Oleh: Ayudia az-Zahra, Blogger

ahok - pks

Sumber foto: Facebook

Hati saya kembali tercabik ketika di jejaring sosial, diunggah artikel ‘horor’: penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik. Atas nama agama, penganut Ahmadiyah diusik ketenangannya, rumah mereka dirusakkan, dan korbanpun berjatuhan. Adakah kini, agama merupakan pembenaran untuk melakukan tindak kekerasan?

Dan kemudian berulang peristiwa tersebut di pelosok yang lain, Sampang. Akibat perbedaan mazhab, warga Syiah Sampang diusir dari kampong halamannya sendiri. Rumah mereka dibakar, dan korban pun jatuh. Lagi-lagi, itu semua atas nama agama.

Saya teringat pada salah satu ceramah Guru Bangsa alm Gusdur – beliau memaparkan sekilas sejarah nusantara yang pernah bercorak Hindu –Budha sebelum datangnya Islam. Beliau menuturkan, “….sejak jaman dulu kala bangsa kita ini udah macem-macem, ya ngga apa-apa, jangan dijadikan masalah….” demikian tuturnya.  Ah ada setitik kerinduan akan sosok yang penuh kasih dan penghormatan seperti beliau, apalagi di tengah-tengah panasnya kondisi Indonesia saat ini menjelang Pemilu.

Salah satu partai berbasis Islam yang turut berlaga dalam Pemilu, beberapa hari terakhir disorot lantaran melemparkan isu yang berbau SARA terkait dengan pencapresan Jokowi. Reynold Darmansyah, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Gema Keadilan dan Benteng Partai Keadilan Sejahtera terlihat antipati dengan peluang yang dimiliki Basuki Tjahya Purnama (Ahok) untuk menduduki kursi DKI 1 sepeninggal Jokowi. Dari informasi yang beredar, Reynold bahkan berencana untuk menggalang masa dari sejumlah ormas Islam di Jakarta guna mencegah Ahok duduk sebagai Gubernur Jakarta.

Saya sering merenung, apakah tragedi demi tragedi yang terjadi di Indonesia dan dunia yang mengaitkan dengan isu SARA masih belum cukup untuk kita ambil hikmahnya? Kenapa hingga hari ini, tanpa henti isu-isu seperti ini terus menerus dipanaskan? Siapakah yang diuntungkan dari semua ini?

Dikesempatan yang lalu, ketika saya sempat menjejakkan kaki ke Palangkaraya dan bergaul dengan masyarakat asli di daerah tersebut yang mayoritas merupakan suku Dayak, saya pun mengobati rasa ingin tahu saya tentang peristiwa Sampit berdarah beberapa tahun yang silam.

Saya  bertanya kepada orang Dayak baik yang beragama Kristen, Kaharingan (namun di KTP mereka disebut Hindu), dan juga kepada orang Dayak yang beragama Islam, dan versi mereka hampir serupa. Peristiwa tersebut adalah konflik etnis. Antara suku Dayak dan suku Madura. “Jika kamu berbuat baik kepada kami, maka kami juga akan berbuat baik kepada kamu. Namun jika kamu berlaku buruk kepada kami, maka kami akan berlaku lebih buruk lagi kepada kamu. Mereka [suku Madura] menulis di sebuah pintu masuk sebuah desa – dan itu sangat menyakitkan bagi kami, “ begitu pengakuan mereka.

“Apa yang mereka tulis?”

“Mereka menulis ‘Sampang Kedua.’”

Saya memahami perasaan orang-orang Dayak tersebut yang merasa keberatan jika tanah mereka—bukan hanya sekedar ditempati oleh pendatang baru, namun juga si pendatang juga ngelunjak dan tak tahu diri. Itu versi orang Dayak, namun sepertinya mereka tidak berdusta. Bukan saya membela mereka, namun karena selama saya bergaul di sana, saya tidak pernah diperlakukan dengan tidak hormat walaupun kami berbeda  suku dan juga agama. Meski begitu, mereka juga jujur mengakui bahwa mereka sungguh tidak terima jika ‘diinjak-injak’ oleh pendatang baru – yang etnisnya lain pula, dan sambil berbangga hati mereka menyatakan kehebatan suku Dayak bahwasanya mereka bisa ‘mencium’ darah suku Madura hingga tujuh turunan. Entahlah apa maksudnya, tapi saya tidak berharap jika peristiwa kelam itu kemudian diwariskan kepada anak cucu mereka. Warisan dendam hanya akan membawa pada kehancuran, cepat ataupun lambat.

Kembali kepada isu SARA dari PKS terkait Ahok. Wakil Gubernur  DKI tersebut memang cukup empuk untuk diganyang dengan isu SARA, mengingat latar belakangnya adalah seorang Nasrani dari etnis Cina. Gelar yang sering disematkan padanya adalah Cina Kafir, yang dilanjutkan dengan berbagai hujatan dari sekelompok orang/ ormas Islam – yang sayangnya tidak mencerminkan sikap Islami. Sayangnya lagi, sebuah partai besar turut menggoreng isu SARA seperti ini.

Mungkin kita perlu mendengar kembali bagaimana pandangan Ustadz Farid Mas’udi, Ketua Dewan Pembina Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yang menyatakan bahwa Indonesia bukanlah negara agama. Negeri ini adalah bumi Allah yang diciptakan untuk semua umat manusia, apapun agamanya. Sungguh tidak patut jika negeri yang majemuk ini dikapling-kapling berdasarkan agama, ataupun faktor-faktor sekterian yang lain. Di hadapan-Nya, semua manusia adalah sama. Semuanya berhak menginjak bumi-Nya, mereguk air-Nya, ataupun menghirup udara-Nya. Keyakinan yang berbeda merupakan sebuah keniscayaan, dan dikembalikan lagi kepada pribadi masing-masing. Hal itu adalah mutlak urusan dengan manusia dengan Pencipta-nya, yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Namun kita sebagai khalifah  di bumi Allah, kewajiban kita adalah berbuat baik, beramal shaleh untuk diri sendiri dan sesama.

Tak urung hati saya pun memaksa untuk bertanya kepada PKS, dan kepada partai manapun, juga ormas apapun yang menjadikan isu SARA dalam setiap program dan kebijakan mereka, “Hendak kalian bawa kemanakah Indonesia ini? Akankah Indonesia ini kalian Suriahkan? Atau kalian Sampitkan?”

————-

Redaktur menerima sumbangan artikel  untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL