Oleh: Ronny P Sasmita*

Politik anak muda rata-rata adalah politik yang cenderung muncul tanpa institusi politik. Aspirasi dan suara lebih banyak mengalir ke beranda-beranda media sosial, dengan rule of the game yang terbilang cukup longgar. Solidaritas dan kohesi sosial digital lebih menonjol dengan munculnya gerakan seperti petisi online atau penggalakan hashtag untuk isu-isu tertentu.

Namun, dalam praktiknya dunia sosial alam maya berkecenderungan untuk menipiskan keberanian dalam menghadapi perbedaan. Misalnya saja, perbedaan pendapat sangat berpotensi berakhir dengan cara pemutusan pertemanan, atau malah saling menjatuhkan. Mengapa bisa? Karena saling tak bertatap muka. Yang satu entah di mana, yang lainya pun demikian. Tapi, suara dan pendapat bisa mengalir di sungai yang sama, yakni sungai alam maya.

Kondisi tersebut sejatinya menjadi tantangan tersendiri bagi institusi-institusi demokrasi, pertama dan utama adalah partai politik dan lembaga perwakilan rakyat. Sekalipun terdapat beberapa lembaga demokrasi, semisal kepresidenan dan yudikatif, toh arah aspirasi dan pendapat lebih banyak kepada kedua institusi yang pertama saya sebutkan. Dan, terkadang kecenderungan semacam itu menjadi ladang tersendiri untuk mendulang popularitas bagi dua institusi demokrasi yang kurang terkena imbas tadi (kepresidenan dan yudikatif)
Pasalnya, pertama, pada tataran makro partai menjadi ajang pembibitan dan penetasan para wakil rakyat, yang punya wewenang mengawasi lembaga-lembaga lainnya. Sekalipun representasi presiden saat ini langsung didapat dari rakyat via pemilihan langsung, toh tidak berarti presiden bebas dari kontrol wakil rakyat. Kedua, adanya perpaduan antara berkembangnya teknologi (yang melahirkan berbagai macam inovasi, termasuk ponsel dan media sosial), dan lemahnya kinerja representasi para wakil rakyat.

Perkembangan teknologi yang secara terus-menerus semakin memersonalisasi berbagai aktivitas sosial, mendekatkan suara-suara dan aspirasi-aspirasi satu dengan yang lain di dunia yang lain pula (maya), tapi merenggangkan kohesi sosial di dunia nyata. Tak ada tatap muka, tak ada adu tarik kuat suara, tak ada ekspresi serius dan bercanda yang tergambar dari mimik wajah, dan lain-lain. Yang ada adalah wajan pertemuan literal dan kata-kata berupa tulisan, kode, emoticonmeme, dan sejenisnya.

Walhasil, sekalipun kata-kata muncul dalam penampakan yang viral, apalagi melenceng dari fakta-fakta yang ada, tingkat akuntabiltasnya menjadi rendah karena tidak bisa secara langsung dimintakan pertanggungjawaban, terutama terkait keilmiahan atau kesahihan sebuah pendapat atau aspirasi. Pendapat bisa terus terviralisasi sebelum terverifikasi, sebelum dibenturkan. Dan, sekalipun kemudian terbukti kurang sahih, proses viralisasinya tetap bisa terus berjalan dan mempengaruhi banyak orang.

Teknologi memang membuat berbagai aspirasi meloncat-loncat begitu saja, tapi kredibiltas dan akuntabilitas sebuah pernyataan menjadi semakin menurun, dan cenderung ahistoris. Orang per orang bisa melakukan searching apa saja dalam rangka menemukan argumen-argumen untuk mendukung pendapatnya, tapi yang didapatkan hanya berupa penjelasan yang tercerabut dari akarnya, bahkan cenderung tidak utuh.

Akan sangat berbeda dengan pendapat yang dibangun oleh sebuah argumentasi lengkap dari sebuah buku yang lengkap tinjauannya misalnya, yang memiliki tinjauan teoritis, kerangka berpikir yang jelas, sistematis, dan ada konteksnya. Kondisi semacam inilah yang pada umumnya menjadi landasan pergerakan politik anak muda.

Lemahnya kohesi membuat integritas generasi muda menjadi rapuh. Solidaritas dibangun di atas landasan selebritas, tanpa ada ikatan kuat yang historical antara satu dan lainnya. Sehingga integritas yang dibangun di atas landasan selebritas tersebut tentu belum teruji secara nyata di dunia yang nyata pula.

Sebut saja misalnya soal korupsi. Memang, generasi muda dikabarkan lebih bersih dari isu korupsi. Tapi, kebersihan semacam itu dibangun di atas narasi yang nonpolitis alias karena anak muda lebih banyak berada di luar sistem yang koruptif. Kita lebih banyak mendengar berita terkait generasi lama yang tersangkut korupsi lantaran mereka memang memiliki kapasitas untuk melakukan itu. Mereka memegang wewenang, atau berkolaborasi dengan pemegang wewenang suatu bidang yang menjadi koleganya, untuk terjadinya korupsi.

Sementara itu, mengatakan bahwa generasi muda sangat kecil potensinya untuk melakukan korupsi cenderung sangat mudah karena kapasitas untuk melakukan itu juga terbilang tidak ada, alias tidak menduduki posisi yang memiliki wewenang tertentu untuk korupsi. Akan berbeda kasus jika terbukti generasi muda sudah berada di dalam sistem, bertampuk di salah satu posisi strategis, lantas membuktikan diri bahwa korupsi tidak mengenai dirinya, kemudian menjadi panutan di dalam institusi tersebut, dan akhirnya mengubah secara keseluruhan kultur wewenang yang ada di dalamnya. Jadi dapat dipahami, mengapa generasi muda lebih cenderung bersih ketimbang generasi sebelumnya.

Di DPR misalnya, ada beberapa anak muda, bahkan sangat muda saat terangkat menjadi anggota dewan, yang sampai hari ini tak terdengar sepak terjangnya. Apa inisiasi politik yang sudah mereka lakukan untuk membuktikan bahwa generasi muda di parlemen adalah generasi yang berbeda secara politik dengan pendahulunya? Saya secara pribadi sama sekali belum menyaksikan itu. Inisiasi-inisiasi generasi muda agar terbebas dari penyakit-penyakit kekuasaan bisa berlangsung karena memang mereka bermain di ranah yang berbeda yang ternyata cukup berjarak dengan kekuasaan.

Kemudian, ada pula satu-dua partai yang muncul untuk merepresentasikan kepentingan dan suara politik anak muda. Sebut saja misalnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Boleh jadi, suara-suara pembaruan merekah kuat dalam sikap partai, tapi saya cukup menyayangkan, karena PSI bermain di isu yang sama sekali tak baru. Isu milenial, antikorupsi, demokratisasi, peran media sosial, dan isu politik terkait generasi muda.

Lantas pertanyaanya, di mana letak perbedaanya? Jika PSI berbicara antikorupsi, hampir semua partai pun berbicara hal yang sama. Saya kira semua orang mahfum bahwa PSI memang belum masuk ke sistem dan belum ikut bertanding. Waktu akan membuktikan kebenaran yang mereka suarakan setelah PSI berlaga di dalam sistem, menduduki pos-pos kekuasaan, dan sejenisnya. Tapi di ranah yang sama sekali menjadi domain anak muda, katakan saja soal inovasi, kebijakan-kebijakan terkait inovasi, soal start up, dan ekonomi kreatif-alternatif saya justru melihat PSI sering absen.

Bukankah ranah ini adalah pembeda yang sangat menonjol dari generasi muda? Jadi di mata saya, apa yang dilakukan PSI adalah memindahkan isu-isu lama ke dalam cara kerja anak muda, seperti bermain di ranah media sosial, bermain kartu politik selebritas agar hype di media media, dan isu-isu lama lainya yang diviralkan melalui media sosial. Lalu apa yang baru? Jika dipatut-patut, yang baru adalah pelakunya karena masih muda. Tapi siapa yang bisa diyakinkan bahwa pelaku baru tidak ditunggangi pelaku lama? Tak ada juga yang bisa memberikan jaminan soal itu.

Pendeknya, generasi muda, milenial dan setelahnya, perlu memetakan ranah gerakannya, mengalkulasi langkah-langkahnya, dan membumikannya melalui cara-cara yang memang sesuai dengan kegenerasian anak muda. Ikut terlibat dengan institusi politik yang ada, lalu ikut mewarnainya, bahkan menyegarkan dengan ide-ide baru, memperbarui yang sudah usang, mengadakan yang belum ada, menambah arah baru yang terlewatkan oleh generasi sebelumnya, dan terakhir memperbaharui berbagai hal di dalamnya, adalah cara-cara yang juga tak kalah baiknya.

Itu semua adalah bagian penting dari institusionalisasi politik anak muda, karena secara nyata akan membuktikan iman-iman keanakmudaan anak muda. Benarkah anak muda antikorupsi, benarkan anak muda punya gaya dan ide baru, benarkah anak muda punya solusi-solusi baru, semuanya akan bisa dijawab dengan cara tersebut. Jadi sebagai anak muda, mulailah pergerakan saling mendukung untuk saling membuktikan diri, dan membuktikan ‘kicauan’ masing-masing. (LiputanIslam.com)

*pegiat kajian ekonomi politik di Economic Action Indonesia (EconAct, disalin dari Detik, 11 Desember 2017.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL