Shalat Jum'at persaudaraan di kota Zahedan Iran, warga Sunni dan Syiah menyelenggarakan shalat

Shalat Jum’at persaudaraan di kota Zahedan Iran, warga Sunni dan Syiah menyelenggarakan shalat

Muslimmedianews (MMN), salah satu portal berita Ahlussunah wal Jama’ah di Indonesia mengulas kondisi Indonesia terkini yang rawan konflik horizontal, akibat gencarnya isu sekterian yang dihembuskan oleh kelompok Wahabi.

Salah satu ustadz kondang di Indonesia, Muhammad Arifin Ilham bahkan secara terbuka telah menyatakan siap untuk berjihad melawan Syiah.

Dalam berbagai analisis yang sering dipakai oleh analis terkemuka di seluruh dunia, kerap dimulai dengan mempertanyakan ‘cui bono’ atau siapa yang mendapatkan keuntungan dari adanya konflik?

Misalnya saja, ketika Indonesia dihadapkan pada perang saudara setelah adanya peristiwa G30SPKI. Presiden Soekarno yang merupakan icon anti Barat dan imperialis akhirnya jatuh, digantikan oleh Soeharto. Selanjutnya yang terjadi, Indonesia ibarat ‘dijual’ kepada Amerika dan sekutunya. Kekayaan alam kita dikeruk habis-habisan.

Jika di masa silam Indonesia menjadikan PKI sebagai ‘musuh negara’ yang harus dibasmi hingga ke akar-akarnya, maka kini skenario serupa telah terulang. Hanya saja, yang menjadi sasarannya bukan lagi PKI, melainkan Syiah.

Apakah Syiah memang halal darahnya? Boleh dibunuh dan dibasmi?

“Secara keseluruhan, umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah Syafi’iyah al-Shufiyyah An-Nahdliyyah, tidak setuju dengan paham Syiah dan Wahhabi. Walaupun kita tidak setuju paham atau ajaran keduanya, tetapi kita berharap orang-orang dari keduanya kembali kepada jalan yang benar. Mari kita do’akan do’akan dan do’akan! Kita tidak ingin mereka mati dalam keadaan Syiah atau Wahhabi, apalagi mati oleh tangan kita, kita tidak terbesit keinginan sedikit pun untuk melakukan hal yang demikian. Kita tetap menganggap mereka sebagai bagian dari Islam, haram darahnya kehormatannya dan hartanya,” demikian dipaparkan oleh MMN.

Jadi, apakah Indonesia darurat Syiah, atau justru darurat Wahabi radikal? Berikut ulasan selengkapnya yang dikutip dari MMN;

Spanduk Anti Syiah yogya

Spanduk Anti Syiah di Yogya

Belakang ini opini-opini yang dihembuskan Wahabi seolah-olah Indonesia darurat Syiah, padahal Indonesia sudah darurat Wahabi. Wahabi membuat Indonesia seolah-olah dipenuhi Syiah, sebab Wahabi-lah yang paling getol gembar-gembor menyatakan Syiah kafir. Mereka juga memasang spanduk anti-Syiah dimana-mana.

Syiah juga seolah-seolah jumlahnya banyak karena Aswaja sebagai umat Islam terbesar di Indonesia dituduh Syiah. Bila penganut Aswaja yang dituduh Syiah maka tentu saja terlihat banyak.

Wahabi secara mutlak mengkafirkan Syiah. Berbeda dengan Aswaja yang masih mengklasifikasi kelompok Syiah. Konsekuensi dari mengkafirkan yang mereka lakukan itu berarti halal darahnya atau boleh dibunuh. Dalam hal ini, Wahabi sedang mencari legitimasi untuk melakukan pembunuhan terhadap Syiah.

Siapa yang akan jadi korban? Korban utama dan terbanyak adalah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), sebab Aswaja sebagai kelompok umat Islam terbesar pun dituduh Syiah dan pembela Syiah oleh Wahabi, akhirnya darahnya dihalalkan pula oleh Wahabi.

Bila sudah dihalalkan maka akan ada aksi bunuh-membunuh. Akhirnya Indonesia kacau, terjadilah konflik sektrarian seperti di Libya, Suriah dan lain-lain yang tak ada ujung berakhirnya. Semoga Allah melindungi negeri kita dari orang-orang jahat.

Kita umat Islam saat ini sudah aman, shalat aman tidak diganggu, tidak ada bom meledak tiap hari, tidak ada bangunan hancur karena bom tiap hari, kita aman pergi ke pasar tanpa takut tembakan, kita aman bersekolah, kita aman mengaji, kita aman bertani, kita aman berdagang, kita aman naik kendaraan, tidak ada bom mobil, kita aman bekerja di kantor, kita tidak mengungsi akibat perang yang tidak berkesudahan.

Maka waspadailah pihak-pihak yang berusaha meng-import konflik sektarian Timur Tengah ke negeri Indonesia yang aman ini. Mengapa konflik sektarian dimunculkan? Siapa yang memiliki kepentingan ?

Dr. Michael Brant, salah seorang mantan tangan kanan direktur CIA, Bob Woodwards yang mengawali adanya kepentingan transnasional dalam menciptakan konflik Sunni-Syiah. Dalam sebuah buku berjudul “A Plan to Devide and Destroy the Theology”, Michael mengungkapkan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta USD untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah. Hal ini kemudian diperkuat oleh publikasi laporan RAND Corporation di tahun 2004, dengan judul “US Strategy in The Muslim World After 9/11″. Laporan ini dengan jelas dan eksplisit menganjurkan untuk terus mengekploitasi perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Syiah demi kepentingan AS di Timur Tengah.

Perlu diketahui, bahwa keberadaan kaum Syiah bukanlah hal yang baru di Indonesia. Namun, seperti layaknya secara umum, di Indonesia hampir tak pernah ditemui konflik sektarian yang melibatkan antara Sunni-Syiah.

Tetapi belakangan ini, mulai muncul konflik sektarian Sunni-Syiah di Indonesia. Bila kita tarik apa yang dinyatakan oleh Michael Brant tersebut ke ranah domestik, maka jelas ada kepentingan di luar SARA yang turut berperan, bahkan mengambil porsi lebih besar dalam konflik Sunni-Syiah di Indonesia.

Jadi sebenarnya ada kepentingan transnasional Barat dibalik konflik sektarian. Kepentingan tranasional Barat ini bersimbiosis dengan kekuatan kelompok Islam transnasional yang kemudian banyak diidentikkan dengan gerakan Wahabisasi global.

رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Redaksi menerima sumbanagn tulisan untuk rubrik Opini, silakan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL