Oleh: Muhamad Mustaqim*

Aksi penembakan terhadap jamaah dua masjid di Selandia Baru sungguh menyentak rasa kemanusiaan. Betapa tidak, aksi yang menghilangkan nyawa 49 orang ini dilakukan di dalam tempat ibadah yang suci, dengan menyiarkan secara streaming ke dalam media sosial. Aksi brutal tersebut dianggap sebagai aksi kekerasan terbesar di Selandia Baru, negeri yang selama ini dikenal paling damai dan termasuk 8 besar negara dengan indeks bahagia tertinggi.

Ada dua hal yang bisa kita pahami dari aksi penembakan ini. Pertama, bahwa aksi kekerasan bukanlah persoalan agama. Selama ini, narasi arus utama seringkali menempatkan Islam sebagai penyandang aksi terorisme. Terorisme seakan lahir dari agama. Referensi yang diacu: Peristiwa 11 September di Amerika, Bom Bali, aksi terorisme di Eropa, atau yang paling jelas aksi ISIS di Timur Tengah. Aksi di Christchurch setidaknya menguatkan fakta bahwa tidak semua tindakan terorisme dilakukan oleh muslim. Seorang Kristen berkebangsaan Australia terbukti telah menjadi teroris sadis yang merenggut puluhan nyawa manusia secara biadab.

Kadua, aksi kekerasan sebenarnya lahir dari kebencian. Beberapa fakta seputar pelaku penembakan, Brenton Tarrant menyebutkan bahwa pria 28 tahun ini merasa khawatir akan adanya imigran muslim. Imigran muslim dianggap mengancam eksistensi pribumi, khususnya kulit putih. Kebencian terhadap kelompok tertentu, pada derajat yang paling ekstrem adalah aksi yang sangat tidak manusiawi. Pada tataran yang lebih luas, kebencian ini akan menggumpal menjadi sebuah tata nilai, yang bisa kita sebut dengan ideologi kebencian.

Ideologi kebencian adalah seperangkat keyakinan yang menempatkan kelompok-kelompok tertentu sebagai pihak yang dipersalahkan. Dasar dari kecenderungan ini adalah perbedaan pandangan dan persepsi nilai orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan dirinya dan kelompoknya. Ditambah dengan berbagai stigma, stereotip, hoaks terhadap entitas kelompok lain yang secara perlahan akan padu ke dalam rasa kebencian. Sejarah telah mencatat bahwa berbagai aksi keji kekerasan, dari membunuh sampai genosida, senantiasa diawali dengan rasa kebencian terhadap entitas liyan. Lihat saja bagaimana Hitler membantai komunitas Yahudi yang dianggap “berbeda” dengan ras dan komunitas dirinya.

Saat ini kita dihadapkan pada kontestasi politik yang mengarahkan pada polarisasi dua kutub, 01 dan 02, yang oleh para netizen diformulakan ke dalam terminologi “cebong” dan “kampret”. Saya rasa kedua komunitas tersebut pun sudah dirasuki virus kebencian satu sama lain. Hal ini bisa kita lihat dari masing-masing kutub yang akan mencari pembenar terhadap komunitasnya, sebaliknya melakukan delegitimasi, menganggap salah pada lawannya. Durasi kampanye yang sangat lama ini kiranya berpotensi akan menggumpalkan rasa kebencian.

Rasa kebencian adalah racun yang akan mampu menggerogoti daya imun akan kebenaran. Ia semacam candu yang terus menghadirkan rasa “benar sendiri” sembari mengutuk dan mencaci lawan. Sederhananya, kebencian menyebabkan kita subjektif dan fanatik. Dalam agama kita diingatkan, “Janganlah kebencianmu terhadap satu kaum menjadikan dirimu berlaku tidak adil.” (Q.S 5: 8).

Kita harus bersikap adil, semenjak dari pikiran kita. Jangan biarkan kebencian menjadi ideologi yang akan menggerakkan kita berlaku tidak adil, bahkan sampai melakukan tindakan terlarang, seperti menebar fitnah, hoaks sampai pada kekerasan. Kontestasi politik ini sungguh telah menguji sikap adil kita. Beberapa banyak orang yang akhirnya “kalah” rasa adilnya, mendukung pasangan tertentu, dengan menghilangkan logika dan akal sehatnya. Berapa banyak orang yang pada akhirnya menggunakan cara-cara tidak proporsional, dengan menebar kebencian, hoaks, fitnah hanya demi kepentingan politiknya.

Peristiwa Christchurch cukup menjadi pelajaran bersama, bagaimana kebencian mampu mengikis rasa kemanusiaan kita. Dan kontestasi politik 2019 telah mengaduk-aduk kebencian dan keadilan kita, tinggal lihat mana yang akan memenangkan, keadilan atau kebencian kita. Kita berharap kontestasi demokrasi kali ini tidak lebih adalah pesta lima tahunan yang seharusnya kita sikapi dengan gembira dan suka cita. Jika pun kita hanyut dalam arus kontestasi politik ini, setidaknya itu tidak akan mengikis rasa keadilan dan nurani sehat kita. Dan ketika pesta ini selesai, maka kita akan kembali menjadi “manusia” seperti sedia kala. (LiputanIslam.com)

*dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, disalin dari Detik, 18 Maret 2019.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*