Sukseskan pilpres

Oleh: Khadija, Blogger

Melihat perkembangan Pilpres akhir-akhir ini, saya merasa dibawa kembali kepada Perang Suriah, yang hingga kini masih berlangsung sengit. Bagaimana tidak, foto-foto palsu, manipulasi informasi dan perdebatan sengit yang mewarnai Perang Suriah, kini saya temukan kembali dalam euphoria Pilpres.

Lihatlah bagaimana pihak pemberontak Suriah dengan gencar menyebarkan foto-foto yang terjadi di Palestina, Lebanon, bahkan Brazil, dan menggunakannya untuk propaganda kekejaman Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dalam hitungan menit, informasi tersebut telah menyebar ke seluruh dunia.

Tidak terbatas pada foto palsu, video palsu pun marak beredar. Informasi-informasi yang tidak valid juga memenuhi ruang pemberitaan. Demi menarik simpati, seorang yang disebut “ustadz” menuturkan bahwa jumlah pengungsi Suriah telah mencapai 45 juta jiwa, dan karenanya ia mengajak masyarakat untuk menyalurkan bantuan. Karena yang bicara adalah seseorang yang disebut ulama, tentu saja banyak yang percaya tanpa menyelidiki lebih jauh. Hanya saja, tak lama kemudian terbongkar bahwa klaim si ustadz tersebut palsu. Tidak mungkin pengungsi Suriah menembus angka 45 juta jiwa sedangkan jumlah penduduk Suriah saja hanya sekitar 23 juta jiwa.

Akibat dari berbagai manipulasi ini, muncullah perdebatan sengit di media sosial antara pendukung pemberontak dan pendukung pemerintah Suriah. Indonesia yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Suriah turut terkana dampak. Masing-masing memiliki argumen atas keyakinannya. Hingga Dina Y. Sulaeman, seorang pengamat Timur Tengah menyatakan bahwa Perang Suriah ini telah membagi dunia menjadi dua.

Bahkan Perang Suriah yang juga mengobarkan semangat jihad melawan tiran, menjadikan puluhan pemuda Indonesia yang telah terdoktrin dengan sukarela mengangkat senjata untuk turut menggulingkan pemerintah sah Suriah. Dari laporan Al-Manar, terdapat sebanyak 55 orang yang tewas dalam pertempuran di Suriah teridentifikasi dari Indonesia.

Lalu, bagaimana  dengan Pilpres di Indonesia hari ini?

Saya juga menemukan hal serupa. Setiap hari ada saja manipulasi informasi, foto palsu, keterangan palsu, dan kampanye hitam yang dilancarkan oleh kedua belah pihak. Padahal, masing-masing kandidat presiden telah mewanti-wanti untuk berkampanye dengan cara yang patut, tidak menyebar fitnah, dan menjadikan Pilpres ini sebagai suatu kegembiraan politik.

Namun melihat geliat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, seperti memutuskan silahturahiim dengan temannya hanya karena beda pilihan capres, saya khawatir jika Pilpres ini malah memicu perpecahan.

Din Syamsudin, Ketua Umum Muhammadiyah juga  meminta kepada pasangan capres dan cawapres, serta khusus tim sukses maupun pendukungnya untuk menghentikan berbagai kampanye hitam, apalagi yang berbau SARA. Karena, hal ini sangat potensial untuk menciptakan perpecahan di tubuh bangsa ini.

Dan kekhawatiran itu mulai menjadi kenyataan. Misalnya, seperti kabar dari Liputan6.com, pada tanggal 24 Juni 2014 massa simpatisan PDI Perjuangan dan PPP terlibat bentrok di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentrokan massa pendukung Jokowi dengan Prabowo itu mengakibatkan kerusakan mobil, belasan sepeda motor, dan mebel.

Dan sebelumnya, pada tanggal 15 Juni 2014, seperti dilansir Kompas, dua kelompok simpatisan pendukung Jokowi dan Prabowo nyaris bentrok di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Jika sudah bentrok begini, siapa yang akhirnya dirugikan? Kawan, ingatlah, yang kita hadapi adalah Pilpres, bukan perang hidup mati seperti Suriah. Meski begitu, tak layak jika cara-cara curang yang digunakan dalam Perang Suriah, kini kembali diulang dalam Pilpres Indonesia.

———————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini,  bisa dikirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL