunni, Syiah, Kristen, Kurdi, Druze, atau Yazidi,” jawab saya.

Diskusi kecil di atas adalah sedikit gambaran tentang bagaimana informasi yang diterima masyarakat (termasuk mahasiswa yang identik dengan kaum terpelajar) tidak selalu berimbang. Hingga hari ini, di kalangan mahasiswa pun – masih belum mengetahui secara utuh apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah dan Irak.

Berbagai laporan justru menyebutkan, tidak sedikit jihadis yang direkrut ISIS, berasal dari kalangan mahasiswa. Sebut saja Bachrumsyah atau Abu Muhammad al-Indonesy yang mendadak populer setelah beredarnya video ‘Join the Ranks’. Dari keterangan juru bicar UIN Syarif Hidayatullah, diketahui bahwa Bachrumsyah adalah mahasiswa angkatan 2003 di universitas tersebut. (Tempo, Agustus 2014)

Tentu, Bachrumsyah bukanlah satu-satunya. Bahkan baru-baru ini tersiar kabar, seorang mahasiswi kedokteran asal Inggris juga bergabung dengan ISIS. Mahasiswi usia 21 tahun ini, menyebut dirinya Mujahidah binti Usamah, mengunggah foto di Twitter dengan jas putih—layaknya dokter, dengan burqa, dan tangannya memegang kepala pria yang telah terpisah dari badannya.  Dengan bangga ia menyatakan telah menjadi bagian dari ISIS. (Republika, September 2014)

Laporan yang dilansir inquisitr.com juga menunjukkan, bahwa dari dari sekitar 4.000 jihadis asal Amerika Serikat yang bergabung dengan ISIS, 300 diantaranya adalah anak-anak muda usia kuliah. Sementara itu, laporan gmanetwork.com menyebutkan, bahwa ISIS melakukan upaya perekrutan di Universitas Mindanao, Filipina.

Kesenjangan Sosial Pemicu Lahirnya Terorisme

Fathali Moghaddam, peneliti terorisme asal Georgetown University menemukan psikologis calon teroris, dalam pola anak tangga terorisme.

Siapapun tidak akan menampik, bahwa di Indonesia (dan negara-negara lain pada umumnya) akan selalu ditemukan tingginya kesenjangan sosial, ketidakadilan, ataupun kesewenang-wenangan. Moghaddam menyebutkan, ketika seseorang dihadapkan pada kenyataan ini, maka secara naluriah, ia ingin melawan atau melakukan sebuah perubahan. Ia menghendaki persamaan nilai, keadilan sosial menyeluruh, ataupun sanksi-sanksi yang setimpal. Hal ini tentu bisa dimengerti, apalagi jika melihat para pelaku kejahatan di Indonesia, bukannya mendapatkan hukuman yang setimpal, justru menikmati bisa menikmati fasilitas mewah, hingga potongan masa tahanan.

Lalu datanglah ISIS, dengan berbagai iming-iming yang ditawarkan, seperti; persamaan kedudukan. Dalam berbagai propaganda yang dibentuk oleh media-media pro-ISIS, nyaris selalu mengajak kepada para pembacanya, untuk ‘kembali kepada hukum Allah’, karena menurut mereka, hanya hukum Allah yang memposisikan manusia dalam kesaamaan derajat. Sedangkan hukum buatan manusia, telah banyak diselewengkan. Tentu saja hal ini tidak salah. Realitanya, hukum di negeri kita tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Para koruptor hanya dihukum beberapa tahun penjara, mendapatkan remisi, dan bahkan bisa kuliah S2. Sedangkan rakyat kecil yang jungkir balik mempertahankan haknya yang dirampas – seringkali luput/ diabaikan pemerintah.

Mahasiswa, adalah salah satu pilar dalam masyarakat yang terkenal kritis, menginginkan perubahan, dan vokal. Bagaimana jika kemudian, cita-cita mereka ini menemukan muara – yaitu maraknya perekrutan jihadis – yang menjanjikan sebuah tatanan kehidupan baru — yang lebih adil dan manusiawi? Bisa ditebak, ‘perkawinan’ ini akan melahirkan jihadis-jihadis baru, dari kalangan intelektual.

Moghaddam menawarkan 3 solusi, yaitu;

1) Pemerintah harus memastikan bahwa setiap orang bisa mendaki ke hierarki yang tinggi di masyarakat untuk membuat perubahan. Orang-orang yang kompeten harus bisa mengajukan diri untuk membuat perubahan. Jika masyarakat melihat bahwa masih ada orang yang peduli yang terpilih sebagai pemimpin, mereka tidak akan main hakim sendiri dengan melakukan teror.

2) Pendidikan dan masyarakat harus mengecam pandangan bahwa orang yang berbeda dari kita pantas untuk diserang. Jangan fokus kepada perbedaan, sehingga sistem kemanusiaan yang ada di dalam diri kita akan bekerja saat ada serangan atau ajakan untuk menyerang manusia lain.

3) Keadilan harus terus ditingkatkan dan upaya untuk mencapainya harus bisa diakses oleh semua pihak. Contohnya, dengan diadakannya dialog, kelompok IRA berhasil diajak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Irlandia Utara melalui jalur politik praktis (menjadi partai politik).

Jadi hari ini, penanggulangan bahaya terorisme bukan hanya sebatas pada pembekuan paham radikal, atau penangkapan pada terduga teroris. Itu saja tidak cukup. Harus ada upaya serius dan berkelanjutan dari pemerintah. Hari ini, masyarakat sudah tidak butuh pencitraan lagi. Hari ini, masyarakat butuh kerja nyata dan komitmen tinggi dari pemerintah, untuk mewujudkan keadilan sosial yang menyeluruh. Jangan lagi jurang lebar pemisah antara si kaya dengan si miskin, atau tembok pemisah antara penguasa dengan rakyat. Karena sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Kefakiran sangat dekat dengan kekufuran.”

———–
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL