kub-diniOleh: Sumanto Al Qurtuby

Beragama itu seharusnya atau idealnya membuat pemeluknya menjadi lebih melek, cerdas, dan toleran, bukan malah tambah picik, bebal, dan intoleran. Tetapi sejumlah pemeluk dan kelompok agama–lantaran memiliki semangat fanatisme an berlebihan (hiper-fanatisme)–terkadang berpikiran dan bertindak layaknya orang-orang dungu dan bebal.

Hiper-fanatisme ini memang 11-12 dengan kebebalan. Klaim-klaim sejumlah kaum zealot dan fanatik seperti tanah Betawi, Minang, Aceh, Melayu, atau Arab sebagai “Tanah Islam” dan dengan begitu orang Betawi, Minang, Aceh, Melayu, atau Arab yang bukan Muslim dianggap “menyalahi kodrat Tuhan” dan karenanya harus minggat dari daerah-daerah ini hanyalah sekelumit contoh dari kebebalan dan intoleransi itu. Hal ini sama persis dengan klaim-klaim sejumlah kelompok Kristen fanatik dan Islamophobis di Barat yang menganggap Barat adalah “Tanah Kristen” dan karena itu kaum Muslim harus enyah dari Barat.

Apakah kalian lupa bahwa Betawi, Minang, Melayu, Aceh, Arab, atau Barat sudah ada sebelum lahirnya Islam atau Kristen? Bukankah Islam, Kristen, atau agama apapun pada hakekatnya adalah para tamu di negeri-negeri ini yang seharusnya menghormati tuan rumah?

Tugas utama kaum Muslim (atau umat agama manapun) bukanlah untuk mengislamkan atau mengagamakan orang lain. Tugas umat beragama bukanlah untuk menghimpun pengikut sebanyak-banyaknya. Bukan pula untuk membangun tempat ibadah sebanyak-banyaknya. Saya yakin dan percaya, Tuhan tidak membutuhkan pengikut dan tempat ibadah. Saya juga percaya bukan tempat-tempat ibadah yang megah atau pengikut agama yang membeludak yang membuat Tuhan bahagia.

Tugas utama agama, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk berpartisipasi dan berkontribusi memperbaiki moralitas manusia yg jahat, korup, dan serakah, merestorasi jalan pikiran manusia yang picik dan bebal, mengubah sikap-sikap manusia intoleran menjadi toleran yang sadar dengan keanekaragaman masyarakat dan budaya. Singkatnya kehadiran agama adalah untuk menyulap dan menolong umat manusia dari “alam kegelapan” menuju “alam yang terang-benderang” penuh pencerahan, melalui sikap ramah terhadap umat manusia dan alam sekitarnya. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL