Geopolitik_Indonesia_Bernama_Wawasan_NusantaraOleh: Ihda Himada Soduwuh

Beberapa bulan ke depan, ratusan simpatisan ISIS akan pulang kampung ke Indonesia. Baik melalui jalur legal maupun selundupan. Anak negeri asli meski berpeluang disusupi. Seperti beberapa warga asing agen ISIS yang ditangkap di beberapa daerah dalam kurun waktu sekian bulan ke belakang. Kolaborasi antara teroris lokal macam Santoso di Poso atau beberapa laskar radikal di kota besar lainnya dengan kelompok taktis didikan Mossad, MI6, dan CIA didukung dana Kerajaan Saudi itu sangat dinanti para analis. Kalau sekarang yang simpatisan ISIS di Indonesia dan takut pergi ke medan perang dunia nyata saja sudah seberisik ini di dunia maya, apalagi jika para teroris pulang kampung itu sudah masuk lingkaran? Hem, isu Sunni-Syiah akan semakin meradang, pemaksaan agama berkedok syariatisasi Islam akan merebak, dan ketenteraman masyarakat jelas akan terusik.

Meski jajaran terkait, baik Polri, TNI, maupun BIN, sudah mencatat ratusan orang berikut sanak keluarganya, tapi langkah nyata belum hadir di lapangan. Kerjasama belum diresmikan ke tingkat pencekalan, hanya pengawasan. Penjaga gerbang perbatasan pun masih belum tahu apa yang harus dilakukan. Sedangkan perburuan beberapa dedengkot teroris di pedalaman hutan sudah menggugurkan banyak pahlawan, entah dari TNI ataupun Polri. Belum lagi kalau istilah teroris diperluas menjadi tak hanya yang beragama Islam, maka angka akan melonjak sejak Papua mendirikan kantor perwakilannya di Kerajaan Inggris. Mengikuti langkah Hisbut Tahrir, wahabi radikal, dan syiah garis keras yang sudah puluhan tahun berlindung di ketiak demokrasi sang ratu terkuat di jagat dunia nyata. Sekian bulan ke depan, organisasi-organisasi yang berpusat di Inggris Raya akan menggelar beberapa agenda di seantero tanah air. Wuih, sudah pasti pihak berwajib akan dibuat kewalahan karenanya. Maka beberapa petinggi negara sudah menjalin kerjasama bawah tangan dengan beberapa organisasi besar di negeri tercinta. Demi mengawal kedamaian di bumi pertiwi, katanya.

Jadi, ayo turun tangan menjadi bagian dari menghentikan upaya pemicu perpecahan antar anak bangsa. Agar negeri ini tak ikut-ikutan membara seperti daerah Timur Tengah. Juga teror bom tak hadir kembali. Mulai dari tak sembarangan membagi informasi, apalagi yang bernuansa kontroversi dan sensitif sifatnya, hingga yang berhenti komentar kalau memang malah membumbui kebencian. Di era gaduh saling merebut perhatian ini, berkatalah yang mendamaikan dan mempersatukan atau cukup diam saja. Semenjengkelkan apapun situasi dan kondisinya.

Bukankah Kanjeng Nabi pun demikian di awal dakwahnya? Beliau tidak menyalahkan siapapun, hanya mengingatkan tentang kebaikan dan kebenaran. Tanpa ngotot lho ya. Bahkan di awal mendeklarasikan dakwah terang-terangan, beliau dan konvoi jalan kakinya malah dilempari batu, dihadang dengan kayu membara di tiap jalan oleh penduduk Mekah yang terusik. Beliau hanya senyum saja meski tubuhnya berlumur darah. Demi tidak terjadi perang saudara. Selain tahu diri karena kalah kekuatan, juga Islam tak mengajarkan untuk menyerang, kecuali mempertahankan diri.

Sesuatu yang dipraktikkan dalam belasan perang yang beliau pimpin langsung. Maka tak ada sejarahnya beliau memimpin penyerangan atas suatu kaum. Sebab bagi beliau lebih penting melawan diri sendiri dengan nafsu yang menempelnya, daripada melawan musuh yang membenci karena belum mengetahui. Mungkin itulah alasan Imam Ghazali justru menulis Ihya Ulumuddin kala Perang Salib menggelora. Alih-alih berjihad melawan musuh, beliau justru mengkampanyekan untuk menaklukkan diri sendiri dulu. Karena rendahnya jihad terhadap keinginan dalam diri mempengaruhi kuantitas maupun kualitas menegakkan kebenaran di luar diri.

Nah, sudah siapkah menyiasati ISIS dan aneka trik media sosialnya? Semoga. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL