narkobaOleh: Inggar Saputra*

Indonesia adalah negeri surga bagi generasi narkotika dan obat – obatan terlarang (narkoba). Bagaimana tidak, hampir setiap hari media massa memberitakan kejahatan narkoba. Berbagai operasi penangkapan digelar, miliaran uang disita dan puluhan bandar narkoba dijebloskan ke dalam penjara. Mereka dianggap bersalah karena melanggar etika, nilai kemanusiaan dan mempertontonkan kejahatan yang membunuh harapan generasi muda Indonesia.

Tapi adanya berbagai usaha itu belum berhasil menghapus narkoba dari Indonesia. Semakin hari peredaran narkoba semakin menjerat seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak sekolah, tukang ojek, artis sampai pejabat mengonsumsi narkoba. Aturan agama dilanggar dan konstitusi dimarginalkan demi mendapatkan kepuasaan sesaat. Saat ini, hampir tidak ditemukan satu tempat di Indonesia yang steril dari narkoba.

Dari segi peredaran dan lalu lintas sindikat internasional Indonesia sekarang sudah mencapai tingkat kritis dan kronis. Serbuan narkoba bagaikan badai yang meluluhlantakkan negeri.Pada pertengahan Mei lalu, misalnya ditemukan sabu asal China seberat 351 kg senilai sekitar Rp702 miliar yang disita jajaran Polda Metro Jaya.Sabu ini berbahaya karena mengandung racun yang dapat membunuh lebih dari 3 juta jiwa. Dua pekan berselang, giliran Badan Narkotika Nasional (BNN) menyita hampir 1,5 juta butir ekstasi dari China senilai lebih dari Rp400 miliar.

Jumlah ini diperparah temuan dari berbagai daerah dan kalangan aktivisi peduli bahaya narkoba. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI pada 2011, angka prevalensipenyalahgunaan narkoba 2,2% atau setara dengan 4,2 juta orang dari total populasi penduduk Indonesia berusia 10 tahun hingga 59 tahun. Angka prevalensi diprediksikan meningkat menjadi 2,8% (5,1 juta orang) pada 2015.

Sedangkan menurut data Gerakan Nasional Antinarkotika (Granat) menyebutkan bisnis narkoba telah berkembang menjadi tangisan semua komponen bangsa Indonesia. Saat ini sedikitnya 5 juta orang divonis sebagai pecandu dan dalam sehari 50 nyawa terenggut akibat penyalahgunaan narkoba.

Data itu merupakan jumlah narkoba yang muncul di permukaan. Dalam realitasnya, narkoba yang lolos dari pengamatan aparat keamanan dan masyarakat diperkirakan jauh lebih besar. Data BNN menunjukkan 49,5 ton sabu, 147 juta butir ekstasi, 242 ton ganja, dan hampir 2 ton heroin lepas dari jerat petugas sepanjang 2011. Semua ini tidak terlepaskan dari sindikat narkoba internasional. Mereka beranggapan ratusan juta penduduk Indonesia merupakan pasar empuk untuk mengeruk fulus. Tak kurang dari Rp1 triliun setiap hari mereka kantongi dengan tumbal 15 ribu warga Indonesia setiap tahun mati.

Mencari Akar Persoalan

Maraknya peredaran narkoba menandakan Indonesia mengalami kondisi darurat terhadap peredaran barang haram tersebut. Untuk itu, keseriusan pemerintah dan berbagai kalangan sesungguhnya ditunggu untuk menyelamatkan masa depan Indonesia. Pemerintah harus menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat bahwa narkoba merupakan extraordinary crime (kejahatan luar biasa). Sebab selama ini ada beberapa persoalan mendasar di balik peredaran narkoba yang belum tertuntaskan.

Pertama, lemahnya penegakan hukum. Negara sudah mengatur hukuman atas kejahatan narkoba dalam UU No. 7/1997 tentang pengesahan konvensi PBB tentang pemberantasan peredaran narkotika dan UU Narkotika, PP No. 28/2006 tentang Pengetatan Pemberian Remisi kepada narapidana Korupsi, Terorisme, Narkoba dan kejahatan trans-nasional teroraganisir.

Ironisnya pelanggaran terhadap peraturan banyak terjadi di lapangan. Penegak hukum lebih sering bersikap lembek menghadapi keberingasan sindikat narkoba. Masih sering ditemukan hakim memvonis ringan bandar narkoba meski undang-undang sudah mengamanatkan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku kejahatan narkoba. Adanya pengurangan hukuman lima tahun kepada Corby dan masih berdirinya Kampung Ambon, Jakarta Barat sebagai pusat peredaran narkoba menandakan hukum belum berpihak kepada keadilan publik.

Kedua, minimnya pengawasan terhadap kelompok yang rentan terhadap narkoba. Seperti diketahui, penderita dan sasaran narkoba umumnya adalah kelompok generasi muda (remaja). Mereka dijadikan sasaran karena umumnya memiliki kelabilan emosi dan berproses mencari jati diri. Berdasarkan data BNN ditemukan sedikitnya 15 ribu orang remaja setiap tahun menghembuskan nafas terakhirnya akibat penyalahgunaan narkoba dan kerugian negara mencapai Rp50 triliun per tahun.

Ketiga, belum mengakarnya pendidikan karakter dalam kepribadian anak bangsa. Tidak dapat dipungkiri, makin tingginya narkoba salah satunya disebabkan kurangnya pendidikan karakter dari keluarga dan lingkungan. Lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak, kasus kekerasan anak dan perceraian membuat anak melarikan diri kepada barang haram “narkoba” Kondisi akan semakin parah ketika lingkungan di sekitarnya tidak kondusif sidalam pembentukan karakter positif.

Sudahi Saja, Narkoba Itu!

Melihat kondisi tersebut, sudah waktunya seluruh komponen bangsa berjuang tanpa kenal lelah mencegah dan memberantas narkoba dari bumi Indonesia. Pemerintah diminta mengeluarkan peraturan tegas mencegah perkembangan narkoba misalnya pengedar narkoba termasuk jaringan internasional diberikan hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati agar menimbulkan efek jera. Proses edukasi yang informatif berbentuk kampanye harus digalakkan agar masyarakat semakin tersadarkan bahaya narkoba.

Pemerintah juga harus bersinergi dengan kalangan swasta, masyarakat umum, LSM peduli bahaya narkoba dan struktur pemerintahan sampai level RT/RW. Adanya kesadaran kolektif dan kerjasama diharapkan mempersempit ruang gerak pengedar dan bandar narkoba.

Terakhir, dibutuhkan pendekatan pendidikan dan keluarga berbentuk keteladanan dan pengawasan intensif orang tua kepada anak sebagai tahapan awal mencegah peredaran narkoba. Dekatnya hubungan antar orang tua dengan anak dan hubungan antarpertemanan dapat menjadi garda terdepan memerangi narkoba. Pola komunikasi dalam keluarga diusahakan terjadi secara rutin sehingga timbulnya rasa saling percaya sesama anggota keluarga.

*Tulisan ini disalin dari blog penulis  (dengan dihapus dua kalimat himbauan untuk Presiden SBY, karena sudah out of date)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*