Oleh: Putu Heri

Keputusan Muhaimin Iskandar, yang memilih menjadi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) daripada menjadi menteri dalam kabinet Jokowi, memang patut diapresiasi. Publik tentunya akan menilai bahwa pria yang akrab disapa Cak Imin ini tidak rakus jabatan, tidak nafsu berkuasa, dan sekaligus negarawan. Hanya saja, belakangan timbul pertanyaan,” Mengapa Cak Imin baru mengeluarkan pernyataan tersebut kemarin (21/10), setelah nama-nama calon menteri yang disodorkan Jokowi-JK kepada KPK, mendapatkan feedback, dengan memberi tanda merah dan kuning terhadap beberapa nama?”

KPK memang tidak mempublikasikan nama-nama sosok yang diberi tanda merah dan kuning. Namun, penting bagi kita untuk melihat sepak terjang Cak Imin yang begitu cerdik (kalau tidak bisa disebut licik) dalam melakukan berbagai manuver demi memuluskan langkahnya sebagai politisi.

Meski tumbuh di PKB yang berpaham nasionalis-agamis, Cak Imin tidak ragu-ragu mengkudeta Gus Dur dalam Muktamar Ancol pada 2008. Gus Dur akhirnya memberi wasiat melarang namanya dipergunakan untuk kepentingan politik oleh siapapun yang berlawanan dengan prinsip-prinsip beliau.

Namun, meski telah sukses menyingkirkan Gus Dur, Cak Imin justru menggunakan foto-foto Gus Dur saat kampanye PKB, yang membuat keluarga Gus Dur meradang. Sehingga, suatu hari dalam masa tenang, sebuah baliho besar muncul di pinggir jalan, foto Sang Guru Bangsa dengan kutipan kalimatnya yang terkenal,”Saya saja dikhianati, apalagi sampeyan.”

Demi mendulang suara pada pemilihan legislatif 2014, Cak Imin menggaet tiga tokoh populer: Jusuf Kalla, Mahfud MD, dan Rhoma Irama, yang diusungnya sebagai calon presiden. Dengan kharisma dan basis massa dari ketiga capres tersebut, PKB mempu meraup 9% suara, dari hanya 4,9% pada tahun 2009. (Jawa Pos, 30 Agustus 2014)

Lalu setelah berada di atas angin, Rhoma dan Mahfud ‘ditelantarkan’ dengan alasan realitas politik, sehingga kedua orang ini akhirnya memilih menyebrang ke kubu Prabowo-Hatta. Hanya saja, janji-janji manis Cak Imin kepada Rhoma dan Mahfud, membuat keduanya mengungkapkan dengan terus terang tentang sakit hatinya terhadap Cak Imin. (Mata Najwa, 28 Mei 2014)

Cak Imin Dilaporkan Terkait Dugaan Korupsi

Juni lalu, Cak Imin dilaporkan ke KPK dengan dugaan kasus korupsi oleh Lembaga Pengawasan Untuk Negara Terhadap Virus Korupsi terkait pekerjaan/proyek sistem ketenagakerjaan di Kementerian yang dipimpin oleh Cak Imin, sesuai dengan temuan BPK pada tahun 2011.

Pada tahun 2011, Cak Imin pernah masuk dalam pusaran kasus suap Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur (DPPID). Kasus ini lebih dikenal dengan kasus durian karena uang suap senilai Rp 1,5 miliar yang diduga akan diserahkan pada Cak Imin, disimpan di kardus durian. (Vivanews, 9 Juni 2014)

Saya pribadi, tidak percaya seujung kuku-pun jika seorang Cak Imin, pada akhirnya memilih fokus untuk menjadi ketua umum partai, dan melepaskan kursi menteri di kabinet yang menjadi impian banyak orang. Seorang Cak Imin, sanggup ‘menikam’ Gus Dur, Rhoma, hingga Mahfud, demi kekuasaan. Sangat tidak masuk akal, jika sepotong kue yang diperoleh dengan susah payah, lantas dibuang begitu saja saat sudah dalam genggaman. Hanya satu jawabannya, Cak Imin tidak berdaya dan ‘dipaksa’ untuk mengikhlaskan kursi menteri tersebut.

Dan, siapa yang ‘memaksa’ Cak Imin?

PKB, selaku partai yang mengusung Jokowi-JK pada pilpres lalu, sebagaimana disampaikan oleh Tim Transisi, akan diberikan tiga kursi menteri. Namun Jokowi, yang telah berjanji kepada rakyat untuk mengisi kabinetnya dengan sosok yang bersih, akan mendapatkan perlawanan keras dari rakyat jika dalam perjalanan pemerintahannya nanti, ada pembantu-pembantunya yang ditangkap KPK. Diambillah jurus jitu, untuk menolak sosok-sosok bermasalah dari partai, namun dengan cara yang amat halus, yaitu melalui tangan KPK.

Sepertinya, Cak Imin yang cerdik, harus takluk di bawah permainan cantik wong ndeso.

————-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL